KOMUNAL
11 OKTOBER 2013 - IFI BANDUNG
ARTIKEL
Liga Musik Nasional
Komunal – Gemuruh Musik Pertiwi
IFI Bandung – Purnawarman 32 Bandung
Tiket: Presale: Rp 35,000
On The Spot: Rp 50,000
*tiket terbatas hanya untuk 250 penonton, presale bisa didapatkan di Omuniuum.
***
ini musik kami
berkumandang liar megah
mewarnai hidup
takkan pernah terbeli
keyakinan ini bagai cinta yang abadi
membangun pusara
hingga dibawa mati
dalam nada bagaikan besi
simbol perlawanan atas nama seni
Rock Petir – Komunal
Membaca begitu banyak review dan cerita tentang Komunal yang kami cari di Internet, sedikit demi sedikit kami memahami bahwa banyak orang yang suka dengan musiknya, kagum pada apa yang telah mereka hasilkan, tapi tidak benar-benar banyak yang tahu penampilan penuh Komunal seperti apa.
Mereka tidak pernah mengadakan pesta rilis untuk setiap albumnya, baik itu Panorama, Hitam Semesta dan Gemuruh Musik Pertiwi yang sampai sekarang kami juga tidak tahu alasannya. Sudah banyak permintaan untuk mementaskan Komunal dan sebetulnya kami juga tergoda. Diam-diam, di benak sebagian tim Limunas, Komunal termasuk dalam daftar band yang harus kami tampilkan.
Limunas pertama, kedua, ketiga dan seterusnya sampai Limunas terakhir di IFI pada Mei lalu, Komunal belum juga mendapatkan kesempatannya. Sampai tiba-tiba Doddy Hamson, vokalis Komunal yang juga merupakan tim inti Limunas, setelah pertunjukan limunas bersama Melancholic Bitch, meminta agar Komunal dipentaskan di IFI.
Dalam hati kami bersorak, tidak perduli siapa meminta siapa, kami hanya berpikir bahwa ini harus dikerjakan. Kami kembali bergerilya, kembali menapaki kemungkinan-kemungkinan tentang siapa saja yang bisa digandeng untuk bekerja sama dan juga mengumpulkan sumberdaya untuk mewujudkan panggung bagi Komunal.
Tajuk konser “Gemuruh Musik Pertiwi” diambil dari album ketiga Komunal dipilih karena inilah yang paling mewakili Komunal secara band, yang seluruh tema karyanya tidak berangkat jauh dari kehidupan keseharian dalam bermain musik dan juga secara konsep untuk limunas yaitu mengusung band lokal untuk mendapatkan panggung yang menyenangkan sebagai arena bermain dan juga untuk penonton yang ingin berinteraksi penuh dengan band yang mereka sukai.
Berjanji untuk menyajikan lebih dari 15 lagu, tampaknya ini adalah set panjang pertama bagi Komunal. Artinya pertunjukan ini juga merupakan kesempatan pertama bagi para penggemar Komunal untuk menyaksikan mereka bermain dengan waktu lebih dari satu jam, tanpa band pembuka.
Sebelum berjumpa di tanggal 11 Oktober 2013 nanti di IFI Bandung, kami sampaikan rasa terimakasih kami untuk M. Louis Presset yang dengan baik hati masih mengijinkan tempatnya untuk dipakai berpesta, Riandy Karuniawan untuk desain dan ilustrasinya yang luar biasa, Omuniuum, Maternal Disaster dan terutama untuk Djarum Super yang telah bersedia untuk berbagi sumber daya demi menghidupkan Limunas.
Pertunjukan ini kami persembahkan untuk kalian semua, pecinta rock n roll, demi berkibarnya heavy metal. Sampai jumpa di arena pesta!
Salam hangat,
Liga Musik Nasional
======
Profil Komunal:
Band yang di bentuk di Bandung pada tahun 2004 ini memainkan musik Blues Rock Heavy Metal. Sudah mengeluarkan tiga album yaitu Panorama (2004), Hitam Semesta (2008) dan Gemuruh Musik Pertiwi (2012), mereka banyak mendapat pujian dan tempat di hati dan telinga para pendengarnya.
Pada tahun 2008, Hitam Semesta masuk daftar album terbaik dan tahun 2012, Hitam Semesta juga masuk daftar cover terbaik versi majalah Rolling Stone Indonesia. Kemudian pada ajang Indonesia Cutting Edge Music Awards (ICEMA) mereka mendapatkan penghargaan untuk kategori Best Rock/Hard Rock Song dan best album untuk lagu dan album yang bertajuk sama, Gemuruh Musik Pertiwi.
Komunal adalah Doddy Hamson (vokal), Muhammad Anwar Sadath (gitar), Arie Khomaini (bass), and Reza HK (drum). Sementara posisi Arie Khomaini yang absen karena kesibukannya digantikan oleh Arief Tri Satya atau dikenal juga dengan nama Arief Snik.
“Di sini uang dan politik tak ada artinya…”
– Gemuruh Musik Pertiwi
Lagu perlawanan itu membahana dengan begitu kencang. Saya menempatkan diri di sudut sebuah ruangan yang begitu familiar dengan seorang yang pelan-pelan mulai menggoyangkan ruas kepalanya. Sebelumnya, orang ini sama sekali belum pernah mendengarkan musik Komunal. Mendengar namanya saja belum, malah. Tapi, lagu perlawanan itu berhasil membuatnya sedikit larut. “Lumayanlah,” katanya selepas konser.
Komunal memainkan pertunjukan paling panjang sepanjang sejarah musik mereka. Total ada 20 lagu yang dimainkan plus 2 lagu yang diulang karena permintaan penonton. Hampir semua familiar dengan musik Komunal, kecuali orang-orang seperti tandem nonton saya tadi atau segelintir polisi yang sedikit salah kostum dan masuk ke dalam ruang pertunjukan.
Liga Musik Nasional (Limunas) menjadi tuan rumah dengan kategori terbaik untuk Komunal. Terlepas dari memang punya keterkaitan sejarah dengan band ini, malam itu Limunas berjalan dengan luar biasa. Teramat luar biasa.
Saya dan si tandem tadi datang khusus dari Jakarta, saya mengambil cuti dari pekerjaan di kantor. Karena memang memindahkan diri dari Jakarta ke Bandung di sebuah hari Jumat dengan ruang waktu pulang kantor adalah sebuah kemustahilan. Harapan fana namanya kalau memaksakan diri. Bisa jadi, waktu 3 jam hanya membawa orang Jakarta dari tengah kota ke Bekasi. Jadilah, sekalian saja saya mengambil cuti. Supaya tidak terbebani dengan aransemen waktu yang gila itu. Niatnya hanya satu: Menyaksikan Komunal bermain dengan set panjang.
Sesampainya di IFI, sekitar 20 menit sebelum pukul 20.00, waktu yang tertera di jadwal pertunjukkan, saya berpapasan dengan sejumlah orang yang sudah kehabisan tiket. Mereka mengantri alokasi waiting list untuk tiket yang sudah dibook tapi belum diambil oleh si pemilik. Wajahnya asing, bukan mereka yang biasa ditemui di acara-acara sejenis. Bukan juga massa metal atau rock yang biasa hilir mudik di konser-konser musik cadas Bandung.
“Massanya beda, Lix,” kata Boit, teman dekat yang juga salah satu orang yang terlibat penyelenggaraan acara ini.
Bermain di pusat kebudayaan asing yang ramah –tidak seperti At America yang penuh dengan paranoia— rasanya sedikit mengendurkan urat ketegangan di dalam diri saya. Selepas bertegur sapa dengan sejumlah orang teman, saya segera mengarahkan diri masuk ke dalam ruang pertunjukan.
“Cepetan, Lix, ada seremoni pembukaannya,” kata Boit lagi. Boit hari itu terlihat seperti ibu asrama yang menggiring siswanya untuk masuk ke dalam ruang pengarahan penting. “Gue cuma pengen semua nggak kelewatan openingnya, seru deh,” tambahnya lagi.
Saya menuruti. Begitu juga dengan puluhan orang yang masih ada di luar. Nonton musik di IFI (dahulu CCF), itu sedikit tricky. Ruangan konsernya bagus, lumayan bisa memberikan kondisi intim antara mereka yang main di panggung dan mereka yang menonton. Tapi, saking sempitnya itu, membuat kita harus memilih mau apa; apakah ingin sedekat mungkin dengan panggung atau melihat dari kejauhan.
Saya memilih posisi favorit, di sekitar mixer front of house. Bukan apa, tidak ada niatan untuk terlibat di dalam moshpit malam itu. Saya menyukai Komunal sejak album pertama mereka, tapi tidak begitu punya hasrat untuk larut jingkrak-jingkrak dan membagi energi dengan orang-orang yang mungkin lebih punya tenaga.
Benar saja, adegan pembukanya seru. Layar turun dan ada intro sedikit sebelum kemudian raungan gitar mulai berbunyi. Konser dimulai.
Doddy Hamson, Sadath, Ai dan pemain bas tamu Arief Snik membakar malam itu dengan sinergi dahsyat yang mereka punya. Semua umpan dari atas panggung dimakan oleh penonton yang memang mencintai mereka sepenuh hati.
“Wah, ini yang datang kenal semua. Komunal nggak punya fans, tapi Komunal punya teman,” kata Doddy Hamson di suatu masa malam itu. Tapi, apapun namanya, tidaklah penting. Yang paling penting adalah kesediaan untuk mau bernyanyi dan membagi energi.
Semua lagu dari Gemuruh Musik Pertiwi dimainkan. Begitu juga beberapa lagu dari Panorama serta Hitam Semesta. Permainannya sendiri luar biasa hebat. Tipe musik pake elemen hati yang besar. Dan karena cairnya komunikasi antara Komunal sama penontonnya malam itu, semuanya jadi semakin sempurna.
Bagian interaksi Doddy Hamson yang kikuk menjadi highlights dan sedikit adegan menarik napas berulang yang efektif. “Sebentar ya, kita ambil napas dulu,” ujarnya beberapa kali di antara jeda lagu.
Atau ketika ia dengan cuek bilang, “Katanya di sini nggak boleh ngerokok. Tapi saya boleh ya? Supaya mantap nyanyinya.” Ia mencari pemakluman dari penonton untuk melakukan ritual standarnya itu.
Dan menyaksikan pertunjukan seperti itu selalu menyenangkan. Scene independen Indonesia selalu punya ruang untuk menghadirkan keintiman model begini, kita semua hanya perlu giat bekerja keras untuk mampu melakukan pengulangan terhadap apa yang sudah terjadi ini.
Dan juga, Limunas akan jadi salah satu agenda penting untuk saya. Mungkin sudah mulai menyamai tarafnya Superbad di Jakarta.
Komunal memainkan 22 lagu total malam itu. Malam berakhir anti klimaks karena keinginan penonton untuk mendapatkan lagu tambahan tidak dipenuhi. Pasukan Perang dari Rawa, anthem andalan Komunal mengakhiri malam itu. Di depan saya beberapa orang polisi mengawasi gerak-gerik orang yang keluar dari ruangan untuk mencari udara segar.
Adegan selanjutnya, saya menemukan diri saya di posisi yang sama dengan beberapa puluh orang yang masih tersisa di dalam; mengambil foto untuk mengabadikan malam hebat yang disajikan Komunal. Terima kasih untuk konser yang sangat bagus, Limunas dan Komunal. Waktu berjalan begitu cepat. (pelukislangit)
14 Oktober 2013
22.20
Rumah Depok
Thanks for the good weekend opener, Komunal!
Liga Musik Nasional V , Gemuruh Musik Pertiwi*
*(liputan ini diposting ulang dari dirtyassrocks.wordpress.com)
Akhirnya saya bisa meluangkan waktu untuk sedikit bercerita, setelah 5 jam hibernasi siang tadi sejak saya baru tiba di Tangerang setelah melewati malam panjang di kota kembang, bandung. Saya bersama Gerry baru saja mengalami pengalaman spiritual yang tak terlupakan, yaitu menyaksikan band favorit kami, Komunal, dalam konser tunggal mereka yang digagas oleh panitia Liga Musik Nasional, atau disingkat limunas. Bisa dibilang kami cukup telat mengenal komunal, kami mengenal mereka lewat album kedua mereka, ‘Hitam Semesta’, kami tidak sempat merasakan euforia dari album ‘Panorama’ yang fenomenal, dan kami pun hanya memiliki rilisan fisik dari album ‘Gemuruh Musik Pertiwi’, biarpun demikian, Komunal memegang peran penting dalam berjalannya band kami hingga sekarang ini, selain karena musik nya yang jujur dan apa adanya, kami pun mengagumi sosok mereka yang sangat rendah hati , dan kami sangat suka musisi yang terlihat sangat menikmati bermain musik seperti mereka, sangat terlihat dari cara mereka membawakan musik mereka dari atas panggung.
Saat pertama mendengar kabar akan diadakannya limunas V ini, yang kami dengar dari akun twitter @limunas, beserta dengan pengumuman bahwa tiket hanya akan dijual 250 lembar, kami pun langsung mengambil cuti di tempat kami bekerja dan segera memesan tiket melalui @omuniuum di hari pertama penjualan, setelah tiket diamankan, kami hanya tinggal menunggu hari dan mengumpulkan uang untuk berangkat ke Bandung.
Jum’at itu, kami berangkat dari Tangerang sekitar jam 8 pagi, kami berangkat menggunakan angkutan umum, berbekal alamat venue yang kami tau dari flyer, kami tiba di bandung siang sekitar jam 12, sempat tersasar di bandung sekitar 2 jam, dan akhirnya tiba di venue setelah berjaan kaki lumayan jauh, kami tiba di venue sekitar jam 3 siang, saat itu venue masih belum dibuka, ticketbox belum dibuka, dan belum banyak orang yang datang , hanya terlihat banner – banner dan lukisan – lukisan yang sudah terpampang di depan venue, kami pun menyempatkan diri untuk berfoto.
Karena kami tidak tahu akan kemana lagi, jadi kami hanya menunggu di venue sampai sekitar jam 4 sore ticketbox pun dibuka bersamaan dengan booth merchandise dan booth maternal disaster, kami pun membeli dua buah T-shirt beserta dua lembar patch yang memang dijual terbatas hanya di hari itu. Suasana sudah mulai ramai, hujan turun dan kami semakin tak sabar menunggu acara dimulai, sekitar jam 7 malam terlihat personil Komunal datang dari luar, masih tanpa bassist asli mereka bang Arie, kami pun sempat menyapa mereka dan ternyata bang Doddy Hamson pun masih mengenali kami dan mengucapkan terimakasih karena sudah datang jauh jauh dari Tangerang. ah, sungguh senang sekali rasanya hari itu, serasa tanpa ada jarak diantara kami dengan mereka, kami sempat berbincang bersama bang Doddy dan juga berkenalan dengan beberapa teman teman dari bandung sambil menunggu gate dibuka, Begitu gate dibuka, kelihatannya kami adalah dua orang pertama yang masuk ke venue, karena sangat antusias, kami pun menunggu dibelakang didekat mixer sambil menunggu orang orang lainnya.
Tak berselang lama, orang orang pun memasuki venue , kami pun maju ke depan, dan tak lama kemudian tirai dibuka dengan diiringi ‘hymne (nyanyian pujian)’, kami semua serentak meneriakkan komunal sambil mengangkat tinggi tinggi tangan kami berdua, semua personil sudah berdiri diatas panggung, dengan band Doddy yang memakai topi pesulap ala Slash, mereka membuka set dengan ‘bakar kibar’, dilanjutkan dengan ‘Rock Petir’ dan sekitar 18 lagu lainnya yang tidak bisa saya ingat dengan jelas, sepertinya semua lagu dari album gemuruh musik pertiwi dimainkan, cukup banyak lagu dari hitam semesta, termasuk ‘Hitam Semesta’ dan ‘Higher Than Mountain II’ yang baru kali ini saya melihat mereka membawakannya, dan juga lagu ‘Dalam Kerinduan’ dan ‘Demi Kau Dan Semua Mati’ dari album Panorama , enggan rasanya kami untuk melangkah mundur satu langkah pun, saya berada didepan tepat didepan bang Doddy, dan Gerry agak disebelah kiri memandangi gibson les paul yang selalu diimpi impikannya diperkosa oleh bang sadat (hingga saat ini Dirty Ass memakai Gibson Les Paul custom lokal dengan warna dan model yang serupa dengan milik bang sadat saat itu). ah, sungguh malam yang indah sekali, tak henti henti kami berteriak bernyanyi bersama disepanjang set. sungguh spiritual sekali momen yang kami alami malam itu, terbayar sudah kelelahan kami melalui perjalanan dari pagi hari itu.
Setelah lagu terakhir Pasukan Perang Dari Rawa selesai dimainkan, kami masih sempat berfoto di panggung, dan keluar venue diiringi ‘home sweet home’ dari motley crue, ah, senang sekali rasanya malam itu, bahkan kami tidak ingat kalau kami masih belum memastikan akan tidur dimana malam itu, haha. setelah diluar kami sempat bersantai sebentar sambil melihat lihat keadaan jika saja kami akan bertemu mereka sekali lagi setelah show, karena kami memang membawa CD, dan Stick Drum yang sebenarnya kami berniat untuk meminta legalisir dari mereka, haha. tapi dua orang teman dari bandung bernama iqbal dan Baok menawari kami tumpangan menuju ke UPI dimana teman kami berada, kami pun menuju ke terminal ledeng dengan diantar oleh mereka berdua, malam itu kami tidur dengan senang dan tenang, dengan tambahan semangat untuk terus bermain musik.
Besar terimakasih kami ucapkan untuk seluruh panitia Limunas, semua pihak yang terlibat disana, dan tentunya kepada KOMUNAL, untuk inspirasi yang tiada henti, kami berjanji kami akan segera menyusul ke atas sana dan ikut mengibarkan bendera kebangkitan rock and roll bersama kalian, salam kami dari tanah Tangerang, heavy metal tetap berkibar.
Review | Limunas V: Kesaksian: Kedigdayaan Komunal*
*(liputan ini diposting ulang dari omuniuum.net)
Sejak pertama Liga Musik Nasional bergulir dan menampilkan band-band yang layak disegani, tidak sedikit yang bertanya, “Kapan Komunal?” Setelah melewati beberapa seri, Limunas menjawabnya dengan berkelas, Komunal, aksi heavy metal pada kelas terbaik yang tergolong jarang manggung, akan tampil pada seri ke-5, sendirian. Dengan kata lain, akan menjadi show terpanjang mereka, konser tunggal!
Beberapa hari sebelum hari-H, 11 Oktober, tiket pre-sale sebanyak 200 lembar telah ludes. Menyisakan 50 lembar tiket on the spot (yang bagusnya, tidak bisa nitip ke panitia), yang akhirnya habis disikat beberapa jam sebelum gerbang IFI sebagai lokasi perhelatan, dibuka. Saya yang datang beberapa menit saja sebelum acara dimulai, sempat melihat orang-orang yang baru datang dan berniat membeli tiket menerima jawaban tegas dari lini ticket box. Belum lagi kisah seorang kawan yang datang telat dan mendapati sejumlah orang yang tidak bisa masuk. Ketegasan yang memang diperlukan, mengacu pada kapasitas gedung IFI, untuk membuat para hadirin merasa nyaman.
Di meja merchandise, telah tersedia item-item jualan, termasuk diantaranya beberapa poster acara yang menggugah selera. Sementara di seberangnya terpampang lima artwork Komunal (yang sangat mengagumkan itu) antara lain Rock Petir, Hitam Semesta, Selebrasi, dsb. oleh Blossomdecay dan Morrg. Ada juga papan tulis yang disediakan untuk dituliskan pesan-kesan kepada sang pemilik hajatan. Wajah-wajah para hadirin juga tampak lebih familiar bagi saya, yang dari air mukanya terlihat sangat bergairah menanti kemunculan sang penyelamat rock n’ roll.
Di dalam, orang-orang telah mengambil posisi yang diinginkan, mereka yang ingin menghayati sembari mengangguk-angguk syahdu saja, memilih menempati bagian belakang dan samping. Sementara di bagian tengah-depan telah diramaikan mereka yang ingin merasakan maksimalnya pesta dengan cara berdansa, berteriak, dan berjibaku.
Panggung masih tertutup tirai hitam dan merah dengan logo Komunal, mulai terdengar lantunan intro yang baru kali itu saya dengar, sebelum Hymne (Nyanyian Pujian) mulai dikumandangkan ketika tirai mulai terbuka. Backdrop dengan tampilan gagak raksasa anggun lagi jumawa, mengawal dengan kokoh kemunculan Ai yang berikat kepala southern, Sadat dengan tampilan koboi flamboyan, dan Arief (masih menggantikan bassist Arie yang absen karena katanya, “main badminton!”) yang mulai mengarahkan massa untuk mengepalkan tangan dan berteriak mengikuti hymne. Untuk kemudian terdengar sorakan-sorakan pertanda datangnya Doddy Hamson, dengan topi tinggi dan jubah bak Pak Tarno, mengomandoi dimulainya pesta dengan Bakar Kibar.
Di barisan depan, khalayak mulai riuh ikut bernyanyi dan melompat-lompat. Beberapa lagu awal dihantarkan tanpa banyak jeda, “menurut skenarionya saya belum boleh bicara,” tukas Doddy. Ia mengoptimalkan jeda di tiap lagu untuk mengambil nafas, dengan bahasa tubuh saat berbicara yang seolah meragukan kebesaran mereka sendiri (tidak seperti di gigs-gigs sebelumnya dimana ia terlihat lebih lepas), tidak lupa menegaskan kembali peraturan bahwa hanya ia yang boleh merokok di ruang IFI, sambil sesekali mengucapkan kata “gembira!” tentunya dilengkapi dengan deklarasi bahwa Komunal tidak punya fans, melainkan teman. Segan.
Kembali kepada massa yang riuh bernyanyi dan melompat, tidak hanya tembang-tembang bernuansa rockish yang memantik terjadinya hal-hal tersebut, Komunal seperti yang kita yakini, menawarkan paket lengkap nan mumpuni. Khusyuk berheadbang-ria akan terjadi dengan sendirinya manakala Ilmu Tentang Racun mulai menggema, moshpit yang tak terelakkan jika Budaya Purba telah dihantamkan, mengayunkan kepala dengan lembut di Hitam Semesta, atau bernyanyi dengan khidmat -sembari mengingat kampung halaman- ketika akhirnya, Higher Than Mountain 2 dilantunkan. Dua lagu terakhir juga menorehkan sejarahnya sendiri, perdana dibawakan di pertunjukan mereka (“beruntunglah kalian yang ada di sini!”). Saya sendiri mulai merangsek ke baris depan ketika Dalam Kerinduan mulai bergaung. Ya, dalam kerinduan.
Komunal membawakan total 20 lagu dengan komposisi dua lagu dari Panorama (sayangnya Watch Your Back, I’ll Steal Your Love tidak diikutsertakan), setengah dari muatan Hitam Semesta, dan keseluruhan Gemuruh Musik Pertiwi. Dengan dua lagu diantaranya dibawakan ulang menjelang akhir bersama dua vokalis tamu, Ginan dari Mood Altering untuk membawakan Ngarbone, serta Unbound dari Speedkill yang tampaknya didaulat secara spontan untuk ikut tampil dan menancapkan rasa sengit pada Budaya Purba.
Menjelang penghujung pertunjukan, Doddy dan para penonton bernegosiasi, apakah membawakan ulang satu lagu lagi atau ada permintaan lagu lain sebelum dilanjutkan ke tembang pamungkas. Saya yang mengharapkan Ilmu Tentang Racun dibawakan lagi, memilih diam saja ketika suara terbanyak adalah membawakan Diorama Kontaminasi Puritan, yang tidak bisa dipenuhi Komunal karena Arief mengaku belum hafal. Negosiasi buntu. Komunal memilih mengakhirinya langsung dengan Pasukan Perang Dari Rawa, diikuti moshpit yang semakin menggila menegaskan salah satu kalimat dari lagu mereka, “Malam ini kamilah milikmu.” Intim dan sangat menyenangkan.
Pesta usai, permintaan encore tidak bisa dikabulkan. Namun di sekitar saya terdapat wajah-wajah bersimbah peluh dihias dengan lengkungan senyum kepuasan. Bukan main.
…
Keesokan paginya, setiap saya menelusuri rasa pegal di badan akibat berkubang di arena dansa dan tubrukan malamnya, masih terpampang persisnya kebahagiaan yang hadir di sana. Ada beberapa malam yang telah terjadi, yang mana kita tidak akan ragu untuk mengiyakan apabila bisa kembali ke saat itu. Malam dimana Komunal merayakan kedigdayaannya, segera masuk ke dalam daftar yang saya bayangkan tersebut. Penyelamat rock n roll, Monster Masa Depan, apapun sebutannya, mereka adalah yang terbesar, dan walengsek!
(word: benjing)
Komunal: Tentang Bersenang-senang Dan Berbagi Gemuruh*
*(liputan ini diposting ulang dari www.sorgemagz.com)
Oleh: Anugrah Wahyudi
Liga Musik Nasional (Limunas) kembali menggelar acara. Setelah menggandeng Melancholic Bitch, kali ini Komunal siap bikin porak poranda. Auditorium IFI Bandung menjadi saksi bisu pesta pora Jumat (11/10) malam itu.
Panggung yang tertutup tirai hitam lebar menyambut kedatangan penonton. Dihiasi dua garis merah membujur di kedua sisinya, logo burung gagak berkelir hitam terpatri di setiap garis. Seolah menegaskan siapa yang akan muncul di balik tirai nanti.
Jam 8 lewat, duo Bottlesmoker menjadi MC sebagai pembuka acara. Dilanjutkan Ricky Arnold (penanggung jawab bidang budaya dan komunikasi di IFI) memberikan beberapa patah kata pembuka. Terasa agak ganjil melihat sambutan di konser seperti ini. Tapi wajah para pengunjung terlihat santai sambil menanti pertunjukan dimulai.
Auditorium IFI yang tadinya terang benderang mendadak gelap. Sebuah nyanyian ala Sumatera Barat terdengar, bersamaan dengan itu lighting terlihat liar dari balik tirai panggung. Seolah menonton kabaret. Sampai pada akhirnya tirai terbuka dan Doddy Hamson (vokal), Anwar Sadat (gitar), Arief (Bas) dan Reza Harry (drum) sudah siap dengan senjatanya masing-masing. Gambar burung gagak berukuran raksasa dengan gagah terpampang dibelakang para personil.
Doddy Hamson terlihat nyentrik dengan topi tinggi, kaca mata hitam bulat, dan jaket hitam yang dijadikan jubah. Sekilas mirip Gary Oldman dalam film Bram Stoker’s Dracula. Langsung menghajar dengan Bakar Kibar, tak ayal penonton ikut terbakar. Semakin panas ketika Rock Petir dibawakan. Stage diving tak bisa dihindari.
Tak hanya membawakan tembang-tembang dari album Hitam Semesta dan Gemuruh Musik Pertiwi, beberapa lagu dari Panorama pun tak luput dari permainan. Demi Kau Dan Semua Mati hingga Dalam Kerinduan sukses menganiaya telinga para penonton.
“Udah pada capek belum?” tanya Doddy dengan logat sumateranya kepada para penonton yang banjir keringat. Sadat terlihat sudah telanjang dada melepas kaus hitamnya. Harry masih terlihat santai dibalik set drum. Bandana motif bendera konfederasi masih terikat manis di kepalanya. Arief sesekali mengelap keringat yang mengucur. Hawa panas memang terasa di dalam ruangan. Ditambah ratusan kepala yang terus bergoyang.
Lighting memancarkan warna merah darah, menyorot tajam ke arah panggung. Atmosfer mendadak mistis. “Yang hadir pada malam hari ini, kalian beruntung. Karena kami akan membawakan lagu yang belum pernah kami bawa sebelumnya.” Ujar Doddy sebagai pembuka. Maka Hitam Semesta menjadi penurun tensi permainan. Lagu dengan tempo lambat ala Sleep itu dinyanyikan dengan begitu hikmat oleh Doddy. Tersisa para penonton yang menunduk sambil menggoyangkan kepala. Bermandikan cahaya merah.
Seolah ingin membangunkan mereka yang tak tersadar, Medani dan Sisilia Senandung Sang Bapa di kebut mengahajar wajah para hadirin. Sontak para penonton kembali mengganas. “Nyanyikan lagu perang ini!” Teriak penonton mengiringi suara serak Doddy di Sisilia Senandung Sang Bapa.
Moshpit berubah menjadi ruang dansa ketika Adong Nang Diada dilantunkan. Melodi gitar yang catchy dan beat menghentak memang resep mujarab untuk dansa pogo sambil merangkul kawan disebelah. Beberapa pemuda gondrong terlihat membentuk formasi seperti bermain kereta-keretaan. Berdansa sambil berkeliling venue.
Bukan Komunal namanya kalau bermain tanpa kejutan. Puas bermain-main dengan Budaya Purba, lagu yang sama dibawakan untuk kedua kali. Kali ini membawa Ambon (Speedkill) untuk menemani Doddy di departemen vokal. Ginan (Mood Altering) juga diundang untuk menyanyikan Ngarbone untuk kedua kalinya. Pesta benar-benar berakhir ketika tembang anthemic Pasukan Perang Dari Rawa dilempar sebagai penutup.
Walaupun menggandeng perusahaan rokok besar sebagai sponsor, tak serta merta konsep acara berpindah ke lapangan besar dan panggung maha luas. Liga Musik Nasional (Limunas) seolah menegaskan kalau mereka spesialis dari gig intim dan kecil. Jumlah penonton pun dibatasi hanya 250 kepala.
Harga tiket memang lebih mahal dibanding Limunas sebelumnya. Namun mereka yang datang seolah tak ambil pusing. Komunal jauh lebih besar dari 35 dan 50 ribu rupiah. Karena tertera jelas dalam gemuruh yang mereka dendangkan : Disini uang dan politik tak ada artinya!
Anugrah Wahyudi adalah reporter musik kesayangan Sorge. Tiap kiriman tulisan darinya selalu kami sambut dengan pesta semalam suntuk. Hobi Wahyu antara lain mengerjakan tugas kelompok; mengisi TTS; tayamum; dan tiger-sprong di gigs punk rock terdekat.
Catatan Kecil dari Pesta Gemuruh Musik Pertiwi
Kau yang ada disana
Jabatkan tanganmu
Ikuti langkahku
Menerkam tinggalkan problema
Mari menyanyikan
hentakkan langkahmu
– Manusia Baja
Akhir pekan sudah berlalu. Jumat Limunas sudah terlewat dua hari, malam ini menjelang berganti senin dan saya masih belum bisa menghilangkan senyum puas sesudah konser kemarin.
Malam itu saya cuma ingat kalau tangan saya ditarik untuk maju ke area depan panggung, area moshing pit dan larutlah saya dalam kegembiraan bersama teman-teman lain, bernyanyi, berteriak-teriak dan ikut dorong mendorong juga mengangkat teman yang body surfing.
Sisa ingatan ini rasanya samar-samar. Rasa lelah yang memuncak di minggu akhir persiapan konser, perdebatan soal budget, ijin polisi, jumlah penonton, bahkan soal backdrop yang baru jadi H-1 siang rasanya jauh sekali tertinggal di belakang saat intro dimainkan, layar di buka dan seisi auditorium berteriak sambil mengepalkan tangan, Komunal! Komunal! Komunal!
Sekarang saya tahu, kenapa Doddy Hamson, vokalis Komunal yang sekaligus juga penggagas limunas selalu menolak setiap salah satu dari kami mengajukan nama Komunal untuk main di acara Limunas.
Band ini memang jarang manggung, jarang terdengar melakukan sesuatu kecuali kalau mau rilis album, personilnya selalu sibuk dengan urusan masing-masing tapi satu hal yang akhirnya saya ketahui, mereka tidak mau main-main dengan aksi panggungnya, tidak mau main-main dengan Limunas, mereka mempersiapkan pestanya dengan kerja keras dan malam itu panggung benar-benar milik mereka.
Konser Gemuruh Musik Pertiwi bagi saya dan teman-teman dibelakang layar adalah lingkaran sempurna dan untuk itu kami berterima kasih.
Untuk Djarum Super yang bersedia memfasilitasi dan percaya pada energi dan kegilaan kami akan konser musik. Setiap hari ketika lewat, saya selalu mengambil foto baligo Komunal yang dipasang di area Ciumbuleuit. Terimakasih banyak!
IFI Bandung, malam itu mungkin semua orang heran kenapa banyak sekali orang berbaju hitam. Terimakasih untuk bersedia kembali menampung keberisikan kami. Ricky(yang pidato), Abu, Bagus dan terutama pak direktur Louis, sayang bapak ngga nonton.
Untuk tim Komunal, untuk Mang Koko basis yang sedang sibuk bekerja (wish you were here mang), bapak manajer, Mas Ary ( yang malam itu juga merangkap operator lighting), Edo Gordo si manis mas boy (ngga’ nyangka main gitar akustiknya bagus). Arief, Ai dan Sadat yang bersedia menyisihkan waktu di sela perkerjaannya untuk berlatih dan Doddy Hamson yang latihan fisik juga minum air putih demi stamina penuh untuk setlist 20 lagunya, saya berterimakasih dan meminta maaf untuk kecerewetan saya. Btw, baru kali ini ngalamin cek sound dari tengah malam sampai jam lima pagi. Gila!
Keluarga besar Komunal dan tim hore-nya, terima kasih untuk pengertian dan dukungan penuhnya, edan, hampir tidak ada yang minta tiket gratis kecuali si abang ujangerimisaje, padahal diam-diam saya udah siapin tiket cadangan yang ternyata tidak terpakai. Dari kalian, saya belajar banyak. Segan.
Mas Norman alias @gustialoh untuk canggihnya sound yang ketika selesai konser bahkan telinga ini tidak berdenging. Canggih!
Vidi, Agan dan Maternal Disaster, terimakasih untuk tshirt panitia dan supportnya, semoga makin banyak proyek kita ke depannya, amin!
Media partner Infobandung dan Gigsplay juga untuk tim media lainnya yang hadir malam itu, terima kasih untuk sebar beritanya.
Nasrul Akbar, ketua tim dekor, yang tanpa dia gagak itu tidak akan terpasang dengan gagah lalu juga buat dekor luar yang cakep, setting lampu dan tim dokumentasi foto bersama Ighe. Keren pake banget!
Feransis, 1987 Press, ketua tim video dan tukang layout, bikin zine, bikin gelang dan segala macem yang berhubungan dengan cetak mencetak limunas, terakhir melakban satu persatu gelang limunas yang tiga ratus aja jumlahnya. Haha.
Aris Nugraha ketua urusan teknis Limunas, gila Ris, pol!
Angkuy dan Nobie sebagai emsi + Agam geng bottlesmoker untuk selalu bersedia membantu tim Limunas, kami sayang kalian.
Adun dan tim Altec sound system yang sudah bersedia mendampingi tim sound sampai subuh dan malam harinya. Senang bekerja bersama kalian.
Dobra dan Ebed (ini juga merangkap asisten dekor) yang jagain pintu. Yang nahan pintu selama pembukaan + satu lagu dan menjaga ketertiban konser. Tanpa kalian, kita payah nih.
Tim garda depan tiket dan jualan merch, dari Omuniuum, Tina, Yuyun, Ivan, Soni ditambah runnernya Indra dari #littleomu Kerjaan kalian keren sekali.
Riandy Karuniawan yang artworknya menghias dari mulai baligo, tiket, kaos, artwork depan, apalah kami tanpamu.
Indra Wirawan alias Morgan, artwork komunal yang dijadikan dekor depan dan juga manstrale press. Jadi mau atau ngga bikin konser kayak kemaren lagi?
Amenkcoy, untuk artwork poster demi kau dan semua mati, mohon maaf kalau ada kurang dan senang sekali untuk pemahamannya.
Bapak dan ibunya anak-anak yang malam itu tidak hadir karena ada urusan keluarga, semoga yang terbaik, kita semua ikut berdoa.
Felix Dass, untuk tulisan di zine dan sengaja cutinya, makasih ya!
Mas Trie, koordinator utama, show director, partner kerja, keluh keluh kesah dan rasa senewen, terimakasih untuk bersama belajar dan ahey, saya senang liat kamu body surfing pas lagu Ngarbone!
Dan ini semua tidak ada artinya tanpa kalian teman-teman yang membeli tiket, merchandise, yang berbagi energi gila-gilaan di lantai dansa, ini semua untuk kita bersama. Mohon maaf karena keterbatasan tempat, banyak yang malam itu batal nonton karena tidak kebagian tiket, nasihat saya adalah belilah presale tiket secepatnya dan semoga Bandung punya tempat yang lebih besar untuk menampung pesta kita.
Untuk semua pihak yang mendukung yang karena banyaknya tidak bisa disebutkan satu persatu, terima kasih banyak sekali.
Sampai jumpa di arena Liga Musik Nasional berikutnya! Hell yeah!
Boit
Bagian keluarga ajaib Omuniuum, tukang tulis dan ngurus budget di kolektif Liga Musik Nasional, penggemar Komunal sekaligus ngaku sepupu dari keluarga segan. Masih menyatakan kalau seorang fans bisa bikin gigs keren bersama band pujaannya, apalagi kalau band pujaan dan seluruh pendukung konsernya percaya kalau mereka satu keluarga.
DOKUMENTASI FOTO
DOKUMENTASI VIDEO