TEENAGE DEATH STAR | SURI | POWER PUNK
24 JUNI 2011 - RENEO CAFE CIUMBULEUIT
ARTIKEL
GIG REVIEW; LIGA MUSIK NASIONAL #2*
*(liputan ini diposting ulang dari Rushreviewer.tumblr.com)
Liga Musik Nasional (Limunas) kembali bikin ulah. Setelah sebelumnya berhasil memporak-porandakan Reneo Cafe bersama Rajasinga, Vrosk dan Kelelawar Malam, ternyata teror belum berhenti untuk diumbar. Hari jumat (24/06) teror kedua kembali dikumandangkan, Liga Musik Nasional #2 menjadi tajuk malam itu. Line-upnya pun tak kalah menyiksa: Powerpunk, Suri dan Teenage Death Star dipaksa untuk membumihanguskan Reneo Cafe untuk kedua kalinya.
Bertempat di ruang bawah tanah Reneo Cafe, tempat lesehan yang biasanya digunakan untuk menonton sepak bola ini disulap menjadi arena bersenang-senang dengan panggung diujung ruangan. Acara yang dijadwalkan mulai pukul 6 sore harus molor dua jam hingga pukul 8 malam. Bukan masalah besar, hal itu terlihat dari jumlah penonton yang bahkan belum bisa dibilang penuh ketika acara mundur satu jam.
Powerpunk menjadi pembuka pesta malam itu. Memainkan crust punk cepat ala Discharge dan Amebix, kumpulan pria berumur itu sukses menggelontorkan 17 lagu dalam tempo setengah jam lebih. Sang vokalis sesekali melafalkan lelucon sunda sambil menghina anak punk yang menggunakan Blackberry. Puncaknya adalah sang bassist yang berlarian menuju kumpulan penonton untuk merangsang moshpit. Liar.
Apabila Powerpunk diibaratkan sebagai anjing Rottweilers yang agresif, maka Suri adalah Siberian Husky, tenang tapi siap gigit. Trio stoner rock asal kota Jakarta yang sempat menelurkan satu buah EP ini hadir dengan balutan distorsi berat, nada-nada rendah dan aura psikedelia yang menusuk. Persiapan mereka bisa dibilang matang, checksound yang cukup makan waktu dan terasa perfeksionis serta dibantu deretan peralatan mewah macam bass Rickenbacker 4003 dan Gibson Melody Maker warna marun ciamik yang memanjakan mata.
Membuka dengan “Magenta”, yang sayangnya sempat terhenti oleh gangguan sound dan putusnya senar. Satu per satu nomor-nomor prima dari EP “Kisah Kasih Lokalisasi” dibawakan. Dengan permainan dan tempo yang rapi juga terjaga, seolah semakin menegaskan bahwa mereka bukanlah band sembarangan. Doddy Hamson (vokalis Komunal) sempat di culik ke atas panggung untuk diajak berduet membawakan “Pelacur Tua” dari Duo Kribo, sampai akhirnya Suri menutup penampilan dengan “Aku vs. Aku” yang hadir di “Gurun Nestapa” , split mereka dengan Serigala Jahanam.
Naik panggung sekitar pukul sepuluh lewat, Teenage Death Star pantas disebut sebagai pemilik malam itu, tak terbantahkan. Sir Dandy (vokal), Alvin (gitar), Helvi (gitar), Iyo (bass) dan Firman (drum) datang membawa diri dan peralatan tanpa harus berlama-lama checksound. “Gitar saya belum di-setem nih, perlu di-setem ga ya?” tanya Alvin sembari bercanda pada penonton, yang tentu saja memberi respon sesat untuk langsung main. “Fuck checksound, fuck nye-tem!” Alvin kembali membuat statement setelah meminjam pick gitar pada salah satu penonton.
Tanpa tedeng aling-aling, “Super Lover” langsung dikebut sebagai pemanas penampilan. Berturut-turut “All That Glitter’s are Not Gold”, “21st Century Boy”, hingga track pamungkas “Absolute Beginner Terror” dijejal tanpa ampun. Bukan tidak bisa ditebak, Reneo Cafe pun memanas sampai Sir Dandy harus berbagi mic dengan penonton.
Gerombolan pemburu moshpit tak ayal lagi berdansa ria malam itu, teriakan sing along bergemuruh kencang. Penonton yang tadinya adem dan tenang di sepanjang acara, mau tak mau harus larut dalam atmosfer yang diciptakan Teenage Death Star. Alvin juga terpaksa merelakan Staratocaster hitam-putihnya menjadi bulan-bulanan penonton. Hanya Helvi dan Iyo yang terlihat cukup tenang malam itu, Firman jelas tidak bisa kemana-mana dibalik set drumnya, bahkan ketika salah satu simbalnya harus jatuh tersenggol Sir Dandy.
Hingga “I’ve got Jhonny in My Head” ditahbiskan sebagai persembahan terakhir, penonton pun masih ingin meminta lebih. “Udah dong, capek nih, udah mau bulan ramadhan” Sir Dandy memohon ampun sambil berkelakar. Berkah dari gig kecil seperti ini adalah penampil tak akan kuasa menampik permintaan encore penonton, sekalipun stok lagu sudah habis. Begitupun dengan Teenage Death Star, sebuah lagu dari Black Flag akhirnya benar-benar dijadikan sebagai sajian terakhir malam itu, dengan para personel yang sudah dalam posisi duduk tidak beraturan karena lelah.
Wajah-wajah penuh keringat satu per satu keluar dari Reneo Cafe, beberapa mengobrol dengan suara yang hampir habis. Setelah hampir dua jam menikmati euforia pesta tanpa kasta, kini saatnya kembali ke dunia nyata. Saya yakin bukan hanya saya yang berpikir bahwa semangat ini harus tetap berjalan dan diteruskan. Biarpun lama membawa perubahan, setidaknya bisa menjadi penangkal dinginnya malam di kota Bandung.
Fight for your right!
Wahyu
DOKUMENTASI FOTO
DOKUMENTASI VIDEO