PEMANDANGAN FEAT TETANGGA PAK GESANG| WHITE SHOES AND THE COUPLES COMPANY
27 APRIL 2015 - IFI BANDUNG
ARTIKEL
Konser di Kota Kembang – White Shoes & The Couples Company
Liga Musik Nasional VI White Shoes & The Couples Company Konser di Kota Kembang IFI Bandung – Purnawarman 32 Bandung Tiket: Presale: Rp 50,000 On The Spot: Rp 75,000 *tiket terbatas hanya untuk 300 penonton, presale bisa didapatkan di Omuniuum.
Ide untuk mengundang White Shoes & The Couples Company sebetulnya sudah terpendam sejak lama dan ketika secara tidak sengaja salah satu dari tim limunas bertemu dengan Indra Ameng, manajer dari WSATCC, ide itu langsung terwujud jadi rencana. Saat merencanakan “Konser Kota Kembang” itu, kita punya usulan kalau acara akan diadakan pada bulan April dan begitu kita menemukan tanggal yang cocok, tanpa pikir panjang kita langsung mengiyakan.
Sempat muncul kekuatiran soal tanggal yang bertabrakan dengan perayaan KAA. Limunas sebagai tuan rumah mau tidak mau berurusan dengan pihak berwenang untuk memastikan bahwa acara tetap bisa diselenggarakan dengan pertimbangan skala acara yang tidak terlalu besar dan juga jam acara yang diadakan sehabis maghrib setelah perayaan KAA usai, syukurlah kita mendapat lampu hijau.
Bagi WSATCC sendiri, setelah sekian lama tidak mengadakan konser tunggal di Bandung, mendapatkan undangan kerjasama dari Limunas untuk tampil lagi di Bandung dalam format konser tunggal adalah sebuah kado istimewa sekaligus kehormatan tersendiri. Karena bagi WSATCC, selain bahwa mereka sudah cukup mengenal Limunas, “Konser di Kota Kembang” ini adalah sebuah peristiwa yang diidam-idamkan cukup lama, juga akan menjadi ajang reuni yang sangat berkesan antara WSATCC dengan teman-teman di Bandung
Terakhir WSATCC mengadakan konser tunggal di Bandung pada 2008 bertempat di Auditorium RRI. Untuk tampil di “Konser di Kota Kembang” ini, WSATCC mempersiapkan set khusus yang akan memainkan repertoire dari debut album pertama hingga rilisan terakhir “WSATCC Menyanyikan Lagu2 Daerah” sepanjang 100 menit non-stop. Set khusus ini hanya akan WSATCC persembahkan dalam konser ini, yang juga didukung oleh tata artistik spesial hasil rancangan kawan-kawan dari Liga Musik Nasional. Tentunya tidak lupa turut dihadirkan merchandise spesial untuk acara istimewa ini sebagai kenang-kenangan yang didesain dan diproduksi oleh Omunium dengan artwork dari Amenkcoy.
Selain itu, pada saat Konser Kota Kembang nanti, acara akan dibuka oleh Pemandangan dan Tetangga Pak Gesang yang tentunya punya keistimewaan tersendiri untuk mengantar para penonton sebelum masuk pada acara utama. Mari bersukaria, sampai jumpa di lantai dansa! Salam Hangat, Liga Musik Nasional White Shoes & The Couples Company adalah:
Nona Sari – VOCAL, FINGER SNAPS Tuan Rio – ACOUSTIC GUITAR, VOCAL Tuan Saleh – ELECTRIC GUITAR, VOCAL Tuan Ricky – CELLO, BASS, VOCAL Nyonya Mela – PIANO, VIOLA, KEYBOARDS, VOCAL Tuan John – DRUMS, VIBES
Terbentuk pada tahun 2002 di sebuah kampus kesenian di bilangan Jakarta pusat, White Shoes & The Couples Company adalah sebuah kelompok musik yang membawakan musik Pop Indonesia. Musiknya banyak dipengaruhi oleh lagu-lagu soundtrack film layar lebar yang populer pada era 1940′an hingga akhir 1970′an, semacam classic jazz, disco, easy listening ballads dan lain sebagainya, White Shoes & The Couples Company adalah group musik yang meramu segala macam genre musik dalam setiap penampilannya. White Shoes & The Couples Company merilis debut albumnya pada tahun 2005 lewat label Aksara Records dan didistribusikan oleh Universal Music Indonesia. Selain itu juga turut mengisi album soundtrack film “Janji Joni” dan “Berbagi Suami” produksi Kalyana Shira Films. Setelah sukses dengan album perdananya, White Shoes & The Couples Company memproduksi mini album (EP) berjudul ”Skenario Masa Muda” yang dirilis oleh Aksara Records pada bulan September 2007. White Shoes & The Couples Company juga telah menandatangani kontrak dengan Minty Fresh Records, sebuah label rekaman yang berasal dari Chicago, Amerika Serikat.
Album penuh kedua mereka, Album Vakansi yang dirilis pada tahun 2010 telah terjual lebih dari 10,000 kopi danpada Mei 2013, mereka merilis EP WSATCC Menyanyikan Lagu-lagu Daerah sebagai trubut pada Lokananta. Selain itu, WSATCC juga telah banyak menerima penghargaan musik, lokal dan internasional dan juga telah melakukan banyak perjalanan untuk main diberbagai negara. Tour terakhir mereka tahun ini adalah Australian Tour 2015 yang dilakukan pada bulan Maret lalu.
whiteshoesandthecouplescompany.org / wsatcc@gmail.com / @wsatcc
====
Tetangga Pak Gesang
Sekumpulan tetangga yang suka berdendang, menghibur hati yang riang.
Tetangga Pak Gesang adalah grup musik dengan format duo yaitu Arum Tresnaningtyas Dayuputri (vocal & ukulele) dan Meicy Sitorus (vocal & kazoo). Mereka senang mendendangkan lagu lawas dan sedang mencoba meramu lagu sendiri.
Grup ini terbilang masih sangat muda, terbentuk pada tanggal 2 Maret 2013 di Kineruku, Band- ung. Nama “Tetangga Pak Gesang” sendiri dipilih karena salah satu tetangga yaitu Arum asal Solo, dulu merupakan tetangga Pak Gesang dalam arti sebenarnya. Sedangkan Meicy Sitorus adalah tetangga dari Balikpapan yang kini tinggal di Bandung.
Untuk kunjungan Tetangga Pak Gesang, silahkan kontak 081807832804 / 081585019934 – Karina Saputri
@musiktetangga @aumdayu @meicysitorus
Pemandangan
Pemandangan adalah proyek kolektif seni dari tiga seniman muda lulusan pendidikan Seni Rupa UPI Bandung : Rangga Aditya Bintara (Maunx), Erwin Windu Pranata (Ewing) & Mufti Priyanka (Amenk).
Proyek kolektif ini dibuat pada tahun 2011 dengan titik berat performance pada eksplorasi nyanyian lewat puisi. Akan tetapi, Pemandangan bisa menjadi apapun tergantung situasi dan kondisi ruang yang mereka hadapi.
Penampilan Pemandangan biasanya disertai dengan detail visual dan teks yang penuh kejutan tapi dekat dengan keseharian dan bisa jadi tumpang tindih. Ciri khas dari pertunjukan Pemandangan adalah reaksi dari penonton atas ruang dan interaksi yang mereka ciptakan.
@amenkcoy
WSATCC Konser di Kota Kembang*
*(liputan ini diposting ulang dari philiandtheluckytheory.blogspot.com)
(24/04) WASTCC : Konser di Kota Kembang, IFI Bandung.
I don’t know why we do it like this
Oh so strange…
Hangin’ out everytime
To reach the end
You never know how
Anything will change
Feelin’ guilty all the time
Useless by..
Di tengah pertunjunkkan, Sari dan Mela pergi ke pinggir stage. Tiba – tiba, John berpindah posisi bermain glockenspiel, Saleh bermain drum, Ricky menyanyi sambil memainkan gitar akustik dan Rio gantian bermain bass.
‘Ini band dalam band’ Ujar Ricky, sebelum intro lagu yang akan dimainkan dimulai. Mereka membawakan lagu Pathetic Waltz-nya Pure Saturday. Suasana hati saya langsung tidak karuan, tapi sangat menikmati pertunjukkan para pria wsatcc.
***
Bulan April ini saya merasa seperti di ulang tahun-kan, bagaimana tidak? Dua gigs keren mampir tanpa permisi. Setelah galau bergembira, kemarin saya sedang berdamai dengan rasa galau dengan bernyanyi dan menari bersama ‘serikat nada’ White Shoes And The Couples Company.
Cerita sedikit, saya sudah jatuh hati dengan wsatcc sejak lagu Senandung Maaf menjadi ost Janji Joni, saat itu masih menjadi pelajar berseragam putih biru.
Ini merupakan kali ke empat saya menyaksikan wsatcc secara langsung, tiga gigs sebelumnya mereka menjadi salah satu pengisi acara. Tapi, untuk yang kemarin saya enggan melewatkan karena ini konser mereka. Artinya saya akan puas melihat Nona Sari cs secara esklusif!
Konser kemarin (24/04) berlangsung di IFI Bandung, kapasitas ruangan yang kecil membuat konser ini benar-benar terkesan esklusif dan intim. Begitu saya masuk, semua penikmat musik wsattc tengah berdiri menantikan pembukaan konser yang digadang akan menjadi kolaborasi mutakhir antara Tetangga Pak Gesang feat Pemandangan. Tetangga Pak Gesang merupakan duo perempuan cantik, yang satu vokalis plus ukulele dan satu lagi vokalis plus kazoo. Musiknya sederhana, lirik lagu-lagu mereka menggelitik dan tentu saja pembagian suara yang amat apik. Setelah mereka bernyanyi dua lagu, tidak lama tiga orang laki-laki yang katanya bernama Pemandangan datang, di awal pertunjukkan saya tidak bisa melihat apa-apa dikarenakan mereka bermain di mini stage yang sudah ditutupi oleh punggung-punggung penikmat musik yang datang lebih awal, tapi untungnya tak lama semua diminta duduk.
Kolaborasi mereka berlima memang mutakhir. Saya dan penikmat musik wsatcc yang lain tidak henti-hentinya dibuat tersenyum, tertawa, terkesan, ternyum lagi, tertawa lagi, terkesan lagi dan bagai dihipnotis kami memberikan tepuk tangan secara sukacita. Interaksi mereka berlima kepada para penikmat musik wsatcc membuat pembukaan ini menjadi sangat bergembira, bahkan salah satu dari mereka sempat berdongeng tentang cinta terlarang antara langit dan bumi yang menjadi penyebab hujan turun.
Silahkan mampir ke soundcloud Tetangga Pak Gesang dan Pemandangan untuk mendengar lagu-lagu mereka. Jangan lupa resapi lirik lagu-lagunya yang menggelitik dan jenaka :D.
kolaborasi mutakhir Tetangga Pak Gesang ft Pemandangan
Menunggu kurang dari 15 menit, tidak lama tirai stage dibuka. Roman Ketiga menjadi lagu pertama disusul Selangkah Kesebrang. Tidak ada yang bisa menahan saya dan para penikmat musik wsatcc untuk bernyanyi dan menari.
Konser yang esklusif dan intim ini, membuat interaksi antara kami dan wsatcc sering terjadi. Bahkan beberapa abege berteriak minta dilempar handuk bekas Saleh. Dan semua yang mendengar tertawa.
Ketika Sunday Memory Lane dibawakan, kami seolah diajak berduet bersama Nona Sari. Selain itu saya cukup kaget karena lagu ini jarang dibawakan dan ini kali pertama saya mendengar lagu ini secara live.
Lalu Kisah Dari Selatan Jakarta dilantunkan, suasana kala itu seolah menarik saya ke mesin waktu membawa saya berdiri mengenakan dress bunga-bunga tak lupa kalung mutiara yang tidak begitu panjang melingkar di leher dan di samping saya tengah berdiri seorang lelaki menggunkan kemeja pas badan lengkap dengan celana cutbray dan sepatu yang mengkilap. Aha! seketika saya tengah berada di pesta tahun 70an.
Meskipun lagu Bersandar tidak dibawakan, konser ini tetap sangat memukau. Lembe – lembe menjadi lagu penutup Konser di Kota Kembang ini.
Terima kasih untuk Roman Ketiga, Selangkah Kesebrang, Vakansi, Senja Menggila, Sunday Memory Lane, Kisah dari Selatan Jakarta, Matahari, Windu Defrina, Cangkurileng, Aksi Kucing dan lagu-lagu yang tidak saya ingat semua.
Juga untuk lagu Pathetic Waltz-nya Pure Saturday yang dibawakan oleh para pria wsatcc.
Saya pulang dengan rasa berdamai dengan kegalauan. Semoga bisa menonton pertunjukkan wsatcc dilain waktu, dengan suasana hati baru yang tidak membiru.
Cheers,
Philida Thea
Lenggak-Lenggok WSATCC Hibur Kota Kembang*
*(liputan ini diposting ulang dari djarumcoklat.com)
By: Karel
Jumat (24/4), Bandung memang sedang puncak-puncaknya dihinggapi oleh hingar-bingar perayaan Konferensi Asia Afrika ke-60 sekaligus bersolek menjadi lebih indah untuk menjamu tamu-tamu dari berbagai belahan negara di Asia dan juga Afrika. Mayoritas warga ibukota Jawa Barat ini cenderung larut dalam kemeriahan event akbar itu hampir satu pekan lamanya. Tetapi satu ‘oknum’ yang tergabung dalam kongsi bernama Liga Musik Nasional memilih menjamu tamu ‘lain’ yang lebih istimewa dari Jakarta. Limunas—kerap kongsi ini disingkat, malah merancang satu pergelaran musik dengan mendatangkan grup lokal kenamaan, White Shoes And The Couples Company (WSATCC) yang dimana sudah lama tak tampil di kota berjuluk Parisj Van Java ini sedari 2007 lalu. Dengan modus untuk menghilangkan rindu para penggemarWSATCC, pergelaran yang dibantu oleh gerai musik Omuniuum ini dinamakan “WSATCC Konser Di Kota Kembang” dan mengambil lokasi pementasan di Institut Francais D’Indonesie (IFI), Jalan Purnawarman no. 32, Bandung.
Sebelum kita lebih lanjut ke kemeriahan konser, kabar baik yang didapatkan yakni tiket pre–salesebanyak 250 lembar habis dua hari sebelum hajatan ini berlangung. Begitu juga ketika tiket box dibuka oleh pihak Omuniuum saat hari H dan menjual sisa 50 lembar lagi , dalam hitungan satu jam ludes terjual bak kacang goreng. Luar biasa! Pintu pertunjukkan akhirnya dibuka tepat jam 7 malam dengan antrian yang panjang hingga IFI akhirnya terisi lumayan penuh. Seperempat jam berselang, telah menyatu dengan penonton hadir dua wanita manis bernama Arum dan Maisy yang masing-masing siap dengan perantinya. Mereka berdua adalah Tetangga Pak Gesang yang didaulat oleh Limunas sebagai pembuka. Lalu aksi berlanjut dengan datangnya trio konyol,Pemandangan untuk berkolaborasi secara apik dengan Tetangga Pak Gesang. Dengan jumlah lima orang tepat depan berhadapan dengan penonton, mereka sengaja disoroti lampu penerangan dan sisanya gelap. Penampilan mereka mengundang tawa terutama celotehan kocak dari dua personel Pemandangan yakni Amenk dan Ewink.
Dua penampil yang sama-sama dari Bandung itu diharuskan menyisih karena sang tamu sudah siap menyuguhkan aksi paling dinanti malam itu. Seketika pula itu tirai hitam yang sedari tadi tertutup rapat langsung terbuka dengan penampakan enam orang berpenampilan vintage namun elegan. Aprillia Apsari (vokal), Rio Farabi (gitar akustik), Saleh Husein (gitar), Ricky Surya Virgana (bass), Aprimela Prawidyanti (keyboard/synth), dan John Navid (drum) langsung saja menyapa 300 penggemarnya dengan tembang “Super Reuni” yang kemudian dilanjut dengan “Roman Ketiga” dan “Senja Menggila”. Sari sebagai vokalis yang tampil cukup manis malam itu mengungkapkan senang bisa kembali ke kota Kembang untuk menghibur yang hadir setelah delapan tahun tak pernah menyambangi kota ini. “Melangkah Keseberang”, “Masa Remadja” dan “Vakansi” menjadi repertoar selanjutnya yang tambah membuat ramai seisi IFI. Tak lupa juga lagu macam “Today Is No Sunday”, “Sunday Memory Lane”, hingga satu nomor yang mengingatkan dengan satu klub keriaan di kota Manchester sana milik almarhum Tony Wilson (Factory Records) yaitu “Hacienda”. Duo personel wanita Sari dan Mela tiba-tiba saja menyingkir dari panggung, hanya tersisa empat personel tersisa di atas panggung. Lalu mereka berempat mengkover nomor “Pathetic Waltz” dari Pure Saturday dengan posisi Ale menjadi penggebuk drum, John memainkan synthesizer, Rio membentot bass, dan Ricky bermain gitar sekaligus vokal. Setelah para jantan tadi membawakan lagu dari band pop/alternative legendaris, dua betina kembali naik panggung dengan memberikan suguhan berupa “Matahari”, “Kisah Dar iSelatan Jakarta”, dan “Rented Room”.
Para penonton tambah sumringah saat WSATCC membawakan lagu tersohornya “Windu Defrina”, “Sabda Alam” dan “Aksi Kucing”. Bahkan ketika “Windu Defrina” dilantunkan, seniman kontemporer lokal terbaik saat ini Amenkcoy tiba-tiba naik panggung dan berlenggak-lenggok bahagia dengan mereka. Limunas malam itu akhirnya memasuki sesi encore, Sari Cs masing-masing membawakan lagu dari album dedikasi mereka terhadap lagu daerah, “White Shoes And The Couples Company Membawakan Lagu-lagu Daerah”. Tiga buah tembang yang cukup dikenal telinga namun sulit dilafalkan macam “Tjangkurileung”, “Te O Rendang O”, dan “Lembe–Lembe”. Hingga akhirnya mereka menutup repertoar sepanjang 100 menit itu dengan dua lagu yang berhasil melepas rindu para penggemarnya yaitu “Tam–Tam Buku” dan yang paling nge-hits “Senandung Maaf”.
White Shoes & The Couples Company, Konser Di Kota Kembang, IFI Bandung*
*(liputan ini diposting ulang dari fanartik.com)
Sepanjang akhir Minggu kemarin, Bandung diramaikan dengan berbagai acara, biarpun sore harinya Bandung diguyur hujan. Salah satu acara yang dinanti sejak lama adalah Konser di Kota Kembang – White Shoes & The Couples Company, dan sempat muncul kekuatiran karena tanggalnya bertuburukan dengan perayaan KAA yang juga katanya akan membuat jalanan kota Bandung macet.
Bagi WSATCC sendiri, yang terakhir mengadakan konser di Bandung tahun 2008 lalu, ini adalah sebuah kado istimewa sekaligus kehormatan tersendiri, Konser di Kota Kembang ini adalah peristiwa yang diidam – idamkan, karena juga sebagai ajang reuni antara WSATCC dengan teman lama mereka di Bandung.
Konser malam itu dibuka oleh Tetangga Pak Gesang, diiringi oleh teman – teman dari pemandangan, yang lebih banyak bercerita, tertawa dan punya keistimewaan tersendiri untuk mengantar para penonton sebelum masuk pada acara utama.
WSATCC mempersiapkan set khusus yang memainkan repertoire dari debut album pertama hingga rilisan terakhir “WSATCC Menyanyikan Lagu2 Daerah” sepanjang 100 menit non-stop. Set khusus ini hanya akan WSATCC persembahkan dalam konser ini, yang juga didukung oleh tata artistik spesial hasil rancangan kawan-kawan dari Liga Musik Nasional.
Konser malam itu sangat diluar dugaan , penonton yang memadati IFI berdansa bersama White Shoes & The Couples Company seakan tidak ada hari esok. Terima kasih untuk teman – teman dari Limunas, yang telah mengundang WSATCC untuk Konser di Kota Kembang, kalian telah menyelamatkan lantai dansa.
Catatan Kecil dari #konserkotakembang
Saya hendak melangkah keluar auditorium ketika tiba-tiba bahu saya ditepuk. Dipanggil Mas Rully katanya. Ketika saya menoleh ke Mas Rully, dia bertanya, panggung tetangga ama pemandangan udah dipindahin belum dari depan? Saya menjawab setengah berteriak, sudah mas!
Kemudian Mas Rully yang malam itu bertugas sebagai sound engineer dari WSATCC tampak sibuk kembali berbicara via walkie talkie, entah dengan siapa.
Saya urung keluar dan kembali ke posisi bersiap menunggu pertunjukan dimulai. Dari arah panggung, lampu mulai berkelap-kelip. Sebagai latar belakang terdengar suara seperti pesawat hendak tinggal landas. Para pemain sudah siap dengan instrumen masing-masing dipanggung. Suara pesawat makin kencang, Nona Sari memasuki panggung, lampu menyala semua dan WSATCC membuka pertunjukan dengan lagu Super Reuni.
Semua yang pernah membuat konser pasti tahu betapa pentingnya posisi pembuka dalam sebuah repertoire dan WSATCC bersama tim-nya berhasil mengeksekusi hal itu dengan baik sekali. Malam itu, WSATCC memaku perhatian penonton sampai pertunjukan selesai. 23 lagu. Duapuluh tiga lagu. Gila!
Padahal, semuanya dimulai dengan obrolan yang sangat sederhana dan dikerjakan dengan mencuri waktu dari kesibukan. Dimulai dari obrolan tentang rindunya WSATCC main di Bandung dan bertemu dengan keinginan tim Limunas yang sudah lama vakum untuk kembali membuat acara.
Sempat terbersit rasa panik ketika tengah menyiapkan pertunjukan karena ternyata tanggal yang dipilih bertubrukan dengan puncak acara KAA. Apalagi menjelang hari H sempat beredar selebaran yang mengabarkan banyak jalan di Bandung yang akan ditutup. Tapi niat kami bulat. Entah bagaimana caranya, semua harus tetap berjalan. Apalagi menjelang H-2 tiket presale sudah terjual habis dan sampailah pada H-1 semua ketakutan itu sirna. Jalan di Bandung kosong melompong.
Tanggal 23, Rombongan WSATCC yang berangkat dari Jakarta lewat jam tujuh malam, jam setengah sepuluh sudah sampai Bandung. Rasanya dua hari itu, tanggal 23 dan 24 April, jalanan di Bandung dikosongkan untuk membuat pertunjukan #konserkotakembang lancar.
Bagi kami, #konserkotakembang adalah sebuah pertunjukan yang hampir sempurna. Komunikasi yang baik dengan band, dukungan penonton, pembuka konser yang riang gembira, tim produksi yang solid, mengantarkan seluruh rangkaian acara tanpa hambatan.
Liga Musik Nasional berterimakasih pada:
Indra Ameng dan seluruh keluarga WSATCC, kini kami tahu, kenapa WSATCC bisa melanglang buana. Keren banget!
Tetangga Pak Gesang dan Pemandangan yang riang gembira, kolaborasi mutakhir yang tak terhingga riangnya. 🙂
Amenkcoy untuk artwork yang ciamik yang dipakai untuk poster dan merchandise. Bagus banget!
Erwin Windu Pranata yang selalu cemerlang dengan tata artistik dan publikasi, malam itu, semua mata tertuju pada backdrop yang cemerlang. 🙂
Aris, yang selalu bersedia pp jakarta bandung untuk bantuin Limunas. Makasih!
Bagus dan tim produksi yang juga ngurusin ijin, kalo ga ada kalian udah pasti ga jadi ini acara.
Gege yang suaranya merdu sekali sebagai voice over, Agam, Nobie dan Angkuy yang selalu siap sedia ngebantuin apapun, makasih!
M. Louis, Ricky dan Abu, terimakasih untuk auditorium IFI yang selalu menyenangkan.
Tim foto juga video, yang didalamnya juga ada Didit dan Budi yang bantuin ini itu juga, makasih banyak.
Tim Omuniuum dan little omu yang selalu bersedia dikerjai untuk bantuin jualan tiket dan lapakan, Tina, Yuyun, Ivan, Soni, Indra dan Wulan, makasih banyak banget.
Tim keamanan dadakan Dobra beserta Keppet yang diculik buat bantuin video, kalian oke banget!
Tim Altecs Sound System , Adun, Utok dan lainnya yang mau aja ngikutin antik-antiknya si kami.
Gigsplay, DRS, LOTF dan seluruh media yang malam itu hadir dan meliput.
Terimakasih untuk seluruh doa dan dukungan, yang tidak bisa kami sebutkan satu persatu namanya, kalian tahu siapa kalian.
Terimakasih yang utama selalu, untuk semua yang mendukung dengan menyisihkan uang saku membeli tiket dan merchandise, menyisihkan waktu untuk berbagi energi, tanpa kalian, semua ini tidak ada gunanya.
dan terimakasih KAA juga masyarakat Bandung untuk jalan raya yang kosong melompong.
Sampai jumpa tanggal 22 Mei 2015 dengan Frau. 🙂
– boit
DOKUMENTASI FOTO
DOKUMENTASI VIDEO