RAJASINGA | NAVICULA | 13 DESEMBER 2015 IFI BANDUNG
ARTIKEL
Press Rilis Liga Musik Nasional VIII | Konser Alam Raja Navicula x Rajasinga
Liga Musik Nasional VIII
Konser Alam Raja
Navicula x Rajasinga
13 Desember 2015 IFI Bandung
Presale Tix. IDR 50,000
OTS. IDR 75,000
Mempertemukan Rajasinga dan Navicula dalam satu panggung sebetulnya tidak direncanakan secara sengaja. Mereka adalah dua band dengan genre yang berbeda dan dengan masa yang berbeda pula. Satu-satunya kesamaan adalah punya nafas yang sama. Energi yang besar untuk bermain dan bersenang-senang di panggung.
Rajasinga hadir belakangan ketika tercetus ide untuk mengundang Navicula main di Limunas VIII. Adalah Revan yang pertama kali mengusulkan agar Rajasinga tampil juga di acara Limunas ini. Gue ngefans berat sama mereka, begitu katanya sambil terkekeh.
Diluar urusan menggemari Navicula, Rajasinga juga punya amunisi untuk tampil dalam Limunas kali ini. Rajasinga ingin merayakan 11 tahun usia mereka. Satu dekade lebih satu tahun untuk Rajasinga ibaratnya lebih dari komitmen dengan pacar sekalipun dan Limunas untuk Rajasinga ibarat teman lama yang sudah lama tidak berjumpa. Rajasinga adalah salah satu band yang tampil di gelaran Limunas pertama, tahun 2011.
Sementara untuk Navicula, mereka selalu senang untuk bisa tampil diBandung. Terlalu sayang untuk dilewatkan, begitu katanya ketika bicara soal Bandung. Selain itu, Navicula juga mengakui selain banyak terpengaruh oleh tumbuh kembangnya skena musik di Bandung, mereka juga merasa kalau belum pernah punya kesempatan untuk tampil dalam set panjang.
Soal nama konser, Alam Raja adalah Alam Raya. Tidak perlu dijelaskan panjang lebar tentang keterlibatan Navicula dalam lingkup aktivisme sosial soal lingkungan dan juga kata Raja yang tentu saja diambil dari Rajasinga. Ketika konsep ini dibuat, beberapa daerah di Indonesia sedang terdampak kabut asap yang bukan merupakan bencana alam tapi muncul akibat dari ulah manusia. Terdengar klise, tapi secara sederhana, alam raya diambil untuk mengingatkan kita bahwa kita ini berpijak di bumi, yang kalau tidak kita jaga, kekuatan alam akan berbalik menjadi bencana yang melebihi kekuatan manusia.
Kali ini, Limunas mengajak Indra Wiryawan atau Morrg sebagai ilustrator untuk poster dan merchandise yang nanti akan disediakan di tempat acara.
Selain itu di Konser Alam Raja, Limunas kali ketiga di tahun 2015 dan sebagai penutup tahun, Liga Musik Nasional ingin mengatakan bahwa berdikari dalam skena sangat dimungkinkan jika kita punya cara pandang yang sama dan berada pada titik kerja sama yang absolut. Bahwa keberlangsungan sebuah acara, bisa dijalankan dengan kekuatan yang penuh dari para pelaku dan penikmat musik. Menghargai penampil dengan membeli tiket, membeli merchandise yang disediakan, nafas bisa bertambah panjang dan hidup bisa jadi sangat menyenangkan. Sponsor utama kami selalu adalah uang saku dan energi yang disisihkan dari teman-teman semua.
Nah, pengantar sudah dibuat, tanggal dan tempat sudah ditentukan, Mari kita bersenang bersama berpesta dengan Rajasinga dan Navicula di konser Alam Raja! Sampai jumpa di venue!
===========================
Navicula
Navicula didirikan tahun 1996 di Bali, Indonesia. Formasi Navicula terkini adalah: Robi (vokal, gitar), Dankie (gitar), Made (bass), Gembull (drum). Nama Navicula diambil dari nama sejenis ganggang emas bersel satu, berbentuk seperti kapal kecil (dalam bahasa Latin, Navicula berarti kapal kecil). Band ini mengusung rock sebagai warna dasar musik mereka, berpadu dengan beragam warna etnik, folk, psychedelic, punk, alternatif, funk, dan blues. Liriknya sarat dengan pesan aktivisme dan semangat tentang Damai, Cinta dan Kebebasan.
Musik Navicula dipengaruhi kuat oleh alternatif rock 90-an, terutama grunge/seattle-sound dari band-band macam Soundgarden, Pearl Jam, Alice in Chains, dan Nirvana. mereka dikenal dengan sebutan “the Green Grunge Gentlemen” karena aktifnya mereka di dunia aktivisme sosial dan lingkungan. Album ke-7 Navicula “Love Bomb”, direkam di studio Record Plant yang legendaris di Hollywood. “Tatap Muka”, album terbaru mereka direkam langsung secara akustik dan dirilis dalam bentuk DVD.
Diskografi:
Self Portrait (1999)
K.U.T.A – Keep Unity Through Art (2002)
Alkemis (2005)
Beautiful Rebel (2007)
Salto (2009)
Kami No Mori (2012)
Love Bomb (2013)
Tatap Muka (2015)
Rajasinga
RajaSinga lahir di pertengahan 2004, dengan semangat untuk membuat band keras dan cepat, mereka sebenarnya tidak pernah punya niat serius atau bermimpi jadi musisi kondang. Setelah bergonta-ganti personil, akhirnya formasi mereka mentok di Morrg (vokal/bas), Biman (vokal/gitar), Revan (drum dan kadang-kadang bernyanyi).
Tahun 2006, Rajasinga mengeluarkan rekaman live demo. Dari album CD-R bersampul fotokopian ini semuanya dimulai. Tahun 2007, mereka merilis album resmi pertama bertajuk Pandora di bawah label Strain Eyes Productions. Album ini disambut dengan Spreading the Plague Tour 2007 yang meliputi Singapura, Malaysia, dan Thailand). Kemudian dilanjutkan dengan Babat Tanah Leluhur Tour 2008 ke Jawa dan Bali). Pada 2009, Rajasinga kembali merilis album live bertajuk Nevergrind.
Album ini didistribusikan sebanyak seratus kopi saat manggung dan melalui download dari internet sebagai album digital. Tahun 2011, Rajasinga membakar obor berikutnya untuk album kedua bertajuk Rajagnaruk. Di album ini Rajasinga lebih banyak melakukan eksperimen dari penyusunan materi, aransemen, sound, syair, dan packaging. Terdapat 14 lagu yang bermuatan musik cepat dengan syair yang tidak bersahabat. “Kami selalu menulis musik yang ideal, tanpa harus idealis”.
Rajasinga; saat ini sedang dalam proses rekaman album “III:Rajasinga” 15 lagu yang rencananya akan rilis tahun 2016 (Negrijuana Prod.)
Diskografi:
Pandora (2007)
Nevergrind (EP,2009)
Rajagnaruk (2011)
Limunas VIII “Konser Alam Raja”: Menggilas ala Duo Penggawa Hutan*
*(liputan ini diposting ulang dari anjzine.com)
Limunas VIII “Konser Alam Raja”: Menggilas ala Duo Penggawa Hutan
Untuk banyak hal, datang terlambat bukanlah pilihan, dan menghadiri pertunjukan musik adalah salah satunya. Malah bisa menjadi dosa bila konser tersebut menjanjikan—setidaknya—di antara tiga hal; penampil berkelas, keriaan yang meledak, dan atau konsep yang gila. Dan, catat salah satu dosa saya di hari Minggu (13/12) kemarin, yakni terlambat menyambangi Gedung IFI Bandung, untuk “Konser Alam Raja”, Navicula dan Rajasinga.
Tanah Bandung malam itu memunculkan aroma khasnya saat disegarkan dengan hujan yang tiada henti. Sialnya, jas-hujan-murah-sekali-pakai yang saya bawa tidak berhasil menahan rintik air. Basah kuyup pun menyentuh seluruh kulit tubuh, membuat saya merasa seperti habis dijilati politisi di masa kampanye. Tapi, saya tidak merasa khawatir dengan rupa pakaian yang demikian. Sebab, toh nanti baju ini juga akan kering dengan sendirinya, karena crowd dan panggung yang panas terbakar, pikir saya.
Yap, bagaimana mungkin saya tidak berimajinasi seperti itu? Grunge dan grindcore. Empat manusia hutan dan tiga singa lapar. Perlawanan dan bersenang-senang. Navicula dan Rajasinga. Duo ‘pimpinan hutan’ teraduk di dalam satu panggung, di Bandung. Di titik inilah, saya semakin sadar kalau terlambat juga termasuk dosa besar.
Apalagi, saat saya semakin mendekati pintu venue, riak-riak koor massal dari “Good Shit 4 Good Friend” milik Rajasinga tengah berkumandang. “Pesta! Mari berpesta! Pesta! Mari berpesta!,” seru crowd. “Damn! Maafkan kekhilafan hamba ini, Tuhan,” ujar saya mengumpat dan berdoa di waktu yang bersamaan, di dalam hati. Panitia lalu mempersilakan saya dan Nayin, fotografer Anjzine!, untuk membuka pintu venue. Ambience hura-hura purba pun menyeruak.
Rajasinga: Pedal Terinjak Penuh, Meski Bahan Bakar Telat Panas
Terkejut saya setelah berhasil masuk dan melihat apa yang terjadi di dalam venue. Soal Rajasinga? Oh, tentu tidak. Kalau band yang satu ini sih masih mengakar dari sifat aslinya sejak dahulu: buas, ugal-ugalan, dan rajagnaruk (a.k.akurang ajar!). Yang membuat saya kaget dan bingung adalah di bagian penonton.
Sebelum saya masuk venue, nyanyian pesta sangat terdengar jelas dan lantang. Nyatanya, setelah melihat dengan mata kepala sendiri, moshpit saat itu belum terbentuk sempurna. Entah karena saya yang datang terlambat lalu melewatkan momen keriaan itu, atau memang belum terjadi sama sekali. Yang jelas, crowd, yang merupakan bahan bakar penampil, di menit itu terlihat masih urung memperlihatkan kegilaannya, dan terkesan telat panas. Padahal, trio Morrg, Biman, dan Revan tampak telah menginjak pedal gas secara pol-polan untuk menyalakan mesin grindcore pembabat umat.
Selang tiga lagu dari “Good Shit 4 Good Friends”, tepatnya di nomor “N.A.D. Kush”, barulah crowd menjadi sinting, serupa tiga raja hutan yang ada di hadapan mereka.
Nomor-nomor pendek khas musik gerinda yang diambil dari album “Pandora” sampai “Rajagnaruk” terus menerus bergema, seperti “Kokang Batang”, “Balada Sumanto”, dan “Soundtrack Balap”. Bahkan, single “Stoned Magrib”, yang belakangan dirilis dan konon akan mengisi album ketiga Rajasinga, juga ikut memenuhi setlist “Konser Alam Raja”. Moshpit pun terbakar liar, namun tetap tertib dan terjaga; meski dihantam lebih kurang 20 lagu berturut-turut, dan diberi nafas sesekali dan hanya sebentar.
Romansa scene bawah tanah diperlihatkan di “Rajagnaruk”. Di pertengahan lagu, Morrg mengundang Rudi, gitaris yang sempat menggawangi Jeruji dan Disinfected, untuk mengisi part solo gitar milik gitaris Biman. Gitar dipindahtangankan sementara kepada Rudi, dan Biman menyimak permainan Rudi di sisi panggung sembari membakar rokok. Rudi menyelesaikan tugasnya dengan baik, dan ternyata, gitar tidak langsung diberikan kepada si empunya. Gitaris Siksakubur, Andre Tiranda, kemudian naik panggung dan melanjutkan bagian orgasmik pada “Rajagnaruk” ini. Baru setelahnya, Biman kembali ambil kendali mengisi harmoni.
Performa Rajasinga ditutup oleh lagu anthemic “Anak Haram Ibukota”. Crowdsurfing seketika berceceran di mana-mana. Rajasinga, yang telah berumur 11 tahun, malam itu mencatatkan dirinya sebagai salah satu binatang buas di rimba underground Tanah Air yang patut diwaspadai. “Kami enggak akan bisa begini tanpa teman-teman dari scene,” aku drummer Revan, menyoal pencapaian Rajasinga. Segan!
Rajasinga berhasil menyelesaikan babak pertama “Konser Alam Raja”. Lima belas menit waktu turun minum diberikan untuk penonton. Setelah ini, ada empat manusia hutan asal Pulau Dewata yang menggila di Kota Kembang.
Navicula: Manifestasi Beautiful Rebel
Tirai panggung dibuka. Tanpa basa-basi, Navicula langsung menghentak panggung; membuka performa dengan lagu “Menghitung Mundur”. Kontan, massa penggemar musik ekstrem dan grunge 90-an bercampur dan meledak dengan cepat. Wajar saja terjadi demikian. Di samping karena “Menghitung Mundur” yang memang meletupkan euforia, ini menandakan bahwa Rajasinga melakukan tugasnya dengan sempurna di sesi pertama, yakni memanaskan crowd.
Navicula menggila tanpa gitaris Dankie di “Konser Alam Raja”. Belakangan, drummer Gembull mengakui kalau pria gimbal yang juga pentolan band Dialog Dini Hari tersebut tengah berada di mancanegara. Posisi pemetik si dawai enam malam itu diisi oleh Edward, seorang kawan lama awak Navicula yang sempat mempunyai side-project bersama Gembull dan Made (bassist) bernama The Balian.
Penonton menjadi semakin liar saat tembang perlawanan dan ekspresi cinta lingkungan seperti “Harimau! Harimau!”, “Mafia Hukum”, “Bubur Kayu”, “Aku Bukan Mesin”, “Metropolutan” dan “Orangutan”, dimainkan.
Di satu momen, venue mendadak berubah menjadi nuansa grunge nite. Minus Robi sang vokalis, yang katanya mau ke toilet dulu sebentar—entah ini serius atau kelakar, Navicula memainkan tiga lagu era 80-90an dengan formasi The Balian. Seorang rekanan Navicula bernama Joe juga ikut mengisi gitar di tiga nomor tersebut, yakni “Alive” dari Pearl Jam, “Rape Me” dari Nirvana, dan satu lagu ciptaan Edward.
Robi kembali ke panggung, bertukar posisi dengan Joe, dan membawakan “Fortune Faded” milik Red Hot Chilli Peppers, bersama tiga kawan lainnya.
Gembull dan Made, dalam satu kesempatan berbincang, merasa malam itu begitu spesial. “Dari suasananya, serasa balik ke era 90-an dulu,” ujar mereka. Saya menangkap ada keindahan yang ingin mereka ungkapkan. Mungkin mereka melihat dari atmosfer venue dan gegap gempita crowd yang asyik. Kalau dari kacamata penonton seperti saya, penampilan mereka malam itu adalah manifestasi dari keindahan perjuangan mereka—atau yang mereka sebut beautiful rebel, yang juga merupakan nama album kelima mereka.
Melemparkan lagu-lagu yang terinjeksi penuh oleh pesan-pesan yang relevan di masa sekarang, dan membawa kembali aroma grunge—yang sarat akan suara kebebasan—dari masa keemasannya, bersama crowd yang intim, di Bandung. Rasanya, semua itu cukup mewakili kata beautiful rebel yang disematkan untuk the green grunge gentlemen.
Navicula menggila, dan Rajasinga membuas. Mereka menggilas. Crowd “Konser Alam Raja” digerus rata oleh duo penggawa hutan malam itu.
Konser ditutup dengan encore dari penampilan Navicula, lewat langgam “Televishit”—yang sangat bertalian dengan isu hari ini. “Setan menjajah TV / Sekarang! / Stop bullshit di TV / Sekarang!” Oke! Saya setuju dengan Navicula. Matikan TV! Sekarang! Sebab, dengan melihat gelaran kedelapan ini, tampaknya Liga Musik Nasional (Limunas) kesembilan akan sangat jauh lebih menarik untuk disimak, ketimbang program-program kentut khas televisi di primetime.
Konser Alam Raja*
*(liputan ini diposting ulang dari wustuk.com)
Rambut separuh keriting Morrg meliuk seperti ular, menari ngeri di bawah siraman cahaya warna biru, hijau, dan merah yang tumpah silih berganti. Rajasinga menyemburkan bisanya dari panggung. Malam itu (Minggu, 13/12) adalah kali pertama saya menikmati suguhan musik mereka. Rasanya, kalau boleh dibilang demikian, seperti ditimpa gunung runtuh!
Selama satu jam penuh mereka menghantam. Menggila. Menggilas. Karena saya tidak bisa dibilang penikmat metal (tapi kalau Megadeth masuk metal, bolehlah saya ngaku doyan metal sedikit), sekilas apa yang mereka sajikan terasa seperti album “Kill ‘Em All”. Tentu saja itu analogi abal-abal, semata karena saya tidak punya kosa kata memadai untuk menggambarkan apa yang sesungguhnya tersaji.
Yang jelas, Rajasinga malam itu terdengar, terlihat, dan terasa sangat keras, cepat, dan jujur tingkat brutal. Mengutip istilah favorit Morrg yang dituliskannya di sampul bagian dalam CD “Rajagnaruk” yang saya beli setelah konser usai, segan!
Saat menulis artikel ini, saya sedang menikmati album “Rajagnaruk”. Bisa mereka meledak di kepala. Sebagian mental ke luar telinga, beberapa masuk ke dalam di jiwa. Di antara yang menyusup itu adalah “Anak Haram Ibukota”, “Rajagnaruk”, “N.A.D. Kush”, “Ujung Tombak”, dan “99% THC 1% Skill”.
Omong-omong, setelah konser “Liga Musik Nasional VIII: Konser Alam Raja” di Bandung malam itu, apakah lengan drummer Rajasinga diganti? Saya menduga, dia punya sedikitnya 4 lengan sebagai cadangan.
Menu berikutnya adalah alasan utama saya jauh-jauh pergi ke Bandung. Navicula.
Malam itu jadi konser mereka yang ke-36 kali bagi saya. Mengingat mereka dan saya semakin cepat menua, saya khawatir umur akan menghalangi lahirnya angka keramat, konser ke-100 Navicula bagi saya. Entahlah.
Tampil tanpa Dankie yang sedang berada di Paris, Perancis, setlist Navicula malam itu terasa janggal. Dibantu Edward dan kemudian Joe Cummings (seorang penulis buku wisata/perjalanan legendaris), Navicula, di luar kebiasaan mereka, memainkan cover songs. Bukan cuma satu, melainkan 4! Bersama Joe Cummings mereka membawakan “Alive”, dan kemudian Edward membawakan satu nomor milik Balian (band-nya bersama Gembull dan Made), “Rape Me”, dan sebuah lagu milik RHCP.
Tentu saja “Menghitung Mundur”, “Everyone Goes to Heaven”, “Harimau! Harimau!”, “Aku Bukan Mesin”, “Mafia Hukum”, “Metropolutan”, dan beberapa nomor sakti lainnya disuguhkan ciamik. Atau, setidaknya, nyaris sempurna.
Beberapa kali terlihat Gembull bermasalah dengan simbalnya yang nyaris terlepas. Made juga seperti mutung lantaran monitor-nya kurang maksimal. “Orangutan” bahkan harus diulang dua kali sebelum akhirnya meluncur ganas, akibat salah tuning dan salah intro. Gila!
Navicula, seperti bisa diduga, tidak terlalu ambil peduli. Ini adalah konser rock, bukan suguhan televisi atau sesi rekaman di studio yang wajib rapi. Saya dan semua rock fans lainnya tidak hadir ke sebuah konser untuk melihat musisi idola kami bermain sempurna seperti dalam keping CD. Kami ada di sana untuk merasakan energi murni. Kami berdiri, melompat, mengepalkan tangan ke udara, dan berteriak bersama atas nama semangat pembebasan.
Oh, iya. Sebagian dari kami yang sedikit lebih gila asyik ber-crowd surfing sepanjang malam.
Navicula terus menghantam dengan keras. Robi tampil sendirian membawakan balada cantik tentang hutan yang sudah hilang, “Di Rimba”. Kemudian hadir sebuah lagu yang terbilang jarang dimainkan, “Zat Hijau Daun”.
Satu jam lebih dan usailah semua. Penonton, seperti juga saya, minta lebih. Bersama, kami meneriakkan encore. Sebagian bilang “We want more!”, sebagian lainnya menjeritkan “Curanmor!”. Apa pun, akhirnya Navicula mengabulkan do’a dan kemudian membawakan satu nomor pamungkas, sebuah lagu sakti yang membuat saya jatuh hati pertama kali, “Televishit”.
Selamat tinggal Bandung dengan hujannya yang menolak berhenti dan kemacetan mingguan yang semakin menjadi. Sampai jumpa di konser berikutnya.
UGAL-UGALAN DI “KONSER ALAM RAJA”*
*(liputan ini diposting ulang dari roi-radio.com)
Navicula
Kalau ngoming hujan teh emang rudet, tapi kalau ngutruk nanti disangka nggak bersyukur. Ya, sakumaha my lord aja deh. Hehe. Apalagi kalau misalnya hujan teh datengnya pasweekend, kayaknya murka duniawi langsung mencuat. Jelas, soalnya weekend kan nggak hanya dipake untuk semlehoy santai, tapi juga untuk refreshing pikiran dengan jalan-jalan keluar rumah. Contohnya, ke warung deket masjid.
Well, sama halnya kayak di Minggu malam (13/12) kemarin, hujannya turun deras banget, tapi kayaknya bakal beda ceritanya sama yang saya omongin, soalnya hari itu ada gelaran dari Liga Musik Nasional yang ke-8 dengan tajuk Konser Alam Raja yang bertempat di Auditorium IFI Jl. Purnawarman, Bandung. As always. Eh, kalem bosque, ini bukan konser Alam ‘Mbah Dukun’ atau Raja-nya Ian Kasela, tapi konser ini diisi sama dua band berbahaya yang berbeda genre, Rajasingadan Navicula. Mantap bosfren! Yaudah deh, saya putuskan untuk letsgow kesana. Hehe.
Acaranya dimulai jam 7 malam, sob. Setelah saya huhujanan menerjang cipratan dari mobil yang nggak tau malu, akhirnya saya tiba di venue tepat pada waktunya. Cie, on time. Eh, kirain acaranya udah bakal mulai, ternyata ngaret euy. Yaudah, nggak apa-apa, lah, sekalian ngisi kekosongan waktu dengan ngarenghap, jalan-jalan liatin booth merchandise yang disedian, sambil kenalan sama kecengan baru, tapi boong. Hehe. Setengah jam berlalu, akhirnya acara dimulai, guys!
Konser Alam Raja langsung dihajar sama gegedung grindcore asal Bandung, Rajasinga. Segan wak! Walaupun udah ada di sekitar venue, tetep aja saya masuknya mah telat. Hahaha. Sebats dulu euy, biar enjoy. Setelah ngantri untuk dapet gelang sebagai tanda masuk, saya langsung masuk venue. Wih, hareudang, lho. Tanpa basa-basi, trio grindcore ini langsung menggerinda telinga penonton dengan tembang-tembang kedemenan baik dari album Pandora (2007) hingga RajagnaruK (2011) seperti Tujah, Balada Sumanto Part I, Invasi Rock N Roll Garasi, Killed by Rajasinga, Kokang Batang, Good Shit 4 Good Friends, Soundtrack Balap, Anak Haram Ibukota, Dilarang Berbisa, 99% THC 1% Skill, dan masih banyak lagi.
Nggak hanya itu, Rajasinga juga ngebawain beberapa materi anyarnya, salah satunya Stoned Magribyang baru dirilis Jumat kemarin. Lalu mereka juga nge-cover lagu Lawan dari gegedug hardcoreBandung, yaitu Jeruji dengan versi mereka sendiri. Huhu mantap! Cuma itu doang? Nggak juragan. Di lagu Rajagnaruk, Rajasinga mengajak Andre Tiranda (Siksa Kubur) untuk unjuk gigi dengan mengisi lengkingan melodi gahar nan muruluk. Alhasil, duet maut pun terjadi disana. Pokoknya mahsuasana di sana teh panas, ganas, dan beringas. Aksi-aksi seperti body surfing, moshing, bahkan sing a long ‘pecah’ di antara penonton, berbanding terbalik sama suasana di kota santrinya Anang dan Krisdayanti. Iya atuh jelas.
Setelah Rajasinga beres, Navicula nggak langsung main, mereka harus siap-siap dulu. Kayaknyamah olahraga heula. Teu ketang. Kata mang Amenkcoy sebagai moderator dari acara, kita dikasih waktu 15 menit untuk nunggu sebelum Navicula naik ke panggung. Yaudah lah, saya dan penonton lainnya keluar venue dulu untuk sekedar beli minum dulu sekalian sebats (lagi). Hehe. 15 menit berlalu, penonton diajakin masuk karena Navicula udah siap untuk pentas.
Well, makin malam, makin rame. Iya, lah, selain mau nonton Rajasinga, banyak juga orang-orang yang baru nonton Navicula pertama kali, termasuk saya. Namun, seketika saya bingung, “kok gitarisnya bule, sih? Dankie kemana?” lebay, yah. Hahaha. Ternyata Dankie berhalangan hadir dan digantiin sama si bule yang punya nama Edward Endrus. Hehe. Walaupun Dankie berhalangan hadir, tapi penonton tetep menikmati aksi panggung dari mereka.
Tanpa tedeng aling, Navicula langsung ugal-ugalan dengan membawakan banyak lagu, di mana lagunya itu identik dengan kritisnya barudak Navicula terhadap politik dan hukum. Mantap jiwa, Bli! Hehehe. Bubur Kayu, Orangutan, Mafia Hukum, dan Metropolutan yang berhasil dibawakan dengan sadis. Selain itu, Navicula juga ngasih kamu waktu untuk tarik nafas dengan selingan akustik pada lagu Di Rimba yang dibawain oleh Gede Robi sang vokalis secara personal. Alhasil, riuhnya penonton seketika tenggelam bersama petikan gitar yang syahdu.
Kayaknya, sih, Navicula juga nggak mau kalah sama Rajasinga. Mereka juga mengajak seorang penulis bule yang lagi nulis mengenai skena musik indie Indonesia, Joe Jasson untuk duet. Wuhuuu mantap. Walaupun keliatan udah berumur, tapi jiwa mah tetep muda siah dia teh. Mereka juga sempet nge-cover lagu milik Pearl Jam yang bertajuk Alive. Hehehe berasa balik lagi ke jaman 90-an gitu deh.
Seperti biasanya, di akhir acara, penonton mengumandangkan “wi wa wo wi wa wo”. Yaudah deh, karena Navicula baik hati, mereka bersedia menutup acara Konser Alam Raja dengan lagu Televishit. Huhuhu seneng. Sebenarnya, sih, saya agak sedikit kecewa, karena lagu kedemanan saya Days of War Nights of Love dan Tomcat nggak dibawain, tapi yaudah, lah, nggak apa-apa. Segitu juga uyuhan. Hehehe. Makasih, ya, Bli.
Segitu aja ah ceritanya, udah banyak teuing. Nyesel ya nggak dateng? Mangga mamam. Bakal nyeselsaminggueun atau seumur hidup, lah. Hahahaha. Sampai jumpa di gelaran Liga Musik Nasionalberikutnya, ya. Daaah~
Liga Musik Nasional VIII (2015): Makin Lama Makin Megah
*(liputan ini diposting ulang dari surnalisme.com)
Waktu : Minggu, 13 Desember 2015, Pukul 19.00 WIB s/d selesai
Tempat : IFI Bandung, Jln. Purnawarman No. 32
Penampil : Rajasinga & Navicula
Secara pribadi, Liga Musik Nasional (Limunas) cukup banyak memberi kenangan mendalam terutama ketika berbicara soal peliputan acara musik. Harus saya akui, bahwa Limunas edisi ketiga (Sigmun, Speedkill, Jeruji, di Karamba Cafe-Bandung, 20 April 2012) adalah pengalaman pertama saya dalam usaha membuat reportase gigs—meski ujung-ujungnya hanya membantu wawancara, selebihnya digarap oleh Karel yang saat ini merupakan salah satu awak dari Surnalisme.
Sempat dilarang masuk secara cuma-cuma oleh panitia karena bukan bagian dari media partner resmi (saat itu masih meliput untuk pers kampus tempat saya berkuliah), moshing bersama para personil Gondrong Kribo Bersaudara (GRIBS), meng-interview Doddy Hamson (panitia, vokalis Komunal) serta Themfuck (eks. vokalis Jeruji), adalah kenangan tersendiri pada masa itu.
Time flies, dan saat ini kondisinya berbeda: Limunas terbilang sudah ‘megah’ (bahkan pernah menggandeng brand besar sebagai sponsor), dan kini saya bisa menuliskan reportasenya lantas datang sebagai peliput yang merupakan wakil dari media partner resmi. Lol.
Kembali ke topik utama menyoal Limunas VIII yang bertajuk “Konser Alam Raja”. Beberapa penulis kami sebelumnya pernah mengeluh tentang hujan, dan kini saya merasakannya. Namun mau bagaimana lagi, meski usaha untuk menembus sudah dilakukan, saya bersama Karel (lagi) tetap telat dan mendapati bahwa Rajasinga telah sampai pada penampilan lagu kesembilan, “N.A.D. Kush”. Lagu favorit saya, apalagi ketika suara Sayiba R. Bajumi (vokalis Kelelawar Malam) menggemakan “kalian gila/membungkamnya/budidaya/sekarang juga!” dengan seramnya, jika kita mendengarkan di rilisanRajagnaruk.
Rajasinga tak banyak berubah: tetap galak, menggerinda, ketiganya terlihat akrab di panggung, dan basis-vokalis Morgg selalu menyempatkan bercanda dengan penonton pada beberapa jeda lagu. Total lagu mereka bawakan sekitar 20 lebih, baik nomor lama hingga materi yang akan masuk ke album terbarunya nantiIII:RAJASINGA yakni single “Stoned Magrib” dan “Pembantah”.
Terjadi kolaborasi unik saat bagian melodi “Rajagnaruk” berkumandang, yakni oper-operan memainnkan gitar dari Biman ke Rudi (pernah mengisi gitar di Jeruji dan Disinfected), lalu dari Rudi ke Andre Tiranda (Siksakubur), dan balik lagi ke Biman. Penampilan trio grindcore ini ditutup dengan “Anak Haram Ibukota”. Tak ada masalah, semuanya berjalan normal.
Acara diistirahatkan selama 15 menit untuk kemudian dilanjut oleh Navicula. Penonton banyak yang memilih untuk mencari udara segar di luar (karena venue IFI terbilang minim ventilasi serta pengap apalagi kalau merokok), namun ada juga yang tetap di dalam sambil duduk dan mempersiapkan dirinya berada pada jajaran depan saat unit grunge asal Bali tersebut nanti main.
Tiba juga giliran “the Green Grunge Gentlemen” main. Gitaris Dankie memang tak ada di panggung, karena menurut drumer Gembull “dia sekarang lagi di luar negeri sampai Januari 2016”. Adalah Edward, yang malam itu mengganti peran pria berambut gimbal tersebut. Massa grunge pun mulai merapat ke depan dan segera digerus adrenalinnya lewat tembang “Menghitung Mundur”.
Satu kekhawatiran yang selalu melanda sebuah gigs dan terkadang membuat jengkel musisi adalah masalah sound, dan itu sempat terjadi di awal penampilan Navicula. Robi sang frontman sempat menghibur dengan berkata “tenang, suara itu adalah bagian dari fx kami” meski penonton tahu yang sebenarnya dan lebih memilih untuk tertawa saja. Suara bising tak jelas itu akhirnya hilang, dan baik Navicula serta penonton kembali menghayati panggung.
Navicula tampil dengan gaharnya. Mereka turut membawakan beberapa lagu milik musisi luar negeri salah satunya “Alive” dari Pearl Jam, Nirvana “Rape Me”, dan Red Hot Chili Peppers berjudul “Fortune Faded”. Joe, kolega mereka selaku penulis dari Bangkok 101 Magazine, juga turut mengisi bagian gitar pada beberapa lagu. Konser berlangsung secara intim sampai encore “Televishit” tiba dan menutup aksi mereka. Total lagu yang dibawakan oleh Navicula yakni sekitar 16, dan overall penampilannya lancar.
Bagi para penampil, mereka puas dapat bermain di Limunas—terutama Rajasinga yang memang masih satucircle dengan para penggerak acara ini. “Bermain di Limunas itu seperti ‘pulang ke rumah’. Kami, Rajasinga, merasa senang dapat menjadi bagian dari acara ini. Kita juga menjadi penampil di Limunas edisi pertama yang dulu diselenggarakan bersama Kelelawar Malam dan Vrosk,” ungkap Revan selaku drumer.
Gembull (drum) serta Made (bas) dari Navicula pun, turut mengungkapkan hal yang sama. “Mungkin setelah ini, kita akan tetap melakukan show lagi dan mengerjakan proyek lainnya. Itung-itung pembelajaran buat kita,” jelas Gembull. Made ikut menambahkan perkataan sang drumer, meski pada beberapa momen ia terlihat capek (atau entah apa penyebabnya) dan sempat beberapa kali merebahkan kepala di atas meja. Tak apa, mungkin penampilannya yang enerjik lantas segera membuat dirinya lelah.
Lewat pengamatan keseluruhan, Limunas VIII berlangsung secara baik dengan crowd yang tertib pula. Tak ada kerusuhan atau apapun itu, baik di dalam maupun luar venue. Banyak lapak merchandise yang memenuhi area sekitar, sehingga pengunjung dapat membelinya tanpa repot-repot. Overall, gelaran ini sangatlah apik untuk menutup tahun 2015. Akan seperti apakah Limunas edisi kesembilan? Bahwa akan sesuai harapan (seperti yang sekarang) atau mungkin mengecewakan, mari kita tunggu kejutannya.
Saya bersama awak media Surnalisme lainnya seperti Karel dan Firman yang pulang sekitar pukul 00.30 WIB, mendapati bahwa motor kami yang terparkir di perempatan Jln. Purnawarman (dekat Circle K) telah disimpan dalam sebuah warung makan. Petugas parkir pulang, dan kami terpaksa harus mengambil keesokan harinya. Tak tanggung-tanggung, biaya parkir hingga 25 ribu per motor. Pesan moral: jika ada acara musik lagi di IFI Bandung, lebih baik parkir di Toko Buku Gramedia atau Circle K. Tak lupa, konfirmasikan jam kepulangan Anda pada petugas parkir. Ciao!
DOKUMENTASI FOTO
DOKUMENTASI VIDEO