TERAPI URINE | MOONER | KOMUNAL | 2 SEPTEMBER 2017 - IFI BANDUNG
ARTIKEL
Pers Rilis Liga Musik Nasional X
Liga Musik Nasional X
Komunal, Mooner, Terapi Urine
2 September 2017
IFI Bandung JL. Purnawarman 32 Bandung
Presale Tix. IDR 75K*
OTS IDR 100K.
Liga musik nasional kali ini menginjak angka ke-10. Sebagai perhelatan yang dibuat tanpa tendensi apa-apa kecuali untuk bersenang-senang sembari menonton band yang disukai, tentu saja ini adalah pencapaian tersendiri.
Dari sepuluh kali perhelatan, termasuk yang akan diselenggarakan kali ini, dua kali liga musik nasional bekerja sama dengan sponsor korporat, sisanya, swadaya. Mengandalkan jaringan pertemanan, meminta dukungan dari kolega, lalu tentu saja mengandalkan penjualan tiket dan merchandise dari acara dan band yang tampil. Artinya, sponsor liga musik nasional adalah band, teman-teman pembeli tiket dan merchandise juga panitia yang bersedia bekerja setiap kali limunas diadakan.
Susah? Tidak. Mudah? Tidak juga. Ada banyak hal yang harus diperjuangkan. Tapi setiap kali pertunjukan limunas diadakan, melihat pertunjukan yang bagus, interaksi penonton dengan band yang terjadi selama pertunjukan berlangsung, melihat semua wajah yang berseri ketika keluar dari gedung pertunjukan, itu adalah sesuatu yang sangat berharga dan memang harus terus diperjuangkan.
Dimulai dari 2011, sampai sekarang 2017, wajah kota telah berubah. Peta pertunjukan juga berubah. Jika dulu Limunas adalah satu dari sekian banyak gigs diy yang diselenggarakan, sekarang sedikit sekali jumlah pertunjukan yang benar-benar berdiri secara independen. Kami akui, tidak mudah menyiasati biaya pertunjukan yang makin membengkak, ijin pertunjukan yang makin mahal dan juga kebiasaan penonton yang makin dimanjakan dengan pertunjukan yang tidak berbayar.
Tapi tentu saja semua itu tidak akan menghentikan kami untuk terus mengadakan pertunjukan ala Limunas. Kali ini kami mengajak band muda, Terapi Urine, unit grindcore ugal-ugalan yang baru saja merilis album terbarunya petenteng via instagram. Ada Mooner dengan album perdananya Tabiat yang merupakan band besutan Rekti, pentolan The Sigit. Lalu ada Komunal, unit band heavy metal yang cukup ditunggu penampilannya bahkan oleh para panitia limunas karena mereka cukup sulit ditemui dipanggung-panggung umum.
Nah. Apalagi alasan yang kurang untuk menghadiri gelaran Limunas kali ini? Jadi ketemu dan pesta kita di moshing pit?
Sampai jumpa dan salam hangat,
Liga Musik Nasional
=====================================
Terapi Urine
Terapi Urine adalah Andry Joe Novaliano (Gitar), Qori (Qoi) Hafiz (Bass), Aris Nugraha (Gitar),Fikry (Toing) Yudhapratista (Drum) dan Yunendra Adiputra (Penyanyi). Dibentuk di Bandung sejak 2011, band ini banyak menyentil tentang riuh rendahnya kehidupan urban dalam lirik-lirik di album mereka. Meski dalam penampilannya mereka tampak tidak serius, sebetulnya mereka selalu benar-benar berpikir tentang apa saja yang akan mereka bawakan diatas panggung. Saat ini mereka telah merilis album penuh kehidupan yang vhana ini dan juga Petenteng yang rilis di Instagram. Selain itu, mereka juga beberapa kali berkolaborasi dengan band lokal lain untuk merilis album split. Dalam waktu dekat mereka juga akan merilis Poranda yang merupakan album split dengan Gerrram.
Mooner
Memainkan music rock dengan pengaruh era 70-an, Mooner mencuri perhatian lewat album perdananya, Tabiat. Keempat personilnya juga bukan sosok asing dalam kancah musik indie karena mereka juga tergabung dalam band lain selain Mooner. Rekti Yoewono dari The Sigit, Pratama Kusuma Putra dari Sigmun, Absar Lebeh dari The Slave, dan Marshella Safira dari Sarasvati.Tagline #nasipadangeveryday ternyata diam-diam menjadi amunisi supergrup ini karena apa yang mereka lakukan dengan musik adalah mengentalkan pengaruh lokal dalam apa yang ingin mereka perdengarkan di album Tabiat.
Komunal
Band yang di bentuk di Bandung pada tahun 2004 ini memainkan musik Blues Rock Heavy Metal. Sudah mengeluarkan tiga album yaitu Panorama (2004), Hitam Semesta (2008) dan Gemuruh Musik Pertiwi (2012), mereka banyak mendapat pujian dan tempat di hati dan telinga para pendengarnya.
Pada tahun 2008, Hitam Semesta masuk daftar album terbaik dan tahun 2012, Hitam Semesta juga masuk daftar cover terbaik versi majalah Rolling Stone Indonesia. Kemudian pada ajang Indonesia Cutting Edge Music Awards (ICEMA) mereka mendapatkan penghargaan untuk kategori Best Rock/Hard Rock Song dan best album untuk lagu dan album yang bertajuk sama, Gemuruh Musik Pertiwi.
Komunal adalah Doddy Hamson (vokal), Muhammad Anwar Sadath (gitar), Arie Khomaini (bass), and Reza HK (drum). Sementara posisi Arie Khomaini yang absen karena kesibukannya digantikan oleh Arief Tri Satya atau dikenal juga dengan nama Arief Snik.
“Liga Musik Nasional X” Hadirkan Konsistensi dalam Hepi-hepi *
*(liputan ini diposting ulang dari roi-radio)
Kayaknya udah nggak begitu asing kalau sekarang di beberapa ruas jalanan Bandung selalu ketemu yang namanya macet. Bahkan di hari-hari biasa aja jalanan di Bandung udah bisa bikin rudet, komo deui lamun weekend, buat yang nggak kuat mah pasti udah ngutruk sambil update di medsos, padahal yang update juga kan bawa kendaraan. Berarti bikin macet juga? Huhu, Jadi serba salah dong ya.
Termasuk di hari Sabtu (2/9) kemarin, kendaraan yang mengarah ke Jalan Purnawarman lumayan padat. Ada angkot dengan segala tindak-tanduknya, ada antrean motor driver ojek online yang mejeng, dan ada saya juga sama iring-iringan motor lain yang masuk ke IFI. Tapi, kalem, motor yang masuk ke IFI bukan mau pada nangkring kopdar klub motor, tapi memang hari itu ada kegiatan dari paguyuban Liga Musik Nasional yang ke-10, yang dihelat di Auditorium IFI. Hehe, tempat kojo kita semua. Antrean kendaraan dan muda-mudi yang masuk ke IFI lumayan padat. Bukan tanpa alasan sih, pasalnya di gelaran Limunas ke-10 ini jajaran line up diisi oleh porsi berbahaya; Santan, Jeroan, dan Emping. Waduh, rawan asam urat, sorry. Asli, bahaya, soalnya malam itu gelaran Limunas ke-10 siap dibuat jadi bagus oleh Terapi Urine, Mooner, dan Komunal. Dengan penuh kesadaran, malam itu saya ngerasa IFI mendadak heurin seperti di Pasar Baru. Teu~
Acara dimulai sekitar jam setengah delapan malam. Ya, meski nggak tepat sesuai waktu yang dijanjikan, tapi teu nanaon, saya jadi bisa jajan baso tahu dulu. Setelah ada aba-aba acara akan segera dimulai, muda-mudi yang mayoritas pake kaos item itu murudul paboro-boro masuk ke Auditorium IFI dan langsung berbaris rapi tanpa diberi komando dulu. Mantap, seperti antrean semut hitam. Tapi, bukan lagu Godbless.
Tanpa ada basa-basi banyak, semua yang hadir langsung disambut oleh Terapi Urine sebagai opener di hajatan Limunas kali ini. Di awal, unit grindcore antiq yang malam itu berseragam ijo-ijo langsung memainkan tembang-tembang pilihan para personilnya. Meski penonton lebih banyak diem sambil sesekali ketawa-ketiwi, tapi Yunendra Adiputra (Vokal), Andry Joe (Gitar), Aris Nugraha (Gitar serta Kandidat Bogor 1), Qori Hafiz (Bass), dan Fikry (Drum) terus nge-gass hingga penonton mulai nyanyi bareng di tembang Trash, Tacvlt, dan Cicil. Penampilan mereka malam itu ditutup dengan lagu yang saya lupa judulnya, hahaha. Hampura ya.
Setelah beres, penonton dikasih waktu 15 menit buat rehat dulu sebelum selanjutnya bakal digenjot oleh Mooner. Baiklah, akhirnya saya ngaso sebentar sambil ngecek gerbang toko BEC. Ternyata, alhamdulillah, masih pada buka, masih ada yang balanja. Hehe. 15 menit berlalu, dan saya langsung masuk lagi ke venue. Wadaw, semakin malam, malah semakin rame.
Sebagai yang jarang menyaksikan Mooner secara langsung, saya jadi penasaran dengan aksi panggung dari unit supergrup yang digawangi Rekti (Bass), Marsheilla (Vokal), Absar (Gitar), dan Tama (Drum) ini. Tanpa tedeng aling, Mooner langsung memanaskan IFI dengan tembang-tembang dari album Tabiat (2017) ditambah satucover lagu yang bertajuk Dreamer milik The Slave. Ternyata ekspektasi saya terbayar, kontan di payuneun raray. Meski unit pariaman blues ini memang nggak begitu atraktif, tapi setelah menyaksikan Mooner, penonton jadi lebih panas dan lebih ngesang. Hehe, karena kondisi sound yang hauce, malam itu saya tasbihkan kalau saya juga lebih bisa menikmati Mooner secara langsung dibanding cuma dengerin via CD. Tapi, satu pertanyaan yang cukup mengganggu saya malam itu, “kemana sih, The Slave?”
Ingkar dijadikan lagu penutup aksi dari Mooner. Setelahnya, tanpa ada arahan, penonton langsung bubaran istirahat dulu buat ngarenghap dan ngelap kesang yang kalau berkerak malah jadi lengket di leher. Sori. Tapi, nggak sampai menunggu lama, penonton sudah langsung paboro-boro lagi masuk ke venue. Tentu saja, semua ingin ada di garis terdepan meyaksikan Komunal yang menjadi pawang terakhir di helatan Limunas ke-10 ini. Kuartet heavy metal – blues ini langsung disambut dengan “wawewo” khas penonton, tapi sayang, cuma MasDod aja yang digorowokin namanya. Tapi, yang lain juga disambut dengan kekeprok. Meriah lah.
Tanpa ada ba-bi-bu tembang andalan seperti Pasukan Perang dari Rawa, Budaya Purba, Adong Nang Diada, Hitam Semesta, Tarankanua, Gemuruh Musik Pertiwi, Ngarbone, dan beberapa lagu lain dari ketiga album terdahulunya sukses dibawakan satu per satu. Bikin saya inget sama keriuhan dan keintiman#GemuruhMusikPertiwi di 2013 lalu, suasana malam itu nggak jauh berbeda. Cuma pas 2013 mah saya masih sekolah di SMK.
Sabtu malam itu meriah dan menyenangkan! Teman-teman saling mengambil alih mic, stage dive, dan berbagikesang terjadi hampir di setiap lagu. Waduh, seru pisan. Kamu yang malam itu dateng, pasti merasakan keseruannya. Pokoknya, buat kamu yang nggak bisa dateng, watir pisan.
Rasanya nggak terlalu berlebihan kalau saya menganggap Limunas sebagai kolektif dari Bandung yang tau caranya untuk bersenang-senang. Eh, atau terlalu berlebihan ya? Hahaha. Tapi, salut pisan sama konsistensi dari Liga Musik Nasional yang selalu bisa menggelar gigs yang cukup eksklusif, mampu menghadirkan teman musisi yang jarang atau bahkan mereka yang belum pernah mampir ke Bandung, juga kemampuan mengemas acara dengan baik. Tentu, semua itu perlu kita apresiasi dengan cara datang ke setiap helatan yang mereka buat.
Iya, kolektif swadaya ini memang “aneh”. Diantara helatan mewah yang sering hadir di Bandung, Kolektif Limunas masih saja mau terus bergerilya untuk selalu memberikan daya tarik yang nggak lazim. Setiap pergerakan dari Limunas seolah-olah berkata, “Mau hura-hura? Yeuh! Jiga kieu atuh brad!”. Adios, Limunas X. Sampai jumpa lagi di acara hepi-hepi yang lain!
Gig Review: Limunas X
*(liputan ini diposting ulang dari Qubicle)
Oleh: Ralmond Farly
Liga Musik Nasional, salah satu seri musik penting di Bandung, telah memasuki pergelarannya yang ke-10 sejak pertama kali diadakan pada tahun 2011. Di edisi ini, tampil band grindcore jenaka, Terapi Urine, band pariaman psikedelik rock, Mooner dan Komunal yang tidak pernah mengecewakan. Auditorium IFI Bandung, pada 2 September 2017 lalu panas oleh energi yang berputar.
Acara dibuka oleh Terapi Urine yang mencampuradukkan lirik jenaka dengan aransemen khas grindcore yang keras. Mereka berhasil memecah tawa penonton. Mooner, yang mengikuti setelahnya membuat adrenalin dan telinga bekerja di luar batas. Komunal tampil menjadi penutup yang memuaskan para penonton malam itu. Set lagu panjang dan lirik-lirik yang pedas khas Doddy Hamson menjadi hiburan untuk fans yang merayakan malam itu dengan bercrowdsurfing ria dan menyanyi bersama band favorit mereka.
Acara musik yang komplit tentu saja tidak hanya melibatkan panitia dan band pengisi acara yang tampil membawakan set lagu yang menarik, tetapi juga sukses melebur energi penonton di area panggung dan mosh pit. Akhirnya, ia menyajikan sebuah pengalaman baru dalam menonton sebuah acara musik keras yang. Agendakan Limunas berikutnya sebagai acara musik yang harus kalian tonton. (*)
Reportase: Kejayaan Terapi Urine, Mooner dan Komunal di Limunas X
*(liputan ini diposting ulang dari djarumcoklat.com)
oleh: Alfie Fadhlan
“Akhirnya, Limunas kembali hadir dengan suguhan pesta pora musik rock di konser yang ke-sepuluh.”
Untuk ke-sepuluh kalinya, Liga Musik Nasional atau Limunas sukses digelar. Gedung IFI Bandung menjadi saksi bisu dari penampilan prima ketiga band berkarakter kuat, yaitu Komunal, Terapi Urine, dan Mooner. Komunal dengan aliran heavy metal-nya, Terapi Urine dengan grindcore berbalut komedi, dan grup musik muda Mooner menjadi daya tarik tersendiri dari gelaran acara Limunas yang diselenggarakan pada tanggal 2 September 2017 lalu.
Tentu, digelarnya kembali acara Limunas menjadi magnet bagi penikmat musik keras di Kota Bandung, termasuk saya pribadi yang memang gemar mendengar musik dari tiga band pengisi acara Limunas X tersebut. Dan jauh hari setelah publikasi dimana-mana mengenai akan hadirnya acara ini, saya sempat mengidam-idamkan untuk menyaksikannya hingga pada hari perhelatannya, pun saya berangkat dari kediaman dengan bersemangat penuh. Namun, karena tersendat kemacetan, saya melewati beberapa momen di Limunas dan baru dapat hadir di lokasi ketika Terapi Urine sudah membawakan beberapa lagu. Ini adalah penampilan Terapi Urine yang saya saksikan untuk kedua kalinya, setelah mengisi sebuah acara kolektif bertaraf studio show tak lama setelah album Kehiduvan Yang Vhana Ini (2014/Anarkopop Records) dirilis.
Lama tak menyaksikan aksi konyol dari grup grindcore Terapi Urine, penampilan mereka diLimunas X kemarin ternyata memang tidak melenceng dari pakemnya. Unsur jenaka saat berada di atas panggung mereka sajikan, contohnya dengan membuat sebuah peraturan seperti ini: jika salah satu personilnya salah memainkan musik, personil tersebut harus dihukum dengan carapush up di atas panggung. Selain itu, mereka pun menggunakan kostum unik, seperti layaknya seragam pemadam kebakaran atau pegawai pombensin serba kuning. Sekitar sepuluh lagu (atau lebih) dibawakan oleh Terapi Urine kemarin, yang diambil dari album split, album studio, termasuk dari materi baru yang mereka rilis via Instagram bertajuk Petenteng (2017).
Saya sendiri sangat menikmati pesta pora Terapi Urine saat mereka membawakan lagu dengan tema yang sangat sederhana, seperti “Barokah”, “Pasar Santa”, dan “Wanita Fana”. Di sela permaianan lagu yang berdurasi singkat itu, beberapa personil Terapi Urine menyerukan dengan lantang, layaknya kampanye teruntuk sang gitarisnya bernama Aris berbunyi “Dukung Aris For Bogor!!!”. Penampilan Terapi Urine saat mengisi acara Limunas X kemarin terbilang lancar, konyol dan super-duper ugal-ugalan. Meski sempat mengalami kendala pada bass yang digunakan oleh Qori ‘Masqoi’, tapi penampilan Terapi Urine menjadi pemantik yang cukup meriah untuk Limunas X.
Setelah penampilan Terapi Urine, acara Limunas X dihentikan sejenak untuk break. Pada saat itu, terlihat para personil Mooner sedang hilir-mudik membawa seperangkat alat musik mereka ke atas panggung. Selama sesi break berlangsung, saya beserta rekan penonton lainnya memilih untuk keluar sejenak dari venue, sekedar mencari angin dan menyulut sebatang rokok sembari berbincang dan menunggu performa band selanjutnya: Mooner. Pada sesi break ini juga tak sedikit penonton yang mengunjungi area booth Omuniuum untuk membeli merchandise, serta juga terlihat beberapa pengunjung baru datang dan membeli tiket Limunas X paket on the spot.
Tepat di sebelah kanan gate IFI Bandung, acara Limunas X menampilkan beberapa hasil foto dokumentasi sedari awal diselenggarakan acaranya hingga edisi ke-sembilan. Tak sedikit juga beberapa kolega kolektif Limunas X dan Omuniuum, khususnya para musisi yang sempat memeriahkan edisi Limunas sebelumnya, ikut bernostalgia ketika melihat bilik yang ditempeli foto-foto tersebut.
Ketika saya sedang ngobrol dengan rekan saya di luar venue, Boit sang pemilik Omuniuum mencakup panitia Limunas teriak dengan lantang, “buat pengen liat aksi Mooner, silahkan masuk!”. Setelah mendengar teriakan Mbak Boit itu, saya dan rekan saya langsung bergegas masuk dalam antrian. Benar saja, seluruh personil Mooner telah hadir di atas panggung dan membawakan salah satu lagunya. Dalam lubuk hati, saya berkata, “untung saja tidak telat”.
Ketika masuk ke dalam venue yang cukup gelap dan hanya bermodalkan cahaya dari atas panggung, saya kembali teringat pada penampilan Mooner sebelumnya, yang juga tampil di IFI. Kala itu, album Tabiat belum dirilis dan Mooner didapuk sebagai opening act untuk Polka Wars. Kembali pada Limunas X, tanpa basa-basi Mooner langsung membuka penampilannya lewat permainan intro yang berlandaskan musik rock 70’an yang dicampurkan dengan nuansa musik ala Timur Tengah.
Menyaksikan performa Mooner pada malam itu cukup berkesan bagi saya, karena selain melihat performa kedua mereka di tempat yang sama, visual latar yang mengiringi selama penampilan Mooner pun dibuat sedemikian rupa, dari penggabungan beberapa penggalan video hingga cover artwork karya dari Diexgrey. Karya tersebut diubah menjadi tampilan negatif, seakan ada unsur psikedelia dalam penampilan Mooner di acara Limunas X ini. Usai intro, Mooner langsung membawakan beberapa lagu yang diambil dari album penuh bertajuk Tabiat, seperti “Ingkar”, “Buruh”, “Ternganga” dan lain sebagainya. Hentakan musik rock yang disulutkan oleh Mooner kala itu tak luput disorot oleh berbagai kamera, baik dari penonton maupun beberapa media.
Setelah sukses membawakan beberapa lagu andalannya, ada satu sesi dimana Mooner menampilkan sesuatu yang mungkin belum pernah mereka lakukan sebelumnya di atas panggung, yakni mengundang salah satu pemain gendang untuk berkolaborasi dengan mereka. Selepas Mooner membawakan salah satu lagunya, Rekti langsung menyulut permainan bassdengan tempo yang lebih condong pada genre dangdut/psychedelic, dan langsung dilanjutkan oleh permaianan gendang beserta instrumen-instrumen musik lainnya. Penampilan ini membuat saya semakin terkesan. Adalah hal yang baru bagi saya untuk melihat secara jelas musik Timur Tengah dari Mooner. Menuju akhir penampilannya, Mooner kembali mengagetkan saya beserta penonton lainnya dalam venue, karena Mooner membawakan lagu “Dreamer” milik The Slave (Absar sebagai gitaris Mooner dulu merupakan gitaris dari grup The Slave), dan ditutup dengan membawakan lagu Mooner lainnya.
Selepas penampilan Mooner, para penonton kembali keluar untuk mencari udara segar, mengingatvenue tersebut cukup pengap dengan ventilasi udara yang kecil. Tak luput saat mereka keluar, paras wajah yang berbinar-binar setelah penampilan Mooner menjadi indikator rasa puas dari penonton. Tetapi, kala itu semua penonton sudah benar-benar menantikan band yang sudah tidak asing lagi di telinga, yaitu Komunal. Para penonton kembali berbondong-bondong untuk masuk ke dalam venue, sekitar beberapa menit setelah mereka menyaksikan Mooner. Tak sabar ingin menyaksikan penampilan Komunal, saya pun ikut terbawa arus antrian yang membosankan.
Setelah melewati antrian yang berulang saat pergantian line up itu, saya akhirnya kembali memasuki area venue Limunas X, dan langsung disambut oleh kegagahan sang gagak hitam dari Kota Bandung bernama Komunal. Kembali ingin mengulang sedikit fenomena tentang penampilan Komunal yang pernah saya datangi, ini kali ke-tiga saya menyaksikan penampilan Komunal yang cukup keren, dan pertama di acara Limunas dengan sangat gagah. Namun, dalam hati saya bergelut heran pada band bergenre heavy metal ini. Setiap penampilannya, setidaknya yang saya datangi, saya mereasa seakan ada energi yang sangat kuat dari mereka. Padahal jika diliat dari kemunculannya, Komunal sering absen dari beberapa panggung tapi sekalinya mereka muncul rasa puas dan ingin menyaksikannya pun tak terbendungi.
Penonton yang telah menyimpan energi dan bersiap untuk penampilan Komunal diluapkan secara brutal selama penampilan Komunal berlangsung dengan melakukan aksi stage diving. Beberapa lagu andalannya dibawakan, seperti “Manusia Baja”, “Gemuruh Musik Pertiwi”, “Pasukan Perang Dari Rawa”, “Rock Petir” dan lain sebagainya yang diambil secara acak dari tiga album studionyaPanorama (2004), Hitam Semesta (2007), dan Gemuruh Musik Pertiwi (2012). Komunal terus mengibaskan sayapnya tanpa henti kala itu dan membakar panggung IFI bersama dengan energi penonton lainnya. Dan bagi saya pribadi selain merasakan atmosfir berapi-api dari musik Komunal itu, saya sangat terpaku akan latar panggung saat Komunal tampil, yaitu artwork album Gemuruh Musik Pertiwi bertemakan burung Gagak ala Bhinneka Tunggal Ika hasil karya dari Riandy Karuniawan.
Di tengah penampilannya, vokalis Komunal bernama Doddy Hamson sesekali mengajak berbincang bersama penonton dari atas panggung. Salah satu yang saya ingat seperti ini, “katanya di dalam IFI ini tidak boleh merokok, tapi kalau saya yang merokok tidak apa-apa kan?”. Penonton menjawab, “nggak apa-apa, Mas Dod!”, pria berdarah asli Sumatera Barat itu pun langsung membakar sebatang rokok pertamanya dan musik Heavy Metalnya pun kembali berkumandang di acara Limunas X. Penampilan Komunal dilanjutkan kembali, dan penampilan mereka semakin agresif, terlebih saat membawakan lagu “Ngarbone”. Di tengah lagu tersebut, kegilaan penonton semakin membludak, hingga mereka memberanikan diri untuk naik ke atas panggung dan bernyanyi bersama Doddy Hamson.
Selama atmosfer kegagahan Komunal itu berlangsung, Sadath merasa gerah hingga ia melepaskan kausnya. Melihat aksi yang dilakukan oleh Sadath, penonton menyulut ke arah Doddy Hamson yang mengharuskan ia melakukan hal yang serupa seperti Sadath lakukan. Tapi, Doddy Hamson tidak mengamininya, setidaknya hingga beberapa lagu yang lalu akhirnya ia menyerah dan melepaskan kaus berwarna merahnya itu. Apresiasi penonton terus menggila hingga akhir penampilan Komunal. Saya puas dan bangga setelah menyaksikan acara kolektif seperti Limunas
Rasa puas, bahagia dan takjub akan aksi dari tiga grup rock di acara Limunas X ini dirasakan oleh semua penonton saat keluar dari IFI. Saat saya keluar dari venue, terdengar selintas perbincangan dari penonton lain akan acara Limunas X dalam Bahasa Sunda, “keren pisan euy bieu nu maen teh, puas aing lah” (“keren banget yang barusan pada manggung, saya puas”), ucap mereka.
Inilah pengalaman pertama saya menyaksikan acara Limunas. Semoga di acara Limunas selanjutnya, saya bakal merasakan atmosfir seperti ini lagi, bahkan berharap lebih.
*(liputan ini diposting ulang dari djarumcoklat.com)
Liga Musik Nasional X: Jilid “Satu Strip”, Hura-Hura Kompatriot Heavy Metal.
*(liputan ini diposting ulang dari surnalisme.com)
Oleh: Saputra Dimas
Ada hal yang kurang efektif ketika menonton heavy metal daun hijau tanpa secuil kerajinan tangan dalam bentuk lintingan sedikit pun. Setidaknya itulah yang dirasakan Bangsat Permanen pada malam Sabtu (2/9) kemarin. Otak di dalam tempurungnya lah yang kurang efektif . Dasar junkie.
Beberapa waktu lalu saya sempat ditugaskan melakukan sebuah interview bersama Dody Hamson (Komunal). Ia sempat berujar akan membuat konser di IFI sehabis lebaran. Ya, tentu saja tebakan saya tepat. Liga Musik Nasional.
Liga Musik Nasional, sebuah kolektif penggiat acara yang selalu mengedepankan kepuasan penonton yang hadir, kini telah menginjak jilid ke-sepuluh. Satu strip. Jarak yang lumayan jauh dari jilid sebelumnya yang bertajuk “Program Party Seringai”. Hampir satu tahun lebih.
Seperti biasanya, pertunjukan digelar di dalam auditorium IFI Bandung yang terletak di kawasan Purnawarman. Unit grindcore hits dan super norak, Terapi Urine, mendapat tongkat estafet sebagai penampil pertama.
Saya tiba di venue ketika jeda antara penampil satu dengan yang lainnya. Melewatkan suguhan parodi lawak pinggiran yang di balut disonansi grinding senapan mesin ala Terapi Urine. Bangsat. Saya ingin menyaksikan kolaborasi di lagu “Panggil Aku Masboi” bersama Doddy Hamson.
Satu-satunya hal yang saya tau, mereka mengenakan kostum montir bengkel seragam layaknya Slipknot dengan warna hijau norak. Dengan menjunjung tinggi etos kitsch nan estetik, Terapi Urine merilis sebuah album dengan tajuk “Petenteng” dalam format akun instagram beberapa minggu yang lalu. Ya, saya bilang instagram.
Adalah suatu hal yang menarik perhatian ketika Bangsat Permanen yang terlihat kebingungan di selasar dekat pintu masuk. Dari gesturnya yang gelisah sambil menenteng plastik hitam, lengkap dengan sedotan, saya bisa menebak jika malam ini ia kekurangan substansi kimia. Serakah.
Sudah minum banyak masih merasa kurang. Lupa diri. Lupa rusa. Hasrat mencekok diri sendiri termasuk kawan yang datang tak bisa diredam. Dasar keparat. Permanen. Saya merasa jadi korban.
Tak banyak meracau. Stimulasi tengik slora fauna mulai bekerja. Rusa makan anggur. Transformasi glukosa menjadi energi seluler. Respirasi anaerob. Etanol. Bedebah. Matanya terlihat sayu dibalik kacamata minus yang memantulkan cahaya pentas.
Menyeringai tajam pada Mooner yang sedang tampil, sebuah supergrup lokal yang tak lain merupakan kongsi antara Marshella Safira (Sarasvati), Absar (The Slave), Rekti (The Sigit), dan Tama (Sigmun).
Selain apotek resmi dan perseorangan, salah satu yang jadi favoritnya adalah A.K.A. Sebuah akronim dari Apotek Kali Asin. Musik rock purba. Mooner berhasil menarik perhatiannya. Namun, ia masih terus berharap akan ada keajaiban.
Ia menelan ludah, seraya Mooner memainkan “Serikat” dan “Gelar”. Sigaretnya tertinggal diluar. Mampus. Rasakan tengik dan asamnya flora fauna di dalam mulut yang tak pernah sekolah. Entah sudah berapa kali melirik ke arah Rickenbacker yang digunakan orang berambut panjang di atas panggung.
Peduli setan seri berapa yang dipakai. 4001 atau 4003? Otaknya disfungsi. Stimulasi audio visuali berlajut. Ia tersadar. Sialan, itu nomor milik The Slave. Bagaimana nasib komplotan rock linting itu? Entah. Pertanyaanya perlahan pudar ketika set ditutup dengan “Ingkar”.
Membuat jinak libido dan hasrat untuk senang-senang adalah tujuan utama Bangsat Permanen. Selain bahan masturbasi, ia butuh alat bantu sekunder. Sedikit suntikan di hidung. Beberapa miligram di bawah angka satu. Boleh lebih. Padat. Cair. Atau apa saja. Ia tak peduli. Untuk saat ini, menjadi tenang adalah hal mustahil. Terus berharap.
Jeda beberapa menit ia pakai untuk membuka ponsel. Satu-satunya lubang kancing yang bisa dipercaya telah dilahap trend hijrah. Cari lubang lain. Ia tetap ngotot. Sembrono. Resiko dilumat kebengisan coklat dan kroco-kroconya jadi nomor tiga. Nomor satu dan dua adalah Komunal dan senang-senang.
Hingar bingar terdengar dari luar. Sial, itu Komunal gumamnya dalam hati. Tak perlu pikir panjang, lupakan substansi, ini waktunya heavy metal. “Ilmu Tentang Racun” didaulat menjadi pembuka. Bajingan Permanen sontak lari ke barisan depan. Tak ada lagi rasa “masih kurang” dalam diri.
Bersenang-senang dengan musik adalah kesukaannya. Kover album GMP dengan ukuran raksasa yang jadi dekorasi terlihat gagah. Tapi album favoritnya adalah “Panorama”. Tunggu sampai repertoar selanjutnya dimainkan. “Demi Kau dan Semua Mati”. Ia kegirangan. Tukar keringat. Melompat ke kerumunan. Bayar nyawa dengan belati, takkan cukup puaskan hati.
Bajingan Permanen belum puas. Ia keluar dari auditorium. Diiringi “Hitam Semesta” yang sedang dimainkan. Nomor yang jarang dibawakan secara live. Joe (Terapi Urine) ikut kolaborasi naik panggung. Bermain gitar. Sial.
Flora dan fauna membuat kepalanya berat. Bukan pilihan tepat. Kawannya datang dari arah pelataran parkir, membawa pesanan. Juru selamat. Untuk malam ini Bajingan Permanen boleh masturbasi. Harapannya sejak tadi dapat terpenuhi. Senang-senang, sampai mampus sekalipun. Ia mulai menenggak ganda sekaligus. Satu miligram. Anak setan.
“Higher Than Montain II” dari album kedua dimainkan secara full band. Lagi-lagi sebuah momen jarang. Bajingan Permanen boleh tenang kali ini. Sampai pada beberapa repertoar selanjutnya ia terus baris di depan. Mulai berani kurang ajar. Lepas kontrol. Naik pentas merebut mikrofon yang digenggam sosok Doddy Hamson yang telanjang dada. Lalu lompat ke kerumunan.
Bersama penonton lain yang tak kalah kurang ajar, ia berfikir jika malam ini adalah miliknya. Saya pun merasa begitu, malam ini adalah miliknya dan kerumunan orang disekitarnya. Tak ada hal yang lebih epik ketika “Dalam Kerinduan” dibawakan dua kali. Ini Heavy Metal. Yang kedua menjadi encore, sekaligus menutup penampilan Komunal.
Huru-hara. Hura-hura. Semuanya selesai. Batang hidungnya tak lagi terlihat. Bangsat Permanen. Saya pun duduk di di pinggiran bekas area moshpit, tiba-tiba Masdod menyapa. Ia baru keluar dari belakang panggung. Ucapan terima kasih keluar dari mulutnya, “Wah, Dimas! Terima kasih sudah datang, apa kabar?”
Jabat tangan. Mengobrol. Saya menanyakan perihal album baru Komunal. “Sabar aja, belum dapet waktu buat produksi,” ujarnya sambil tertawa. “Semoga bisa cepat-cepat.”
Itu memang sebuah keharusan. Tapi, semenjak sempat merasakan macam-macam kendala sebuah produksi album…ah sialan, baiklah. Sabar. Kemudian datang para bajingan yang tadi ikut pesta. Minta legalisir rilisan. Saya memilih beranjak untuk menyapa yang lain.
Sebelum meninggalkan venue, tujuan selanjutnya adalah toilet. Sepi. Tak ada orang. Bajingan Permanen yang tadi sempat menghilang terlihat lagi. Saya mencoba mendekati cermin. Sialan. Terpaksa meyakini jika hal itu memang benar.
Saya masih ingat wajah planga-plongo satu miligramnya. Dasar anak setan. Saya tak peduli. Yang penting, kali ini Liga Musik Nasional berhasil “menang” lagi. Telak.
*(liputan ini diposting ulang dari surnalisme.com)
DOKUMENTASI FOTO
DOKUMENTASI VIDEO