KONSER TENTANG RASA | DEUGALIH | FRAU | 24 MEI 2015 IFI BANDUNG
ARTIKEL
Konser Tentang Rasa
Liga Musik Nasional VII
Frau Konser Tentang Rasa IFI Bandung – Purnawarman 32 Bandung Tiket: Presale: Rp 50,000 On The Spot: Rp 75,000 *tiket terbatas hanya untuk 200 penonton, presale bisa didapatkan di Omuniuum
Leilani Hermiasih dan Oskar adalah Frau. Seorang perempuan dengan piano yang tentu saja menarik hati karena kepiawaiannya dalam membuat lagu. Kami dari Limunas sudah lama jatuh cinta pada Frau dan lagu-lagunya.
Ketika Frau menyambut dengan suka hati ajakan untuk bermain di panggung Limunas, berikut ini adalah pesan dari dia,
“Persiapkan teh, kopi, atau minuman lain yang sering mendampingimu menikmati satu lagu. Duduklah pada kursi paling nyaman di ruang istirahatmu. Putar lagu yang paling kamu sukai dari speaker, ponsel, atau perangkat audio lain dalam ruangan itu. Pejamkan matamu; izinkan tetes-tetes minumanmu, titik-titik sentuh pada kursimu, desir-desir aroma yang mampir di hidungmu, serta jengkal-jengkal melodi lagu itu membawamu menuju sublimitas yang seakan terus-terusan mencair dan membeku. Pada momen itu juga, lagu itu menjadi milikmu. Entitas pengkarya di baliknya seperti sedang bersembunyi sambil mungkin mengantisipasi reaksi macam apapun atas buah pemikirannya.
Dalam kesempatan ini, kami mengundangmu untuk berbagi narasi, ilustrasi, ataupun keluh kesah atas rasa yang muncul kala mendengarkan lagu-lagu Frau. Pengalaman rasa apapun itu, entah senang, kalut, sedih, hingga kantuk, merupakan esensi dari suatu pertunjukan musik. Demikianlah, “Tentang Rasa” disajikan bukan sebagai sebuah pernyataan, melainkan pertanyaan yang akan kita jawab bersama di akhir pertunjukan nanti. Mari berbagi rasa.”
Kali ini, Liga Musik Nasional juga bekerja sama dengan IFI Bandung dan masuk dalam program Printemp Francais atau musim semi Perancis yang berlangsung dari pertengahan bulan Mei sampai Juni.
Untuk menemani Frau, Limunas juga mengajak Deugalih, proyek solo dari Galih yang juga tampil sendiri dengan gitarnya dan artwork konser datang dari seorang seniman muda berbakat asal Bandung, Rukmunal Hakim.
Sampai berjumpa dan berbagi rasa!
Salam hangat,
Limunas
Memulihkan Kepekaan di Liga Musik Nasional VII
“Mungkin hanya ada dua musisi jenius saat ini,” begitu kira-kira perkataan Galih Su (Deugalih) pada jeda di antara lagunya, “Mbak Lani dan Saya.”
Kembali ke beberapa minggu sebelumnya, saya mendapati poster Liga Musik Nasional ke-7 bertuliskan “Frau” -Leilani Hermiasih dan Oskar, pianonya- dengan sebuah imaji berupa tangan yang memegang bunga-bunga karya Rukmunal Hakim. Tangan yang meraba dengan seluruh ujung jemari seolah menekan tuts piano-mencoba merasakan tekstur bunga-bunga tersebut, benda yang lumrahnya dirasakan dengan dilihat, dicium, bahkan dicecap (ingat berbagai sirup rasa bunga-bungaan itu?). Konser Tentang Rasa, begitu tajuknya. Saya berpikir sebentar, umm, saya sudah sering menempuh perjalanan cukup jauh untuk melihat konser band favorit, tanpa mempedulikan siapa saja musisi pembukanya. Solois? belum. Saya melanjutkan mengamati poster itu, tertera tanggal 22 Mei 2015, dan lokasi yang sama dengan beberapa seri Limunas sebelumnya, Institut Français d’Indonésie (IFI), Bandung. Kali ini sedikit berbeda, konser ini masuk sebagai bagian dari rangkaian acara Printemps oleh IFI. Saya segera menyudahi pemikiran untuk mendatanginya setelah melihat satu bagian lagi di poster itu, “dibuka oleh Deugalih”. Terakhir kali saya menyaksikan Frau tampil solo, bukan mengiringi Melancholic Bitch, mungkin sudah lima tahun yang lalu. Deugalih? Sudah empat tahun berlalu sejak saya melihat ia meraung-raung di sebuah studio di bagian antah-berantah ibukota. Maka, lezgo.
Beauty and the Beast, itu yang ada di benak saya usai melihat kedua nama penampil Limunas kali ini. Jika Deugalih adalah ia yang akrab dengan isu-isu lingkungan hidup, melampiaskannya dengan musik folk yang gahar, the beast, maka Frau, khususnya Leilani (berikutnya akan saya sebut Lani, biar apa? biar terkesan akrab lah) adalah ia yang merayu, menjerat, dst., tanpa diniatkan, definisi cantik itu sendiri, the beauty. Maka, tibalah saya di lokasi untuk menukarkan tiket, dan mengamati beberapa orang yang harus berbalik kecewa mendapati kenyataan bahwa tiket on the spot telah habis dalam waktu sekitar 10 menit saja, sisanya bertahan mengharapkan keajaiban, yang kelak benar-benar menghampiri mereka. Di dalam ruangan, berbeda dengan beberapa seri Limunas sebelumnya yang memaksimalkan penggunaan panggung dan menghadirkan lebih banyak orang, kali ini hanya satu sisi sudut panggung yang digunakan, kursi-kursi pun telah diatur sedemikian rupa menghadap ke sudut tersebut. Nuansa tenang dan intim yang menyambut, sudah selayaknya ditanggapi dengan tidak membiarkan ponsel berdering atau hal-hal lain yang menggangu kenyamanan penonton lain, tanpa perlu diperingatkan lebih lanjut. Saya masuk ketika kursi-kursi bagian depan telah terisi dan diarahkan oleh seorang panitia dalam pemilihan kursi yang, syukurlah, tepat berhadapan dalam garis lurus dengan kursi penampil. Tidak lama berselang, Deugalih muncul sembari tersenyum lebar nan hangat.
Sedikit berbasa-basi, ia memulai penampilannya dengan mengulang dua kali lagu pembukanya, dan memutuskan untuk batal membawakannya dengan alasan dia agak sulit menghapal lagu orang. Trik yang tepat, alih-alih mengagetkan penonton dengan langsung ‘ngegas’, ia menghangatkan suasana terlebih dulu dengan hal tersebut untuk kemudian mengawali dengan lagunya sendiri, dan mendapatkan aplaus atas kemampuannya bersiul sambil tersenyum. Setelah cukup hangat, ia melaju ke tingkatan berikutnya -panas- dengan musikalisasi Buat Gadis Rasid oleh Chairil Anwar, tembang favorit saya di albumnya, memperagakan pencapaian olah vokal bak roller coaster yang membuat beberapa orang menggeleng-gelengkan kepala di bagian-bagian paling ‘menegangkan’, namun justru menyebabkan saya meringis perih pada bagian ‘tenang’nya, “kita terapit, Tjintaku..”. Dilanjutkan dengan lagu yang diambil dari prasasti Karangtengah yang saya yakini berbahasa Sansekerta, lagu folk bergaya Papua tentang kisah nyata Mamak-mamak yang meninggal di teritori Freeport sana, diakhiri dengan When No One Sings this Song yang getir, bersama Buat Gadis Rasid dapat ditemukan di Anak Sungai, album debut yang indah bersama bandnya, Deugalih & Folks. Setelah mengucapkan banyak terima kasih atas kesempatan yang telah diberikan untuk akhirnya bisa sepanggung dengan idolanya, Frau, ia pamit dan mempersilakannya untuk mengambil alih panggung.
Frau kemudian mengawali untuk melanjutkan pengalaman menuju titik tertinggi malam itu dengan Sembunyi, tembang yang terasa cocok untuk mengiringi film drama-musikal, tembang yang ia gubah setelah terinspirasi dari suatu lukisan oleh perupa asal Yogyakarta, tembang baru. Ini Frau, ia tidak perlu membawakan tembang-tembang terkenal/terbesarnya untuk membawa para penonton merasakan kehadirannya. Diselingi cerita-cerita singkat yang meski terkadang disampaikan dengan‘garing’ namun tidak klise, untuk memahat senyuman di wajah para hadirin (lihat, betapa keras upaya saya untuk tidak menempatkan sekedar kata ‘menggemaskan’ di sini), sekaligus trik menyiapkan nafas, energi, dan membuat penonton lebih siap mengantisipasi lagu-lagu berikutnya. Setelah Empat Satu yang riang, ada Berdiri Aku yang saya tidak begitu ingat kesannya karena terjepit lagu sebelumnya dan sesudahnya, Berita Perjalanan yang merupakan musikalisasi puisi Sitor Situmorang, Water yang mungkin merupakan lagunya paling terkenal di album Happy Coda, lalu tibalah saatnya Lani berkolaborasi. Sebuah gimmick yang tepat, karena tentu saja tidak semua penonton setipe dengan saya, teman saya, dan beberapa yang lainnya, yang tidak akan keberatan apabila sepanjang malam itu hanya melihat Lani dan Oskar di panggung. Adalah Erson, pemain terompet yang juga terlibat di Belkastrelka, yang mengiringinya di dua lagu dengan dua gaya permainan yang berbeda pula, menjadikan Mr. Wolf dan I’m a Sir terasa lebih flamboyan. Usai mengeksekusi dengan apik kedua lagu, keduanya pun berbalik ke belakang panggung untuk istirahat sekitar 5-10 menit.
Setelah di paruh pertama penonton dibagikan kertas berjudul “Kesan Tentang Rasa” yang bebas untuk diapakan, pada bagian ‘turun minum’ ini, kami benar-benar kebagian minuman. Botol kecil bertuliskan Minuman Kesegaran Tentang Rasa Tjap Piano bermuatan minuman bermacam rasa. Meski bersikeras kalau minuman berwarna putih adalah susu kedelai agak manis dan berekspektasi mendapatkannya, toh, saya dan teman justru kebagian teh tawar-pahit. Seolah mengingatkan kembali bahwa hidup kami harus seimbang, ini adalah penampilan dan pengalaman yang manis, untuk apa minum minuman yang manis juga? Oh, iya bener juga ya, kamipun mengamini permainan takdir ini dengan mawas diri. Yang pasti, Konser Tentang Rasa terus menuju bagian terakhir. Nyaris semua panca indera telah merasakannya. Penglihatan dan pendengaran, jelas. Teh tawar untuk pengecap, sudah. Indera peraba? Meraba, ya, memegang tangan kekasih (kalau ada), memegang pensil dan kertas untuk menulisi kertas Kesan Tentang Rasa yang dibagikan, atau menyerap AC ruangan IFI melalui kulit hingga masuk angin (mungkin ini saya saja, sih), pun sudah. Tinggal indera pencium yang belum kebagian.
Frau kembali ke panggung dan membawakan dua lagu baru, lagi, yang di-medley. The Butcher – Tukang Jagal, masih terinspirasi dari lukisan yang sama dengan tembang pertamanya tadi, kali ini dengan sedikit penjelasan bahwa lukisannya memang bergambar tukang jagal yang kepalanya digantikan dengan sebongkah daging jagalannya, diiringi, nah ini, pelengkap rasa yang dirasakan seluruh panca indera, semerbak aroma Melati yang pekat menyusup paksa ke indera penciuman. Seusai lagu dan aroma yang mereda, Frua melanjutkan dengan menginterpretasikan ulang tembang Radiohead, Fake Plastic Trees yang kalau tidak sepopuler ini akan saya sangka sebagai tembang terbaru Frau lainnya. Benar, sekental itu ia membawakan-ulangnya. Selepas tembang populer tersebut, Lani mengatakan bahwa ia akan berkolaborasi lagi dengan seorang musisi yang juga telah hadir di bangku penonton. Mengingat saya hanya melihat dan menyadari keberadaan Doddy Hamson (Komunal) dan Revan Bramadika (Rajasinga) di lokasi, impian terliar segera menghampiri saya, Frau akan membawakan Praktika Bisnis Karnivora atau malah.. Kokang Batang! Tentu saja kenyataannya tidak begitu, adalah sang vokalis Banda Neira yang didaulat untuk mendampinginya, Rara Sekar, saya pun gelagapan. Menjadi gelagapan seperti mendadak kehilangan pekerjaan kesukaan, ketika keduanya berbicara satu sama lain dengan umm.. -ya gitulah- di panggung dan terjadilah dialog absurd:
R: “duo awkward bersatuu..”
L: “tak terkalahkaan!”
yang sukses menghadirkan raut sumringah dan juga mungkin absurd di wajah saya, sebelum mereka memulai Rindu milik Banda Neira. Aduh.
Meski di tulisan ini saya terlihat hapal betul urutan kejadian, saat saya duduk di sana (berhadapan dalam satu garis lurus dengan sang penampil [oh, saya sudah katakan ini sebelumnya]) tentu saja saya tidak sadar jumlah lagu yang telah dibawakan, tapi ini adalah paruh terakhirnya. Mesin Penenun Hujan yang monumental, Arah yang kudus, dan Tarian Sari yang merupakan lagu favorit Frau urutan terakhir saya -karena saya cenderung menghindari single pertama suatu album- yang setelah ditampilkan malah berjaya menjadi tembang terbaik malam itu. Konser Tentang Rasa benar-benar akan segera diselesaikan, kertas survey dibagikan. Kertas survey yang berisi pilihan akan tingkatan-tingkatan kepuasan dan kebiasaan untuk diisi para penonton ‘perihal rasa’ yang muncul dalam konser. Tembang paling terkenal Melancholic Bitch, Sepasang Kekasih Yang Pertama Bercinta Di Luar Angkasa yang dibawakan ulang oleh Frau di album pertamanya -Starlit Carousel- pun didapuk menjadi lagu pamungkas (sebelum encore) dan memancing koor massal. Teriakan-teriakan encore pun dikumandangkan, dan hanya berlangsung singkat, karena Frau segera kembali ke panggung, kali ini benar-benar pamungkas. Teriakan tertahan permohonan saya pun, “Suspense!” hanya dijawab, “Suspense?” yang lain malah lebih liar, “Sigur Rós!” dan ditanggapi “waduuh susahh..” Ekspektasi saya -yang standar- Frau membawakan seluruh lagu di kedua albumnya, plus Confidential, sudah tidak terealisasi. Ia lebih mengejutkan, dan meski tampil dengan penuh kelembutan dan keramahan, hingga lagu terakhirnyapun, Frau kembali menunjukkan siapa dirinya, ia yang mampu membawakan lagu apa saja yang ia kehendaki, baik dikenal penonton maupun tidak, dengan baik. Aroma Cokelat (atau vanilla? hidung saya memang tidak begitu mumpuni) mengiringi Loco Mosquito milik Iggy Pop yang, tentu saja, berperisa Frau, mengakhiri kesyahduan, kerinduan, kegusaran, dan banyak lagi, malam itu.
Konser Tentang Rasa pun usai. Tapi kisah tentang rasa konser ini tak akan pernah terhindarkan. Konser yang dengan sengaja melibatkan dan memaksimalkan fungsi semua panca indera. Menguji, mengingatkan akan, dan memulihkan kepekaan.
Satu lagi ekspektasi, lebih tepatnya harapan, saya yang tidak terkabul adalah kolaborasi antara Frau dan Deugalih. Namun hal ini sangat bisa dimaklumi, mengingat beberapa perkataan Deugalih yang secara tersirat menyatakan kalau mereka baru benar-benar ‘bertemu’ kali ini. Bagaimana dengan kata-katanya di awal tulisan ini? Saya rasa dia hanya membual. Kalaupun ia serius akan hal tersebut, sebetulnya saya sama sekali tidak keberatan. Lagi pula, di antara banyaknya solois hari ini, keduanya adalah solois favorit saya. Ada rasa yang similar yang tipis antara petikan halus dan genjrengan keras Deugalih dengan dentingan lembut dan dentuman akut Frau. Masing-masing cakap menghantarkan rasa, melepaskannya ke seluruh penjuru ruangan, menebarkannya ke pelosok malam, dan memenuhi serta mewarnai perasaan hingga ke pojok-pojok terpencilnya; magis.
(Tulisan ini ditulis oleh Benji)
Catatan Kecil dari Konser Tentang Rasa – Frau
Malam itu saya masih setengah berharap siapa tahu Ugoran Prasad teman duetnya Frau di lagu Kekasih yang Pertama Bercinta di Luar Angkasa muncul tiba-tiba dan menyanyi bersama. Tapi semesta juga ada batasnya. Tentu saja hal itu berakhir di angan-angan belaka.
Menyelenggarakan limunas, ketujuh kalinya dengan teman-teman dekat dan keluarga, didukung oleh energi penonton yang tak habis-habis saja sudah merupakan berkah tersendiri.
Apalagi waktu persiapan konser yang terbilang singkat. Dua minggu. Dua bulan ini, April dan Mei, limunas memang sedikit nekat. Baru usai euforia bersama wsatcc, otak sempat beku untuk menggarap konsep konser tentang rasa.
Awalnya untuk konser ini kita mengajukan untuk membuat visual dan live painting tapi usulan itu masih belum cukup kuat. Ketika semua yang di Bandung masih berkutat dengan konsep tiba-tiba Mas Gufi, manajernya Frau menghubungi via whatsapp disusul dengan kedatang dia ke Bandung dengan ajuan konsep yang membuat kita garuk-garuk kepala.
Apa? Ganti bebauan tiap lagu? Mau nyiapin minuman buat penonton? Ada survey? Ada kesan pesan? Penonton pake kursi? Gladi resik? Pers conference? Shit. Ga kebayang.
H-4 saya ingat masih masih berdebat dengan Mas Gufi soal apakah kita akan menyediakan alat tulis atau tidak untuk penonton juga jenis minuman yang akan disediakan dan perdebatan diakhir dengan daftar permintaan soal apa saja yang disiapkan oleh tim Jogja dan yang disiapkan oleh tim Bandung.
Salah satu yang kita angkat tangan adalah soal bebauan. Satu, tidak ada satupun dari tim Bandung yang berbakat soal parfum dan bebauan, kedua, tidak ada yang bakat untuk membuat instalasi penyebar bebauan. Akhirnya instalasi dan bebauan memang dibawa dari Jogja.
H-2 tim Bandung selain sibuk menyiapkan tempat, pekerjaan utama tentu saja mencuci botol dilanjutkan dengan meracik minuman. 200 botol. Teh tawar, susu cokelat, stmj, susu murni dan jeruk. Percayalah, ternyata tidak mudah jadi tukang jamu rumahan. Pekerjaan yang saya pikir akan selesai dalam waktu dua malam ternyata berlanjut sampai tanggal 22 siang karena tentu saja untuk minuman yang berupa susu tidak bisa dibiarkan semalaman. Jadi, minuman yang sampai ke tangan penonton pada malam itu masih fresh karena memang dibuat mendadak.
Tim Jogja yang sudah “mondok” di IFI dari tanggal 21 pagi tak kalah sulit pekerjaannya. Memastikan kapasitas penonton bersama, desain lampu dan pemasangan instalasi bebauan. Ternyata instalasi yang telah dibuat akhirnya tidak bisa digunakan karena ada hal teknis yang tidak bisa diatasi dan kenapa bebauan pada beberapa lagu tidak kentara karena perbedaan suhu antara Bandung dan Jogja. Beberapa bau yang sudah di uji coba di Jogja tidak terlalu berhasil di Bandung. Sebetulnya selain wangi melati, lavender, mint, ada bau laut, wangi gula jawa, kopi, hujan dan green tea.
Kesulitan belum berhenti disitu. Dengan berat hati limunas kali ini benar-benar membatasi undangan dan peliputan media demi kenyamanan menonton. Kali ini saya benar-benar belajar untuk tegas meminta kepada semua orang yang ingin menonton untuk mengejar sisa tiket yang tersisa di venue. Bahkan media yang meliput pun setelah pemotretan gladi resik dan press conference diminta untuk membeli tiket jika ingin meliput seluruh pertunjukan.
Dan tiket yang tersisa sebanyak 50 tiket habis dalam hitungan sepuluh menit saja. Gila!
Semua terbayar dengan penampilan yang ciamik dari Deugalih yang secara tidak sengaja “dijodohkan” karena didapuk sebagai pembuka dan tentu saja penampilan Lani dan Oskar yang prima.
Dan sesuai dengan harapan, para penonton cukup dibuat kaget dan senang dengan seluruh konsep pertunjukan.
Liga Musik Nasional berterimakasih kepada:
Frau dan manajemen beserta seluruh keluarga yang menyertai. Lani dan Oskar, Mas Gufi, Mas Ojie, mas Banjar dari papermoon untuk lampunya, Mas Erson yang selain pandai main terompet juga pandai memasak, rere yang mengatur bebauan, krisna tukang video dan yudis yang nemenin oskar terus tapi jarang ngobrol.
Deugalih yang bersedia ijin kerja buat manggung.
Rukmunal Hakim yang juga ternyata penggemar Frau, yang berjasa untuk artwork dan nama konser juga akhirnya jadi konsep “Tentang Rasa”.
M. Louis Presset dan Ricky Arnold yang memfasilitasi tempat dan memberi kesempatan sebagai pembuka festival Printemp Francais 2015.
Arum dan Nasrul Akbar buat foto dan keppet buat video. Botak dan tim bottlesmoker untuk rekaman live sepanjang konser.
Bagus, Gepeng dan Ghera tim produksi Bandung yang kerjanya gila-gilaan.
Gege yang suaranya dipinjam untuk voice over. Agam yang bantuin urusan sound dan Pleg juga Dolly yang jadi LO dadakan.
Adun beserta tim altec yang selalu geleng-geleng kepala liat kelakuan kita untuk sound system yang selalu ciamik.
Tim Omuniuum yang selalu bersedia untuk disuruh jualan tiket dan merchandise dan tim #littleomu yang bantuin nyiapin minuman, indra, merry dan didit, makasih banyak!
Tim Omni.Space yang bertanggung jawab untuk desain grafis. Ewing untuk desain ini itu juga stiker tjap piano dan amenkcoy yang juga membantu nyiapin poster screen print.
Tim panitia swasta yang selalu hadir untuk mendukung dan membantu ini itu. Kalian tahu siapa kalian.
Seluruh media partner, Gigsplay, DRS, LOTF juga media yang meliput hari itu, Padapanik, Icihers, ROI, Buruan.co dan semua yang tidak bisa disebutkan satu persatu, terimakasih untuk review dan pengertiannya.
Dan selalu untuk semua yang paling keren hari itu, yang bersedia meluangkan waktu dan menyisihkan uang saku untuk membeli tiket pertunjukan juga membeli merchandise. Kalian sangat berarti untuk kami.
Semoga konser tentang rasa tidak hanya berhenti di Bandung dan sampai jumpa di Limunas berikutnya!
DOKUMENTASI FOTO
DOKUMENTASI VIDEO