TEMAN SEBANGKU | MELANCHOLIC BITCH : MENUJU SEMESTA
31 MEI 2013 - IFI BANDUNG
ARTIKEL
Publikasi Melancholic Bitch: Menuju Semesta (31 Mei 2013)
LIGA MUSIK NASIONAL mempersembahkan:
Melancholic Bitch: Menuju Semesta
dibuka oleh Teman Sebangku
Jumat, 31 Mei 2013
19.30 – selesai
Auditorium IFI Bandung (CCF) – Purnawarman 32 Bandung
Jl. Purnawarman 32, Bandung
Tiket Rp 35.000 (on the spot Rp 50.000)
bisa didapatkan di Omuniuum (Jl. Ciumbuleuit no. 151 b lt.2, depan Unpar)
info lebih lanjut:
email: ligamusiknasional@gmail.com
twitter:@limunas & @omuniuum
Bersama-sama Kita Menuju Semesta
Nama konser menuju semesta dipilih karena tema perjalanan cukup menjadi bagian penting dari tema musik Melancholic Bitch, baik itu di album perdana mereka, Anamnesis (yang sekarang dirilis ulang sebagai Re-Anamnesis) maupun “album cinta pesisir” Balada Joni dan Susi.
Terakhir tampil di Bandung pada tahun 2000, itupun hanya muncul sebagai pengiring performance art salah satu penampil di pasar seni ITB, tampaknya sudah saatnya mereka diculik untuk mempunyai panggung sendiri di Bandung.
Mengapa perlu menunggu selama lebih dari tiga belas tahun untuk tampil di Bandung? Pertanyaan itu terjawab jika tahu keseharian dari para personil Melancholic Bitch. Sudah sejak lama band ini dikenal dengan kesibukan masing-masing personilnya. Ugoran Prasad, vokalisnya, sibuk bolak balik menimba ilmu ke luar negeri selain tentunya bekerja sebagai pengarang, peneliti pertunjukan dan belakangan juga menjadi direktur program Teater Garasi. Yosef Herman Susilo, sang gitaris, sibuk menjadi bapak dari dua anak dan menjual kemampuan merancang sound untuk banyak pertunjukan seni di Jogja. Yennu Ariendra, selain sebagai gitaris dan penanggung jawab departemen synth pada Melancholic Bitch, juga punya kesibukan utama sebagai komposer dan music director berbagai karya teater, selain juga bermusik bersama Belkastrelka. Richardus Ardita yang bertanggung jawab di departemen Bas juga punya band bernama Shoolinen selain Individual Life, di tengah kesibukannya sebagai web-designer. Septian Dwirima, dikabarkan sedang hiatus dengan musik untuk berkonsentrasi untuk perjalanan spiritualnya. Kabar hiatus ini juga terdengar dari Wiryo Pierna Haris, sebab gitaris ini sedang berada di negeri Paman Sam untuk waktu yang cukup lama. Peta kesibukan personil Melancholic Bitch memang terdengar begitu riuh; tapi ini bukan alasan yang mencegah kita untuk menculik mereka.
Rencana penculikan ini sebetulnya sudah hampir terjadi tahun lalu jika saja saat itu mereka jadi manggung di Jakarta. Sayangnya, mereka batal manggung dan kami di belum punya cukup amunisi untuk menculik mereka langsung dari Jogja. Obrolan tentang ini juga sudah muncul sejak dikabarkan Ugoran sedang pulang kampung ke Jogjakarta. Titik terang muncul saat tim dari Liga Musik Nasional yang juga ikut dalam kesibukan konser Mitos Melankolia akhirnya berhasil menemui seluruh personil dan punya kesempatan untuk berunding soal jadwal untuk penculikan mereka ke Bandung. Perundingan yang berlangsung sangat ketat meski singkat menghasilkan tanggal 31 Mei 2013 jadwal mereka kosong. Itu pas dengan hari raya konser Limunas yang selalu diselenggarakan pada hari Jumat.
Selesai dengan perundingan jadwal, venue ditentukan di IFI Bandung. Direktur IFI Bandung saat ini, M. Louis Presset ternyata punya antusiasme yang besar untuk menyambut dan beradaptasi dengan hal-hal baru dan skena di Bandung. Beliau dengan senang hati membuka pintu IFI untuk Limunas menyelenggarakan konser.
Selanjutnya, amunisi. Bagaimanapun, konser apalagi skema penculikan band dari luar kota tentu membutuhkan amunisi yang tidak sedikit. Disini, Limunas dibantu oleh Djarum Black Mild yang bersedia menjadi sponsor utama. Dukungan juga datang dari Omuniuum, Maternal Disaster dan Kongsi Jahat yang merupakan sindikat utama dalam penculikan Melancholic Bitch.
Setelah itu, mencari teman untuk mengantarkan kita dalam bertemu Melancholic Bitch, Limunas memutuskan untuk mengajak Teman Sebangku yang dengan kesederhanaannya merangkum musik manis untuk ikut bersama nanti berjumpa Joni dan Susi di konser Menuju Semesta. Selain itu, mungkin saja partner menyanyi Melancholic Bitch yang muncul di konser Mitos Melankolia juga akan muncul di lagu Sepasang Kekasih yang Pertama Bercinta di Luar Angkasa.
Masih mau menunggu hitungan hari, bulan, tahun atau entah berapa lama lagi untuk menyaksikan mereka tampil di Panggung?
Kami dari Liga Musik Nasional mengundang teman-teman semua untuk bersama-sama dengan kami, Menuju Semesta bersama Melancholic Bitch.
Sampai jumpa di venue, selamat bersenang-senang!
Salam hangat,
Liga Musik Nasional
Noktah Pada Semesta Melancholic Bitch
Sebuah catatan dari seorang teman baik kami, Lambang, untuk mengantar kalian Menuju Semesta
Pamflet itu kecil saja, tak lebih besar daripada lipatan koran. Warnanya merah menyala, dengan gambar perempuan dibalut pakaian ketat serta seekor anjing di kakinya. Di bagian atas kepala perempuan itu terpampang tulisan “Melancholic Bitch – βSatin Merah.”
Ya, itu adalah pamflet untuk mengumumkan perhelatan konser kecil band yang waktu itu diawaki Ugoran Prasad (vokal), Yosef Herman Susilo (gitar, programmer), dan Teguh Hari (bas) di Lembaga Indonesia Perancis, Yogyakarta, 31 Maret 2004. Sedangkan βSatin Merah (baca: Beta Satin Merah) adalah tajuk konser itu. Sebuah judul yang gagah dan mengundang tanya.
Pada tahun itu, konser tersebut terbilang berani. Nama Melancholic Bitch masih relatif asing bagi warga Yogyakarta. Mungkin hanya kalangan tertentu saja yang tahu. Yang menyukai, tentu lebih sedikit lagi. Terlebih lagi, band ini belum mengeluarkan album penuh. Dan mereka memainkan musik pop berbalut elektronika yang kurang lazim.
Pamflet itu adalah buah tangan dari konser berdurasi sekitar satu jam itu. Selain pamflet, saya membawa pulang mini album mereka Live at Ndalem Joyokusuman, yang dijual terbatas di sana. Album itu berisi empat lagu, yaitu “Departemental Deities and Other Verses”, “Requiem”, “Kartu Pos Bergambar Jembatan Golden Gate San Francisco”, dan “On Genealogy of Melancholia”.
Sesuai judul albumnya, materi album itu berasal dari konser di Ndalem Joyokusuman, sebuah pertunjukan di teras rumah keluarga keraton Yogyakarta pada 2003. Melancholic Bitch tampil membuka rombongan band dari Jakarta, yaitu Vessel, Zeke and The Popo (ZATPP), dan Lain. Belasan tahun kemudian, Leonardo Ringo, vokalis Vessel dan pendiri ZATPP, mengenang pertunjukan hangat itu sebagai salah sau konser yang sulit ia lupakan.
Bagi saya, pertunjukan di keraton dan βSatin Merah adalah dua catatan penting pada masa awal band yang mulai aktif sejak 1999 ini. Lagu-lagu yang terekam dalam pertunjukan di keraton itu adalah semacam janji bahwa Melancholic Bitch bakal mengeluarkan album. Mereka meneguhkannya kembali pada konser βSatin Merah itu. Album penuh bertajuk Anamnesis didengungkan akan segera lahir. Tapi “segera” versi mereka adalah setahun lamanya.
Pada 2005, Anamnesis benar-benar mewujud. Formatnya kaset, dikeluarkan oleh label rekaman Love Records. Empat lagu di album live itu bersanding dengan tujuh tembang lainnya. Sejak membelinya di sebuah distro yang dikelola Marzuki Kill The DJ, Anamnesis hidup lewat tape compo di kamar saya. Sesekali saya mendengar lagu paling cerah “Tentang Cinta” diputar di radio.
Namun mengharapkan mereka beraksi di panggung, sama melelahkannya dengan mengharap penangkapan otak penculikan aktivis di penghujung rezim Soeharto. Seingat saya, pesta peluncuran album, yang kini lazim dilakukan band bermodal besar maupun kecil, pun tidak mereka gelar. Melancholic Bitch kembali senyap dari hingar-bingar pergerakan musik bawah tanah yang saat itu sedang menggeliat.
Kabar baik itu hadir lagi pada 2007-2008 saat saya sudah merantau meninggalkan Yogyakarta dan sedikit mengubur keinginan menyaksikan aksi panggung mereka. Sekitar 10 lagu baru Melancholic Bitch beredar di internet. Kelak, lagu-lagu ini mengisi album penuh kedua mereka, Balada Joni dan Susi yang beredar mulai 2009.
Seluruh lagu di album kedua ini menjalinkan kisah tentang sepasang kekasih, Joni dan Susi, yang melansir kritik terhadap semesta yang dipadatkan dalam televisi. Melancholic Bitch dan orang-orang di belakangnya memperlakukan album ini lebih layak dibandingkan Anamnesis. Pendistribusiannya lebih luas. Bisa jadi karena sarana jaringan musik independen sudah jauh lebih baik, dan media sosial sangat riuh.
Mereka juga menggelar konser perilisan album, yang salah satunya dipentaskan di kantung seni Teater Salihara, Jakarta. Nama mereka mulai dilirik media massa arus utama. Alhasil, pendengar mereka pun semakin banyak. Terpesona dengan album Balada Joni dan Susi, para pendengar baru ini penasaran dengan Anamnesis yang entah masih ada atau telah merupa jadi mitos.
Tapi bukan Melancholic Bitch namanya kalau tidak menguji kesabaran pendengarnya. Mereka sempat memutuskan berhenti mendongengkan kisah Joni dan Susi di panggung karena kesibukan berkesenian para personilnya. Ditambah lagi, sang vokalis, Ugoran Prasad memilih melanjutkan pendidikan di luar negeri. Melancholic Bitch kembali merunduk.
Pada Juli 2011, ketika Ugo rehat dari sekolahnya, Melancholic Bitch berkumpul di panggung. Mereka berbagi pentas dengan band Armada Racun dalam acara bertajuk Keracunan Ingatan di Langgeng Art Foundation, Yogyakarta. Atmosfer acara ini agak janggal. Ada rasa senang menyaksikan kembali dua band yang jadwal pentasnya tidak terlalu agresif ini. Di sisi lain, konser itu juga merupakan “ajang pamitan” kedua band. Armada Racun hendak hiatus untuk menyelesaikan album kedua, dan Melancholic Bitch melanjutkan masa rehatnya karena Ugo akan masup sekolah lagi.
Tapi persetan dengan itu semua. Pendengar terus menanti Melancholic Bitch kembali. Permintaan untuk melepas ulang album Anamnesis semakin kencang didengungkan. Pendengar seolah tak rela band ini hilang begitu saja. Bisa jadi karena mustahil memaksakan pentas tanpa kehadiran Ugo, Melancholic Bitch memilih menata ulang (remixing) Anamnesis.
Hasilnya sudah mulai bisa didengar pada April 2013. Anamnesis berinkarnasi dalam nama Re-anamnesis. Tampilannya jadi lebih segar dengan imaji gajah karya mukamalas. Susunan lagu tak berubah. Tapi entah kenapa mereka menghilangkan tembang “My Feeling For You”. Tembang lirih itu diganti dengan versi lain lagu “Requiem”, yang kini hadir lebih menyayat-nyayat. Musisi elektronik Wvlv dan Bottlesmoker mempersembahkan interpretasi mereka atas lagu “The Street” dan “Tentang Cinta”.
Peluncuran album ini sudah dirayakan di Yogyakarta awal Mei lalu dalam acara bertajuk Mitos Melankolia. Namun acara itu rasanya belum cukup. Melancholic Bitch beserta Anamnesis yang sudah berwujud Re-Anamnesis dan Balada Joni dan Susi harus dipentaskan di Bandung.
Beruntung pula unit Liga Musik Nasional berhasil membujuk kawanan ini untuk menyisihkan waktunya berpentas di Kota Kembang. Saya yakin, konser mereka di Bandung 31 Mei menjadi noktah baru dalam bentangan hidup Melancholic Bitch. Lagipula, mereka belum pernah tampil utuh di Bandung sejak mengiringi salah satu penampil di ajang Pasar Seni ITB, 13 tahun silam.
Saya hendak membuktikan bahwa konser berjudul Menuju Semesta nanti sama pentingnya dengan konser βSatin Merah, yang pamfletnya saya simpan sebagai cendera mata itu. Terakhir, sebelum menyusun tulisan ini, saya meminta adik saya yang masih tinggal di Yogyakarta untuk memfotokan pamflet itu. Jawabannya singkat,”Sudah dibuang bapakmu!” Asu ik!
Herlambang Jaluardi
Menjadi penggemar Melancholic Bitch saat menyaksikan aksi mereka di ajang Parkinsound #3 di Stadion Kridosono, Yogyakarta, Juli 2001.
MENUJU SEMESTA | Saat Melancholic Bitch bercerita tentang Joni dan Susi.
*(tulisan ini diposting ulang dari riszkymfahreza.tumblr.com)
Seandainya perkataan Soseki Natsume di buku “Tower Of London” tentang betapa kita jangan sampai mendatangi satu tempat khusus lebih dari sekali, karena hanya akan merusak memori kita di tempat tersebut saya turuti, maka saya sendiri tidak akan datang lagi ke konser melancholic bitch seumur hidup.
Seandainya saya orang baik, yang tidak tega mendengar kenyataan tentang Joni yang mati dipukuli karena mencuri roti, dan Susi yang mati dicekik busung lapar berulang-ulang. Saya tidak akan pernah lagi datang ke konser melancholic bitch.
Tapi saya tidak akan menuruti perintah Soseki, dan saya bukanlah orang baik.
Di satu sore, di sudut kota bandung, tepatnya di Institut Francais Indonesia, terdapat kerumunan orang. Dan saya adalah bagian dari kerumunan itu, yang datang, mengorbankan waktunya untuk mendengar cerita tragis tentang orang pinggiran yang mati dikhianati nasib dan dibunuh jaman.
Hari itu, melancholic bitch bersedia mengisahkan tragedi joni dan susi pada manusia-manusia yang ingin mendengar. Setelah tiga belas tahun, mereka akhirnya sudi juga datang ke tempat yang dipenuhi corat-coret tembok dan geng motor ini.
Terlambatnya acara mulai tidak menghadirkan keluh dan amarah, terlambat satu jam tidak ada apa-apanya dibanding penantian selama bertahun-tahun. Sekitar pukul delapan, pintu Amphitheater dibuka. Saya sendiri langsung mengincar posisi di depan panggung. Acara dibuka oleh Teman Sebangku, yang dengan manisnya berhasil mengcover lagu “Debu Hologram”nya melancholic bitch.
Lalu panggung menjadi gelap, penonton berdiri dan merapat ke depan, bersama-sama menceritakan intro dari Balada Joni dan Susi. Lalu sang pendongeng, Ugoran Prasad, masuk. Disusul oleh Yennu Ariendra yang memainkan keyboard. Sang pendongeng membacakan beberapa bait puisi dari Departmental Deities and Other Verses, A General Summary karya Rudyard Kipling, sementara Yosef, Richardus, Wiryo dan Faiz muncul.
Lagu kedua mereka, Kartu Pos dari Jembatan Golden Gate di San Fransisco diambil dari puisi Sapardi Djoko Damono, di susul dengan lagu Bulan Madu. Disini, suara saya sudah habis, bersama-sama menceritakan kepedihan Joni dan Susi yang ingin berdayung sampan di kanal-kanal Venesia.
Disusul oleh 7 Hari menuju semesta yang menceritakan ikrar Joni dan Susi sesudah melarikan diri, dan tawa susi akan ke-klise-an Joni di lagu Tentang Cinta. Mereka lalu berlari, mengikuti jalan, berlari mengikuti jalan bersama lagu “The Street”, lalu melbi menarik salah satu pendengar untuk berkisah bersama mereka di lagu “Distopia”.
Di lagu “Requiem” Joni dan Susi mengulang kembali ikrar mereka jika mereka mati. Kemudian Ugo dkk mulai membawa pendengar ke barisan tragedi. Susi dan Joni lapar, mereka mencakari tembok dan perut mereka. Menggigiti kuku. Mencakari tembok dan menggigiti kuku hingga kenyataan mereka menjadi kisah untuk lagu “Debu Hologram”.
Sial, sungguh sial. Nasib yang sial dan jahat, membawa jari lemas mereka menekan remote dari sebuah kotak terjahat di dunia. Dan penonton dan pendongeng mengutuk kotak itu, dan stasiun-nya yang bergambar elang dan bernomor satu. Dan kami berteriak, menyanyikan “Mars Penyembah Berhala”, dan kenyataan pahit bahwa siapa yang masih membutuhkan imajinasi jika kita sudah punya televisi.
Dan Susi kelelahan, Joni dengan baiknya menyuruh Susi tidur, seperti melbi yang menyuruh pendengar beristirahat sepuluh menit dengan lagu “Nasihat yang Baik.”
Di saat itu saya dihadapi dilema, haruskah saya duduk dan membunuh euforia, keluar untuk kehilangan tempat di depan panggung, atau tetap berdiri dan dicap sebagai orang tidak sabaran. Dan dengan kaki gemetar, akhirnya saya duduk.
Setelah sepuluh menit yang saya harap tidak akan pernah berakhir, pendongeng masuk, menceritakan Joni yang lari ke supermarket, untuk mencuri roti bagi Susi yang kelaparan. Ia dibujuk oleh dinding-dinding yang berpropaganda. Lalu seorang gadis manis masuk, duduk di atas keyboard. Frau telah datang, bersama-sama berkisah tentang betapa roti yang dicuri oleh Joni tidak jauh berbeda dengan apel yang dimakan Adam, dan menjatuhkan ia dari surga. Ia ditangkap, dipukuli sampai mati. Tidak ada ambulans, ambulans berubah menjadi stasiun tv yang tidak akan berhenti sampai seluruh jiwa di muka bumi telah membusuk di lambungnya yang membuncit.
Lalu pendongeng menceritakan cinta Joni dan Susi di “Off Her Love Letter”. Dan Frau memainkan tuts-tuts di keyboardnya, sambil menyanyikan “Sepasang Kekasih yang Pertama Bercinta di Luar Angkasa.” Di tengah lagu, muncul lagi sesosok wanita, Risa Saraswati. Bersama-sama mereka bernyanyi di lagu terakhir Frau dan Risa hari itu.
Ah, kotak jahat itu mengisahkan kisah Joni dalam lima belas detik. “Akhirnya Masup Tipi.” Kisah tentang Joni yang mati dipukuli, Susi yang digerogoti busung lapar, dan pemerintah yang tidak pernah bisa mengeja.
Lalu apa ? Susi mati, Joni dipukuli, dan kita semua yang menonton hanya akan membaca berita berjalan yang berdurasi lima detik, dan pemberitaan busuk yang memiliki nyawa sepanjang lima belas detik, mengubah tragedi Joni dan Susi menjadi statistik, “Kita Adalah Batu.”
Pendongeng berpesan, bahwa Joni dan Susi dan kami semua yang hadir, termasuk pendongeng, bukan hanya, dan tidak akan pernah menjadi sebatas Noktah pada Kerumunan.
Lalu kisah tragis Joni dan Susi diakhiri dengan lagu Menara, tentang Joni dan Susi yang membuka ladang Apel, lalu mendirikan menara yang tinggi, mungkin mereka ingin menuntut Tuhan atas nasib mereka.
Dan begitulah, cerita berakhir. Lampu bernyala, setlist diperebutkan. Lalu saya mencari pianis yang biasa memanjakan telinga saya dikala lampu-lampu jalan mewarnai malam untuk sebuah foto. Dan bertemu langsung dengan salah seorang dari tim pendongeng yang menjadi dorongan saya untuk menulis.
Hari Jumat, tanggal 31 Mei menjadi sejarah. Sebuah legenda membagi kisahnya pada kami yang sudah mulai muak dengan kotanya sendiri. Saya sendiri sering mendengar album terkonsep, tapi baru kali ini saya menonton konser yang terkonsep sedemikian rupa,dengan narasi-narasi yang menghanyutkan, dan ugoran prasad yang mencoba memunculkan kata-kata di udara sesak auditorium, sehingga merubah konser menjadi semacam story-telling atau entah apa itu namanya, dan membuat seisi tubuh konser memiliki arti, bukan hanya sekedar pelepas rindu.
Lalu kami, pendengar ditinggalkan dengan sebuah pertanyaan, “Jahatkah kami jika kami ingin mendengar lagi kisah tragis Joni dan Susi ?” Mungkin iya, tapi itulah kenyataannya, karena jika kita menutup mata dari kisah itu, kita lebih jahat lagi. Mungkin Susi harusnya mengajari kita untuk mengeja.
Review | LIGA MUSIK NASIONAL IV: MENUJU SEMESTA*
*(liputan ini diposting ulang dari omuniuum.net)
Tadinya saya pikir Benji ngga jadi nulis review ini. Ternyata jadi dan begitu dibaca isinya membuat bungah. Untuk kali ini foto meminjam dari dokumentasi Liga Musik Nasional. Mari dibaca.
Salam,
Boit
p.s. soal urutan Limunas, ini memang limunas ke-4 karena Rajasinga Launching itu special show jadi hitungannya baru 4.
Liga Musik Nasional IV: Menuju Semesta
Lebih dari tujuh hari pasca Liga Musik Nasional Ke-4, yang hanya mempertunjukkan dua penampil saja diselenggarakan. Saya baru saja memilih untuk mengisahkan ulang, hanya agar cukup terbebas dari euforia yang melenakan. Masih sangat segar dalam ingatan ketika intro “Joni dua satu dan Susi sembilan belas..” berkumandang sembari Ugo sebagai narator (dia terlihat tua) dan Yenu (keyboardis/gitaris) memasuki panggung. Saya terkesima.
Kembali ke sekitar setengah jam sebelumnya, saya bersama beberapa kawan tiba di venue bernama IFI, yang dari wujudnya semakin mempertegas perbedaan dengan tiga seri Limunas sebelumnya. Duo dari Teman Sebangku memulai acara dengan vokalis yang bernyanyi dengan bergairah plus bonus mengkover satu lagu dari Melancholic Bitch, Debu Hologram, dengan apik. Diselingi panduan oleh MC dari Bottlesmoker, tidak lama kemudian, gambaran yang saya tulis di paragraf pertama terjadi.
Saya terkesima, sekitar empat tahun semenjak pertama mendengarkan, baru kali ini menyaksikan wujud mereka, Melancholic Bitch. Waktu yang cukup panjang untuk ukuran band lokal, dan favorit. Di antara Intro dan lagu pertama, sang narator hanya membolak-balikkan halaman sebuah buku, belum berbicara apa-apa, seantero ruangan hening, mulai merasakan kehadiran mereka. Departemental Deities And Other Verses yang bertempo lambat dihadirkan, dan dipertengahan lagu, keseluruh personil mulai mengisi posisi masing-masing. Melbi telah datang.
Kartu Pos Bergambar Jembatan Golden Gate San Fransisco langsung dipersembahkan dan erangan Ugo pada bagian ‘Matahari menggeliat..’ diiringi kualitas sound dan sorotan lampu-lampu yang mengawali kemegahan Menuju Semesta. Sekaligus mengawali merindingnya bulu tengkuk saya untuk kembali berulang di beberapa waktu selama dua jam berikutnya. “Joni dan Susi punya mimpi, mimpi jalan-jalan..” tukas sang narator. Kisah getir Joni dan Susi dimulai di Bulan Madu yang melaju kencang dan membuat seorang kawan mengakui matanya berkaca-kaca seketika. Diselingi On Genealogy Of Melancholia, untuk giliran mata saya yang berkaca-kaca, akibat terintimidasi untuk mengenang hal-hal yang ditimbulkan oleh analogi, “Jika aku Israel, kau Palestina’ di Tujuh Hari Menuju Semesta yang pada saat bersamaan menjadi salah satu titik tertinggi konser.
Kisah berlanjut dan memelan, “kita klise, tapi benar, ini tentang cinta”, dilanjutkan dengan The Street dan Distopia. Saya cukup penasaran dengan lagu ini usai membaca review-review terdahulu mereka tentang keseruan ketika lagu ini dibawakan bersama pesinden Silir Pujiwati (yang malam itu tidak ikut serta). Alih-alih, Melbi malah mencari volunteer dari penonton demi berduet di lagu ini. Saya sempat berpikir “wah, sembarangan banget” untuk segera tidak ambil pusing usai melihat Ugo menunjuk seorang cewek berkaos “Susi”, yang mana saya malahan tidak mendengar jelas suaranya entah karena dia begitu gugupnya atau sound yang tidak keluar sempurna, karena Ugo terlihat berkali-kali mengangkat tangan ke arah mixer. Yang jelas Distopia, seperti halnya lagu-lagu mereka yang lain, menjadi jauh lebih berenergi (pecah!) ketika dibawakan di panggung yang tepat. Apalagi pada bagian ‘disko’ nya.
“Bahkan janji tak bisa hidup selamanya, mereka janji membawa kisah mereka sampai mati”, Requiem, dilanjutkan ke “seandainya segala impian bisa diwujudkan, seandainya segala debu hologram bisa diwujudkan”, sebelum kemudian lagu mereka paling terkenal (ini tentunya asumsi saya saja), dihantarkan ke depan hadirin Limunas. Yep, Mars Penyembah Berhala, yang melegenda itu. Saya, sebagaimana mayoritas penonton, ikut berteriak melafalkan deretan lirik lugas nan ganas, sembari sang narator menuturkan orasinya dengan berapi-api, dan mengacungkan tinju ketika ia menyelesaikan kalimat “telah pepat dalam 14 inci!”
Meski tampak di barisan depan ada beberapa penonton yang terlihat khidmat berheadbang-ria, sayangnya hasrat saya untuk memprakarsai moshpit atau sekedar bodysurfing sepertinya tetap tidak mungkin terlaksana. Maka, jejingkrakkan seperti menyaksikan pertunjukan rock sudah, bergoyang pelan dan bersing-along di lagu-lagu yang ngepop sudah, apa lagi? Melbi menutup sesi pertama Menuju Semesta dengan mengajak seluruh penonton duduk, untuk kemudian Ugo duduk di tepi panggung (sambil beberapa kali kesetrum mikrofon), melantunkan Nasihat Yang Baik “ssst.. Susi sedang tidur” dan menghilang sekitar 10 menit di belakang panggung.
Selama interval 10 menit, ditayangkanlah sebuah film pendek bertemakan art kontemporer (sepertinya, sih) karya Riana Rizki dan trailer Di Balik Frekuensi. Lalu, Melbi kembali ke panggung dengan kostum rapih mereka telah berganti sekedar kaos dan jeans. Tembang-tembang dari Balada Joni dan Susi dilanjutkan, diselingi Off Her Love Letter yang menghadirkan Frau sebagai pemanis formasi sekaligus lawan sepadan bagi suara berat sang narator. Saya yang sebelumnya tidak berminat untuk mereka-reka di bagian mana Risa Saraswati akan muncul, lumayan dibuat kaget, ketika ternyata bukan Frau saja yang menemani Ugo dalam mengisahkan Joni dan Susi adalah Sepasang Kekasih Yang Pertama Bercinta Di Luar Angkasa. Tidak cukup sampai di situ, saya juga dikejutkan dengan adanya salah satu lagu dari EP mereka terdahulu, Kabar Dari Tepi Atap Pencakar Langit, dengan versi yang jauh lebih menggelegar.
Beranjak sebentar dari kisah saya tentang kisah konser tentang kisah sepasang kekasih tersebut, sejak sesi pertama, saya sudah menyadari Menuju Semesta sebagai salah satu konser terbaik (lokal maupun internasional) yang pernah saya saksikan langsung. Bagaimana saya masih mengingat detil-detilnya (karena lumrahnya euforia malah mengikis kenangan saya), adalah karena saya sukses memperoleh rangkaian tiga helai kertas bernama Performance Breakdown, yang berisi setlist dan skrip pertunjukan ini (yeah). Lalu terlintas begitu saja, usai melihat penampilan mereka pada tingkatan seperti ini (yang dieksekusi maksimal), seketika saya merasa tidak ingin menyaksikan mereka di gigs yang biasa-biasa saja.
Kembali ke penghujung Mei, di dalam gedung IFI, pasca 18 lagu yang dibawakan tanpa ampun, Melbi tampak sudah keletihan, namun mereka harus tetap merampungkan Kisah Joni & Susi dengan tiga lagu lagi yang cukup menguras tenaga, Kita adalah Batu, Noktah Pada Kerumunan, dan diakhiri dengan Menara, dimana Joni mengajak Susi pergi, dan membuka lahan kebun apel seperti Tuhan, yang pada penghujungnya dimainkan dengan atmosferik diwarnai dengan lampu-lampu strobo yang memancarkan kilauan-kilauan menyilaukan sekaligus mematri kisah memilukan sepasang kekasih dalam sebuah performa yang gemilang.
Mengutip kata-kata dari mereka, kalian menggores kami dalam-dalam.
(words Benjing/Photos: Limunas)
Catatan Kecil dari konser bertajuk #menujusemesta
Seseorang cubit aku di pipi, jika semua ini hanya dan hanya mimpi. –
Mars Penyembah Berhala
Semua orang yang dekat dengan saya tahu akan kegilaan saya terhadap mereka. Lagunya selalu ada terselip di setiap playlist yang disusun oleh saya untuk diputar di Omu sehari-hari. Mereka tahu, saya selalu mengusahakan “pulang” ke Jogja demi menonton mereka setiap kali ada pentas besar. Mereka pula yang akhirnya memberi seluruh perhatiannya untuk mewujudkan keinginan yang asalnya hanya mimpi, menjadi nyata.
#MenujuSemesta. Kalau kemarin kalian melihat ada seorang perempuan sibuk mondar-mandir kesana kemari, berbaju hitam, memakai rok pendek, legging dan boots, memakai stiker bergambar gajah dengan tulisan “anggota rombongan menuju semesta”, itu saya. Melihat dia berpelukan, tertawa, bicara dengan banyak orang saat di luar dan di dalam auditorium IFI Bandung, berteriak-teriak dan mungkin kalian bisa melihat banyak ekspresi haru di wajahnya saat menonton konser dan kalau ada yang bilang padamu saya berteman dengan vokalis dan gitarisnya semenjak tahun ’99 sudah pasti, itu saya.
Saya sudah tidak usah lagi menulis soal betapa sulitnya mengundang mereka main, soal betapa bagusnya mereka main di setiap konser yang saya tonton karena mereka main dengan sepenuh hati malam itu. Saya sudah tidak usah bercerita kalau sepanjang tiga minggu persiapan konser saya sampai mimpi sebanyak 3 kali soal konser itu, dua berhasil, satu mimpi konsernya gagal total.
Saya juga tidak usah menulis lagi soal betapa bangganya saya terhadap kolektif Liga Musik Nasional yang walau sedang ditinggal ketua gengnya ngamen ke kota Malang mampu menunjukkan bahwa musik tidak dibatasi oleh genre. Soal betapa senangnya saya saat saya berpelukan dengan direktur IFI Bandung mengucapkan terima kasih untuk kesediaannya memberi tempat untuk ide gila groupies pecinta Melancholic Bitch dan juga ucapannya malam itu didalam auditorium saat konser berlangsung, “Congratulations, your concert is Perfect!”
Saya lupa berapa kali saya berpelukan malam itu. Karena setiap orang yang hadir disana malam itu untuk saya ibarat amunisi kemenangan walikota, satu suara sangat berarti, katanya. Dan banyak disana malam itu juga adalah teman yang berbagi kegilaan bersama, bertahun-tahun berjumpa dengan Melancholic Bitch di berbagai tempat, berbagi informasi dan mungkin juga banyak diantaranya yang ingin tahu, kenapa saya tergila-gila pada mereka.
Semua orang yang malam itu hadir didalam auditorium yang panas karena tiga pendingin ruangan ternyata tidak cukup mendinginkan hawa, akan mengamini bahwa mereka menuntaskan sebuah janji malam itu. Tampil dengan setlist penuh 21 lagu. Performa yang apik. Ucap kata yang tertata karena memang memakai naskah drama. Sound, lighting dan visual yang mendukung semua yang mereka lakukan di panggung, kejutan bintang tamu, saya tidak bisa meminta lebih dari apa yang mereka lakukan malam itu untuk kami semua yang menonton pertunjukan.
Euforianya masih berlangsung sampai sekarang. Ucapan terimakasih mulai terasa berlebihan karena diucapkan terus menerus, kekaguman juga tak habis-habis, rasa haru masih saja selalu menghampiri.
Tapi seperti tradisi konser yang bagi saya sangat hebat, saya harus menulis ini.
Untuk Mas Ojie dan Gufi Kongsi Jahat Syndicate yang juga manajer Melancholic Bitch dan Frau beserta rombongan manajemen Melancholic Bitch yang saya hapal semua mukanya tapi tidak tahu nama lengkapnya jadi saya tidak bisa tulis satu persatu, kalian tahu siapa kalian, terima kasih banyak.
Untuk Ugoran Prasad dan Yossi Herman Susilo. Saya cuma inget ketemu kalian pertama kali tahun 1999. Saya sudah lupa alasan kenapa saya suka sama Melancholic Bitch, saya cuma ingat saya ngefans berat. Maaf merepotkan kalian dengan kecerewetan adik perempuan yang cinta sama abang-abangnya. Mata saya berkaca-kaca saat kalian satu persatu naik ke panggung malam itu.
Luqman pak manajer yang baik hati tapi masih mencari jodoh, Dolly pemain gitar dan Sarita sang pendendang dari keluarga Teman Sebangku, terimakasih untuk bersedia ikut serta dalam kegilaan malam itu. Kalian berhasil mengantarkan kami dengan manis dan juga untuk Debu Hologram, lagu favorit saya dari album Anamnesis.
Terima kasih untuk Riana Rizki dan Risa Saraswati, dua adik perempuan yang sama kerennya. Riana untuk membantu tim dekor yang konsepnya berubah setiap kali bertemu tapi akhirnya jadi hutan jamur dan dedaunan yang bagus juga untuk film pendeknya. Risa untuk bersedia menyanyikan lagu Sepasang Kekasih yang Pertama bercinta di Luar Angkasa meskipun sedang sakit gigi dan juga bolak-balik tempat kerja, sekarang saya punya satu versi lagi dari lagu itu selain milik Frau dan itu salahmu.
Leliani Hermiasih, Frau. Neng, malam itu milik kamu ketika Apel Adam dilantunkan, Off to Her Letter sampai Sepasang Kekasih selesai dan kamu meninggalkan panggung. Terimakasih ya.
M. Louis, pak direktur IFI yang serius sekali mukanya, Ricky Arnold, Bagus dan Abu, tuan rumah IFI Bandung yang sangat baik hati membantu semua persiapan, pelaksanaan dan membereskan semua keberantakan yang kami timbulkan, terimakasih.
Angkuy dan Nobie untuk coolbox dan Duo MC dadakan yang di todong H-1 dan juga Agam dari keluarga Bottlesmoker. Si Teteh ngerepotin aja ya. Haha. Nuhun pisan!
Mas Anton Gendel, juru kunci sound system Melancholic Bitch, saya masih punya hutang ngajak makan di Poka Tiam. Kapan-kapan! 🙂
Akbar Killafternoon untuk jagain visual. Tanpa briefing, bikin panik, untungnya berhasil. Makasih bro, hantu! 🙂
Aris Nugraha, terakhir masih protes soal siapa dia di limunas, kamu udah masuk jadi anggota keluarga. Salah sendiri pindah kosan ke Manteron.
Agan Ahsan dan keluarga Maternal Disaster. Terima kasih untuk tshirt dan kerjasamanya. Kalau ada proyek lagi, bantuin lagi ya.
Prihatmoko Moki, yang punya artwork bergambar gajah di album Re-anamnesis, seandainya malam itu kamu hadir, kamu harusnya ikut foto bersama bandnya di depan baligo. Terimakasih untuk merelakan si “Gajah” menjadi simbol perjalanan #menujusemesta
Tim kru Omuniuum, Tina, Ivan, Yuyun Soni ditambah Indra #littleomu, kerja kalian malam itu keren! Terimakasih untuk jadi garda depan #menujusemesta, jaga lapak merchandise dan disuruh ini itu. Saya tahu kalian juga bergantian masuk auditorium menonton konser malam itu. Terimakasih untuk berbagi kesukaan dan bekerja bersama. Tanpa kalian #menujusemesta pasti berantakan.:)
Wikupedia. Wiku, teman setia nonton konser, untuk membatalkan kepergian ke Jakarta, kesediaan menjadi tukang jaga pintu masuk. Saya mau jujur, yang paling penting untuk saya sebetulnya adalah membuatmu beralih dari patokan pertunjukan Melbi di gedung bawah tanah Tempo. Saya menang. Nonton Melbi kemaren itu orgasmenya malah lebih dari nonton Mogwai. Haha.
Herlambang. Harusnya kita sudah bertemu semenjak Beta Satin Merah ya Bang, lagu kabar dari atap pencakar langit lunas. Saya baru tahu lagu itu akan dibawakan pada pagi hari tanggal 31, mencarimu saat lagu itu dibawakan tapi ngga’ ketemu. Terimakasih untuk tulisanmu, saya suka. 🙂
Budi Warsito untuk tulisan tentang nasihat yang baik, terimakasih.
Nasrul, Feransis, ada peribahasa yang bilang teman baik tidak akan menghentikan perbuatan gila temannya tapi malah akan bergabung dengannya. Kalian pikir sendiri apa artinya, terus saya cuma mau bilang, kerja kalian meskipun seperti biasa selalu berisik nan mengganggu, bagus banget. Hampir blunder dicoret diakhir acara! 🙂
Morgan, untuk mampir dan pergi lagi janji balik lagi tapi ga muncul lagi, saya baru ingat kamu mau pulang kampung dan pasti saat itu muncul untuk pamitan. Terimakasih untuk menampakkan muka. Kapan balik Bandung wak?
Bapak sama ibunya anak-anak, terima kasih untuk datang mampir dan juga untuk menampung semua cerita dan membantu memfasilitasi ide-ide gila kami. Ngga usah sebut nama ya pak, Bapak juga tahu ini ditulis untuk bapak, saya pamit dulu nonton konser ya pak, bu, Maaf ngga nganter ke depan pas pulang. Makasih. 🙂
Mas Trie, penentu kebijakan Omuniuum dan Liga Musik Nasional. Pas lagu sepasang kekasih saya nyari kamu, trus pas liat muka kamu, kamu lagi terharu sambil nyanyi. Tadinya saya mau manggil kamu tapi ngga jadi. Makasih untuk nemenin sejauh ini. 13 tahun. Saya ketemu mereka sekaligus ketemu kamu. Maaf kebawa-bawa mas. Saya tahu kamu ngerti maksud saya apa. Juga untuk anaknya, Bunga Putri Raditha yang ikut bantu masukin tiket ke amplop. Saya adalah orang paling beruntung di dunia karena punya kalian.
Untuk Felix Dass, diet atau olah raga. Harus. Bener kata kamu, saya menang besar.
Doddy Hamson, ketua geng Limunas, malam itu saya dengar dari unboundkill kalau abang gelisah karena harus pergi ke Malang sementara Limunas lagi punya acara. Balasan SMS laporannya oke banget. Limunas gitu loh. Tos!
Untuk geng Sarasvamily yang hadir malam itu dan berubah jadi pasukan melankolia, cerewetnya aja yang tetap. Haha. Makasih!
Tim Sorge yang membantu dokumentasi video dan Ighe yang membantu dokumentasi foto, terimakasih!
Seluruh media partner yang membantu. Gigsplay, Jakarta Beat, Pamit yang2an, Info Bandung, dan media lain yang ikut menyebarkan berita tentang perjalanan ini.
Djarum Black Mild. Baru kali ini Limunas punya baligo. Baru kali ini limunas punya tiket yang super bagus. Intinya banyak yang baru untuk Limunas kali ini. Terimakasih untuk memaklumi kegagapan kami dan kerja sama dan juga komprominya. Terimakasih untuk menyediakan kendaraan #menujusemesta.
Semua teman, keluarga yang malam itu hadir di IFI Bandung dan tidak bisa saya sebutkan satu persatu, untuk pembeli tiket, untuk yang beli merchandise, untuk bersama-sama menyanyi bersama dan menikmati setiap detik dari #menujusemesta. Kalian yang memberi energi untuk membuat semua ini hidup dan memungkinkan untuk diteruskan. Terimakasih.
Kamu, yang malam itu berhalangan hadir, saya tahu kamu ikut mendoakan ini semua, terima kasih dimanapun kamu berada.
Sampai jumpa di Liga Musik Nasional berikutnya.
Boit
Bagian keluarga ajaib Omuniuum, kolektif Liga Musik Nasional dan penggemar Melancholic Bitch. Untuk dia, mengerjakan konser ini sangat personal maka kemudian tulisan ini juga personal sekali. Ini semua tentang kepercayaan dan dia percaya teman-temannya punya kekuatan super pemberian Tuhan untuk mengabulkan semua keinginannya.
Dengan tulisan ini menyatakan kalau seorang fans bisa bikin gigs keren bersama band pujaannya, terutama kalau band pujaan dan seluruh pendukung konsernya percaya kalau mereka satu keluarga.
DOKUMENTASI FOTO
DOKUMENTASI VIDEO