A STONE A | SENYAWA | 18 JANUARI 2020 - BALE HANDAP SELASAR SUNARYO ART SPACE BANDUNG
ARTIKEL
Profil Senyawa dan AStoneA
Senyawa adalah adalah projek musik etnis kontemporer yang diciptakan oleh Rully yang punya akar skena musik rock eksperimental, dan Wukir yang sangat setia pada musik tradisional.
Mereka berdua, bertemu pada edisi ketiga dari Yes No Klub pada tahun 2010. Saat itu, Wok The Rock meminta Rully untuk berkolaborasi secara spontan saat Wukir tampil. Menemukan ketertarikan yang sama, sejak saat itu Rully & Wukir mulai merekam komposisi buah kolaborasi mereka, yang diberi nama Senyawa.
Dalam musiknya, Senyawa mewujudkan unsur aural musik tradisional Indonesia sekaligus mengeksplorasi kerangka praktik musik eksperimental yang menghasilkan keseimbangan sempurna antara pengaruh avant-garde dengan warisan budaya tradisional.
Selain memainkan alat musik buatannya yaitu Bambuwukir, Wukir juga menggunakan seruling buatannya sendiri yang ia beri nama Serunai. Sementara Rully bernyanyi dengan aneka ragam gaya tradisional baik dari Jawa, Bali, Sumatera, Tibet hingga Afrika dan Amerika Selatan.
Rully Shabara adalah frontman dan vokalis dari Zoo, band math-rock/noise-rock/experimental dari Yogyakarta. Wukir Suryadi dikenal karena menciptakan instrumen sendiri yang ia beri nama Bambuwukir. Instrumen bambu ini mengingatkan kepada instrumen Sasando dari Rote, sebuah pulau bagian dari provinsi Nusa Tenggara Timur.
Mereka telah berkolaborasi dan tampil dengan banyak musisi terkemuka seperti Yoshida Tatsuya, Otomo Yoshide, Lucas Abela, KK Null, Keiji Haino, Rabih Beiani, Trevor Dunn, Greg Fox, Sophia Jernberg, Arrington De Dionysus, Melt Banana, Jon Sass, Damo Suzuki, Jerome Cooper, Oren Ambarchi, David Shea dan Kazu Ushihashi.
Profil dipinjam pakai dari yesnowave.com
#senyawamandiri #senyawadasawarsapertama #selasarmusikvol2 #limunasspesialshow #syarikatdagangproject
=======
AstoneA berawal dari sebuah proyek visual yang merespon fenomena musik rock n roll revivalist yang ramai di awal tahun 2000an, di bentuk oleh oleh Andry Moch.(Alm.) Muhammad Akbar, Erwin “Ewing” Windu Pranata & Ori Oriantori pada tahun 2003 di Kampus Universitas Pendidikan Indonesia (UPI), menyusul Mufti “Amenk” Priyanka bergabung di tahun berikutnya, mereka memilih untuk mengeksplor bentuk-bentuk produk-produk visual dari sebuah band bergenre noise Rock.
Setelah lama berkutat dengan medium visual, AstoneA mulai bereksplorasi dengan medium bunyi melalui alat-alat musik mainan koleksi Andry dengan panggung pertamanya di festival performance art bernama Dance on Fire dan mulai memproduksi musik punk (Album Super Hebred 2004) yang kental dengan distorsi dan improvisasi hingga mulai tampil di panggung-panggung seni rupa dan musik independen di Bandung, Jakarta & Jogjakarta.
Posisi Ori sempat diganti oleh Rulli Satrio dan Deni ‘Gedang’. Pada formasi terakhir Ewing, Akbar & Amenk membebaskan pilihan berkarya sebagai kolektif seni menggunakan medium visual, bunyi, musik dan performance.
[Rockstagejournal] Senyawa : Dasawarsa Pertama. Pengalaman Trendesial dan Magis
Malam itu Bandung baru saja diguyur hujan di beberapa titik. Saya yang baru saja pulang dari tempat saya bekerja sedikit menimang, pukul berapa saya akan menuju Selasar Sunaryo, tempat diadakannya sebuah gelaran yang cukup langka untuk bisa disaksikan, tepatnya pada Sabtu (18/01/2020) lalu.
Ternyata prediksi saya untuk segera sampai di daerah Dago Atas sedikit salah. Saya baru bisa hadir di sana tepat ketika A Stone A, band Noise/Art Rock/Experimental yang digawangi oleh Mufti Priyanka (Amenkcoy), Erwin Windu Pranata dan M. Akbar, band yang beberapa waktu yang lalu sempat hiatus karena ditinggal salah satu personel dan foundernya yakni Andry Moch (alm). Mereka akhirnya turun gunung kembali dan didaulat sebagai opening act menemani Senyawa yang pada malam itu didaulat sebagai sang empunya acara.
Saya sampai di Selasar Sunaryo tepat pada pukul 20.00 WIB. Suasana di luar venue terlihat agak sepi. Hanya saja ada perasaan–perasaan aneh seperti hendak ikut ke dalam sebuah acara pengukuhan sekte tertentu. Saya masuk ke venue tepat saat M. Akbar baru saja menyelesaikan setnya. Dari apa yang saya lihat-lihat, setelah acara selesai saya melewatkan momen di mana Erwin memainkan sebuah alat musik dari sapu ijuk, ya lalu lintas Dago Atas yang padat di setiap weekend khususnya di Sabtu malam memang cukup mengganggu akhir-akhir ini, yang kadang membuat saya enggan untuk pergi ke daerah kota saat weekend tiba.
Tak berselang lama, Amenk dan Erwin kembali berdiri di atas set nya. Amenk menggunakan jubah hitam, sedangkan Erwin berkalungkan keyboard portable di belakangnya. Lalu musik pun dimulai, segera Amenk membacakan sebuah cerita muda-mudi yang panas membara. Sedangkan Erwin menulis puisi di belakangnya. Sebuah performance art yang cukup membuat saya kagum dan bergeleng-geleng. Sayang hanya satu performance itu saja yang sempat saya rekam dalam kepala, berharap esok ada kesempatan lagi untuk menonton kembali A Stone A dengan set yang lengkap dari awal hingga akhir.
Tepat pukul 20.15 WIB, set A Stone A berakhir. Saya lekas beranjak menuju pendopo. Saya penasaran dengan alat yang dibuat oleh Mas Wukir Suryadi sehingga saya ingin melihatnya dari dekat. Dari apa yang saya baca, soal bagaimana Senyawa adalah band yang harus dilihat performancenya, saya harap-harap cemas apakah konser malam ini akan berakhir dengan senyuman? Namun dari pengalaman saya terdahulu saat menonton band Mas Rully Shabara di Zoo. Tepatnya ketika bermaini IFI dalam gelaran Netlabel Audio Festival tahun 2014 silam, membuat saya yakin bahwa datang dan hadir serta menonton Senyawa adalah keputusan tepat yang telah saya lakukan.
Dupa telah dinyalakan, sesajen sebagai penghormatan kepada alam dan syukur kepada Dewa Dewi pun sudah ditaruh tepat di atas panggung. Malam ini menjadi malam yang sakral laksana Upacara Penyambutan mereka secara “resmi” di Bandung akan segera dimulai. Memang secara catatan historis ini adalah kali kedua Senyawa bertandang ke Bandung, setelah sebelumnya pada tahun 2011 mereka datang bersama dengan Terbujurkaku dalam sebuah Tur Residensi Experimental bernama Tur Singa dan Malaikat di Common Room yang legendaris itu dengan seorang Artist dari Amerika bernama Arrington de Dionsyo.
Set yang sederhana, tata lampu dan sound yang baik juga permainan asap yang tidak berlebihan membuat suasana menjadi semakin magis. Senyawa memulai set dengan menyanyikan “Terbaktilah Tanah Ini (Blessed Is This Land)” yang diambil dari track pertama album Sujud yang rilis pada tahun 2018 silam. Yang mana mendapatkan nilai 7,8 dari Pitchfork dan melabeli album ini sebagai album yang harus didengar karena mereka berani untuk bermain dengan suara-suara yang unfamiliar–hasil dari semua alat musik yang khusus diciptakan oleh Wukir Suryadi. Di mana dalam pengaplikasiannya dalam satu alat musik bisa menghasilkan berbagai macam suara ditambah dengan permainan olah vokal oleh Rully Shabara.
Ia bisa menggeram, bernyanyi dengan anggun, atau dengan gagah pun ia bisa membuat suara lengkingan tinggi, akan tetapi tidak menyakitkan di telinga. Berturut-turut Senyawa membawakan Air, Hadirlah Suci, Tanggalkan Di Dunia (Under The World) yang dibawakan tanpa cela. Bahkan pada lagu Tanggalkan Di Dunia, saya menggumamkan lirik “tanggalkan lah segala di dunia, tanggalkan lah segala di dunia” berulang-ulang dan membawa saya mengalami sebuah pengalaman yang tidak pernah terlupakan bahwa musik dapat membawa saya memasuki sebuah pengalaman baru yang akan susah saya ulang.
Bukti bahwa band ini adalah band yang penuh dengan pengalaman dan ilmu, juga hasil dari kerja keras untuk menghasilkan karya yang baik. Senyawa berani untuk menjadi diri sendiri tanpa harus mau dikotak-kotakkan dengan genre tertentu. Dan bahkan percaya bahwa karya yang dihasilkan akan menemukan penggemarnya sendiri tanpa harus membuat gimmick tertentu terasa sekali.
Hasil dari satu dasawarsa mereka melanglang buana, Senyawa membawakan hampir 20 lagu dalam waktu kurang lebih 1,5 jam. Dan saya melihat sendiri bagaimana pengalaman tur mereka di berbagai penjuru dunia dan bermain di depan banyak orang. Di festival pun berkolaborasi dengan banyak sekali artist membuat penampilan mereka prima tanpa cela sedikit pun. Mulai dari preparasi alat yang cukup cepat, suara Rully yang dari awal set dimulai hingga akhir yang kualitasnya terus terjaga sehingga membuat set mereka menjadi tidak terasa lama bahkan rasanya buat saya pribadi menjadi konser awal tahun yang akan susah dicari lagi bahkan saya ulang lagi rasanya.
Lewat sebuah duo yang terjadi akibat ketidaksengajaan dari sebuah kolaborasi dadakan dalam sebuah acara, hingga menjadi sebuah duo yang akan selalu ditunggu penampilannya. Senyawa membuktikan bahwa segala hal yang terjadi selama satu dasawarsa ke belakang adalah sebuah perjalanan singkat yang masih akan mereka jalani ke depan.
Saya akan menunggu bagaimana perayaan Dasawarsa Kedua mereka nanti, dan berbagai macam kejutan yang akan mereka bawa nantinya. Satu hal yang pasti, Senyawa akan terus dan terus melaju. Sekali lagi Limunas membuktikan bahwa kejelian mereka dalam memilih siapa yang akan menjadi penampil dalam acara mereka adalah keputusan yang jitu. Saya pun akan selalu menunggu siapa lagi yang akan mereka ajak ke atas panggung dan akan selalu bahagia menjadi bagian dari keluarga yang semakin besar dan besar tentunya. Tabik!
Penulis : Made Yana (@madejerk)
[Heartcorner Collective] Senyawa Dasawarsa Pertama, Bandung 2020
Buatmu apa arti dari sebuah dasawarsa ? Apakah dasawarsa hanya sebuah waktu yang berjalan maju namun tidak terasa apapun ? Atau sebuah waktu yang panjang, membuatmu sesak dan memberikanmu banyak pengalaman hidup yang berguna bagi kehidupanmu sekarang ? Pertanyaan yang sama juga mungkin terukir dalam benak Rully Shabara dan Wukir Suryadi dari Senyawa. Tahun ini adalah tahun kesepuluh mereka menjadi sebuah duo yang terjadi secara tidak sengaja di pertengahan tahun 2010, di sebuah acara musik garapan Yes No Wave.
Dan selama itu, mereka menemukan jalannya menjadi sebuah grup yang melanglang buana tanpa sekat dan jarak dengan karya yang orisinal, melawan pakem musik modern khususnya musik pop. Dan hasilnya adalah grup ini terkenal di seantero jagad, membuat dan berkolaborasi karya dengan banyak musisi hebat dan memiliki album yang bagus, baik secara produksi, instrument yang tidak akan ditemukan di band lain juga dengan kepiawaian Rully dalam merekam bebunyian dari mulutnya.
Ini perjumpaan kedua saya dengan Rully, setelah di tahun 2014 saya beruntung menonton bandnya yang lain, Zoo, pada acara Netlabel Audio Festival tahun 2014 di Bandung. Saya sendiri tidak begitu asing dengan Zoo, karena saya sering mampir di web Yes No Wave, dan menemukan banyak band – band seru disana, salah satunya adalah Zoo yang kalau tidak salah baru merilis album Prasasti tahun itu.
Hanya saja music Zoo masih begitu asing di telinga saya, bebunyian yang rancak, olah vocal yang cukup aneh di telinga, dan tema yang diambil sebagai dasar pembuatan album yang buat saya waktu itu adalah suatu tema yang “berat”. Namun saat mereka bertandang ke Bandung untuk pertama kalinya tahun itu, saya berjanji didalam hati akan datang dan menonton pertunjukannya. Sebuah janji yang akhirnya membawa saya mengenal bagaimana sebuah karya yang dibawakan di atas panggung akan menjadi suatu pengalaman yang tidak akan pernah terlupakan.
Berdasarkan hal itu juga, akhirnya tanpa pikir panjang saya memutuskan akan menonton pertunjukkan Senyawa : Dasawarsa Pertama ini, di hari sabtu kemarin. Namun akibat kepadatan jadwal saya sebagai budak korporat, saya baru bisa membeli tiket pertunjukan tersebut sehari sebelum pertunjukannya dimulai. Beruntungnya saya, tiket yang saya beli adalah tiket terakhir pre-sale yang dijual. “Rejeki ngga kemana”, ucap saya dalam hati. Dan pada sabtu malam saya langsung menuju ke Selasar Sunaryo, sialnya saya melewatkan setengah dari aksi AStoneA yang didaulat menjadi Opening Act pada malam itu akibat kemacetan di daerah Dago Bawah dikarenakan banyaknya orang-orang yang malam itu akan menikmati weekend.
Saya masuk bertepatan saat Amenkcoy dan Ewing akan memainkan set terakhirnya, membawakan musikalisasi cerita erotis. Amenkcoy malam itu yang berkostum macam cover album Barasuara, sibuk bersaut-sautan dengan gebukan drum electronic yang dibawakan oleh Ewing. Menceritakan sebuah romansa segitiga yang dibumbui dengan pergulatan hasrat yang menggebu, Amenkcoy berhasil membawa saya terhanyut dengan cerita tersebut, namun hanya sebentar. Di saat saya sedang mengawang membayangkan sebuah romansa antara tiga orang muda-mudi tiba tiba set ditutup dengan klimaks, menyisakan kepenasaran saya akan judul dari buku yang dibaca oleh Amenkcoy tersebut.
AStoneA menutup set tepat pada pukul 20.15 menit. Setelah set A Stone A berakhir saya langsung berpindah ke depan panggung, di sebuah pendopo yang malam itu seakan menjadi tempat sakral dimana sebuah Upacara Penyambutan akan segera dilaksanakan. Menurut info memang ini adalah pertunjukkan “Resmi” pertama Senyawa di Bandung. Namun pertama kali mereka bermain di Bandung yakni pada tahun 2011, saat Wukir Suryadi melakukan resindensi dengan artis experimental dari Olympia, Washington yakni Arrington de Dionsyo dalam tur Malaikat dan Singa ditemani oleh Terbujurkaku di Commonroom.
Tak berapa lama, tim dari Senyawa gesit mempersiapkan alat yang akan mereka pakai malam itu. Persiapan yang tangkas dan cepat membuat pertunjukkan dimulai tepat pukul 20.30, sesuai rundown. Dibuka dengan track Terbaktilah Tanah Ini, saya melihat langsung bagaimana kepiwaian Rully dalam merangkum bunyi yang keluar dari mulutnya: suara geraman, lengkingan, dan harmonisasi vocal luwes dibawakan olehnya, pun dengan suara musik yang “kaya” dari alat music yang dimainkan oleh Wukir.
Membuat malam itu (jika boleh meminjam dari captionnya Limunas) adalah sebuah pengalaman trandensial yang cukup magis. Saya yang meskipun pada saat yang bersamaan menikmati pengalaman tersebut sambil merekam mimik dan pengalaman menikmati musik mereka dalam kamera tetap saja membuat saya merinding ditambah dengan tata lampu dan permainan asap yang tidak berlebihan membuat suasana yang dibangun semakin magis. Kembali saya ingin menyalami tim lightning dan sound dari “Backstage Boys” Limunas yang malam itu bekerja dengan sangat sangat maksimal.
Pengalaman, ilmu dan bagaimana kerja keras mereka dalam menghasilkan suatu karya yang baik tanpa ingin dikotak-kotakkan menjadi sebuah genre tertentu menyadarkan saya bahwa konser ini adalah sebuah pengalaman yang mahal dan tidak akan saya lupakan seumur hidup. Set Senyawa malam itu banyak didominasi album Sujud, album Reharsal Session yang baru saja dirilis oleh Orangecliff Records yang banyak berisi lagu-lagu dari album Menjadi yang mereka rekam ulang di Studio Senyawa, beberapa lagu dari album Acaraki dan selain itu ada beberapa lagu dari album–album kolaborasi seperti lagu Anak Kijang yang ada dalam album “I Said No Doctors” bikinan Dymaxion Groove sebuah label dari New York yang merekam berbagai macam band–band seru yang dalam membuat musiknya mereka “merusak atau membuat sebuah alat musik tertentu untuk menghasilkan sebuah karakter yang unik atau sebuah metode pembuatan musik yang tidak pernah terpikirkan sebelumnya”.
Malam itu Senyawa membawakan hampir sekitar 20 lagu termasuk sebuah lagu encore yang diberikan oleh Rully dan Wukir sebagai penghormatan kepada Selasar Sunaryo karena sudah memberikan tempat kepada mereka untuk menyelenggarakan sebuah konser yang epiK. Dan benar pengalaman menyaksikan sebuah konser yang bermutu adalah pengalaman yang tidak akan pernah terlupakan, sehingga hingga hari ini euforianya masih terasa. (MY)
Made Yana adalah reporter tamu di laman heartcorner.net yang bertugas melaporkan gigs di Bandung dan sekitarnya.
[ROI-Radio] Ikrar Senyawa di Dasawarsa Pertama
JANUARY 19, 2020
Hal baik baru saja hadir di awal tahun ini. Senyawa, unit etnis kontemporer asal Yogyakarta, menggelar hajatan akbar dalam rangka merayakan perjalanan bermusik mereka yang telah menginjak usia sepuluh tahun. Pencapaian yang luar biasa, karena di sana telah bersemayam konsistensi dan segala pertaruhan dalam ragam rupa.
Kabar ini cukup terdengar di perbincangan kecil pelaku seni. Ketika Limunas, akronim dari Liga Musik Nasional, secara resmi mengunggah jadwal tur mandiri Senyawa, akhirnya kita semua tau; Jakarta, Bandung, dan Jatiwangi menjadi tempat perhelatan yang dipilih. Selang satu hari di tiap kota, berlangsung pada 17-19 Januari 2020. Fokus saya jelas tertuju pada Bandung. Helatan di kota ini terintegrasi dengan event Selasar Musik Vol. 2, sebuah program kolaborasi antara Selasar Sunaryo Art Space dan Limunas, serta masuk dalam program Limunas Special Show. Syarikat Dagang, proyek kolaboratif antara Ruru Shop dan Omuniuum, juga berperan penting atas terselenggaranya Senyawa: Dasawarsa Pertama.
Bale Handap, Selasar Sunaryo Art Space, menjadi venue penyelenggaraan pentas perdana Senyawa di Bandung, pada Sabtu (18/1) lalu. Ya, betul, lawatan pertama kali. Sebuah kehormatan menjadi salah satu individu yang turut merayakan dasawarsa pertama sekaligus menyongsong dasawarsa selanjutnya bagi Senyawa. Bagaimana tidak, buat saya, penamaan tur ini menjadi ikrar bagi duo Rully Shabara dan Wukir Suryadi. Tak ada yang tau perjalanan mereka nanti, namun bila ada yang ‘pertama’, tentulah akan ada yang ‘kedua’ ataupun berikutnya.
Dalam babak di Bandung ini, AstoneA didapuk menjadi pembuka pentas. Kelompok seni yang terbentuk di tahun 2003 ini ‘dibangkitkan’ dari hiatus. Panggung kali ini momentumnya tepat, karena rasanya belum ada lagi band lokal Bandung yang bisa mengimbangi Senyawa dalam konsep dan penerapannya.
Set panggung mereka cukup kompleks, berbeda dengan apa yang ditampilkan dalam Pemandangan yang sederhana nan jenaka, tentu saja. Ewing memegang kendali atas alat musik petik yang dibuat dari sapu, parutan keju, dan benda-benda yang umum dijumpai. Juga drumset sederhana dan sebuah papan ketik. Akbar sepanjang pertunjukan duduk menghadap layar laptop memainkan porsinya. Sementara Amenk mengeruk bebunyian dari kanvas lukis berukuran 40×60 cm atau bisa saja salah karena saya tak ahli dalam hal menebak. Aksi membacakan puisi dengan jubah hitam pun menjadi lakonnya malam itu.
Bale Handap terbagi menjadi area pendopo dan tribun pada dua sisi. Jarak penonton dengan stage begitu dekat, karena sekitarnya diperkenankan untuk diisi sambil duduk bersila atau sesukanya. Menyaksikan AstoneA sedekat itu tentu saja memunculkan persepsi, malam seperti apa yang bakal dilalui.
Saya rasa penampilan AstoneA tak sekadar lalu. Mereka menyajikan pertunjukan seni yang intens; menggabungkan visual, bebunyian, aksara, pertunjukan, dan apa pun itu ke dalam kesatuan yang utuh. Output yang mengagetkan namun bukankah di situ letak seninya? Sampai bertemu lagi di panggung selanjutnya yang entah kapan itu bakal terlaksana.
Pukul delapan lewat tiga puluh, dan tak lama lagi panggung menjadi milik Senyawa sepenuhnya.
Sajen diletakkan tepat di depan area stage. Terberkatilah Tanah Ini menjadi sajian pembuka. Sebuah nomor dari album penuh paling anyar, Sujud (2018). Entah harus saya tuliskan bagaimana perasaan itu. Kali pertama menyaksikan Senyawa. Sesaat aktivitas memotret terhenti, menyimak secara saksama apa yang ada di depan mata.
Melihat kedua sosok yang disatukan oleh YesNoWave sepuluh tahun silam ini bisa langsung tergambar, begitu kentara paduan antara tradisional dan eksperimental. Selaras. Dan menyaksikan pertunjukan Senyawa tak ubahnya menyimak langsung proses kreatif mereka dalam bermusik, arena bereksperimen keduanya dalam masing-masing titik.
Wukir, tanpa alas kaki, dengan set alat buatannya yang umumnya kita sebut sebagai gitar, bambu, solet, dan mutant. Rully dengan seperangkat efek vokal dan dua buah mikrofon sembari membunyikan suara-suara dalam ragam khas, ragam tingkat, yang sulit bagi kita untuk memahami, bisa-bisanya ia mencapai titik itu. Ia paham dalam setiap detail, kapan ia harus mendekat, menjauhi, dan menentukan ke arah mana suaranya dilontarkan.
Berturut-turut materi lagu yang mereka kerjakan dalam rentang waktu 2010-2019 dibawakan, dengan energi prima, termasuk set-set panjang. Jeda hanyalah ketika Rully berhenti untuk menyapa dan menghaturkan terima kasih kepada kawan-kawan yang malam itu turut hadir. Ya, tiket pertunjukan babak di Bandung sepenuhnya habis. Bahkan dikonfirmasi oleh pihak Limunas, beberapa orang terpaksa putar balik karena tak ada lagi kemungkinan bisa masuk.
Di akhir penampilan, perwakilan dari Selasar Sunaryo Art Space memberikan sepatah pengantar. Sebagai bentuk penghargaan, Rully kembali meraih mikrofon dan menyuguhkan encore disambut para penonton yang kembali ke tempatnya semula. Entah tak menyangka atau bagaimana, Wukir tampak langsung bergegas menuju arenanya dengan sepatu Reebok GL 6000 hitamnya yang kadung terpasang.
Beberapa cendera mata yang dijajakan menjadi sesuatu yang wajib dimiliki oleh sebagian besar penonton. Tak lupa, rilisan terbaru Senyawa, Rehearsal Session 06/11/2019, yang dicetak dalam format kaset oleh Orange Cliff Records dan cakram padat melalui YesNoShop. Diskografi Senyawa dalam format fisik juga dipamerkan dalam etalase khusus.
Tur mandiri Dasawarsa Pertama benar-benar upaya yang teramat baik dari Senyawa untuk menghargai perjalanan bermusik sejauh ini. Sekalipun panggung mereka lebih banyak di luar negeri, mereka tak lupa berkontemplasi di tanah sendiri.
[Boit] Catatan Kecil dari Akhir Pekan Bersama Senyawa, AStoneA dan Bon Iver
Kamu tau bagian apa yang paling susah kalau mau menulis paska pertunjukan yang bagus? Meredakan euforia.
Dada masih rasa sesak oleh gembira. Hati masih penuh oleh rasa syukur. Bebunyian masih terngiang di kepala. Bangun pagi tadi rasanya masih seperti mimpi.
Hari ini, paska pertunjukan semalam, gw ke Jakarta untuk menonton Bon Iver. Berharap kembali memijak bumi mendengar Skinny Love dan Holocene. Menonton band yang dikomentari Mas Rully dengan “Oh, Justin” ketika gw bilang bahwa gw ga bisa ikut ke Jatiwangi karena mau nonton band temennya Mas Rully, ampun mas.
Dan setelah gw nonton Bon Iver, mohon maaf, meski pertunjukannya bagus tapi ternyata pesonanya masih kalah oleh pertunjukan kecil yang hangat di Bale Handap Selasar Sunaryo, dengan jumlah penonton sekitar 180 orang yang gw yakin komposisinya 60% saling kenal satu sama lain dan harga tiket hanya 10% dari harga tiket standing festival nonton mas Justin Vernon tapi dengan nilai pengalaman yang 100% bahkan 200% lebih berharga.
Mohon maaf sekali lagi, tapi Pertunjukan A Stone A dan Senyawa mengantar gw melintasi dimensi, mematahkan logika dan melewati batas ruang.
Bagaimana bisa, tiga orang di hadapan penonton; yang satu, pegang garu plastik, satu orang lagi corat-coret kanvas dan satu lagi menghadap komputer seperti petugas kelurahan begitu sungguh-sungguh bilang pada penontonnya bahwa yang mereka lakukan adalah menciptakan komposisi bunyi yang dipanggil musik. Satu babak lainnya, malah teks stensil enny errow berhamburan dari sosok seperti hantu diiringi drum elektrik dan masih dengan petugas kelurahan yang sama. Menabrak semua pakem yang dipegang oleh seni musik, A Stone A menampilkan diri untuk dipuja atau dicaci. Mereka ini sekumpulan pemusik, pelawak, perupa atau bocah kekurangan mainan, semuanya diserahkan kendalinya secara penuh pada penonton. Banyak dari kami tertawa, berdecak kagum dan hormat pada A Stone A dan komposisinya malam itu. Pada konsep “Paralone”, pada Ewing, Akbar dan Amenkcoy yang membuka pertunjukan dengan sempurna untuk menyaksikan Senyawa.
Rully Shabara dan Wukir Suryadi adalah Senyawa. Yang ketika gw mulai menulis di mobil dalam perjalanan pulang, lagunya minta diganti karena terlalu horor di kilometer 90 dalam perjalanan kami pulang menuju Bandung diiringi hujan yang berhenti ketika lagunya diganti.
Malam itu di Bale Handap Rully dan Wukir menyihir penonton dengan suara-suara purba, seakan meminta waktu untuk berhenti sejenak, memusatkan seluruh pikiran dan jiwa raga utuk menyaksikan penampilan mereka.
Gila. Bersebelahan dengan Mas Dholy sedari awal pertunjukan, kami berdua sama-sama mengalami peristiwa berdirinya seluruh bulu kuduk dan tidak berhenti hanya di satu lagu. Musik di tangan mereka, menembus batas dan waktu. Membawa kami melintasi dimensi. Tak berhenti berdecak kagum, berteriak demi meluapkan energi. Kalian ini, sesungguhnya terbuat dari apa?
Senyawa merampok seluruh emosi, kata-kata dan mungkin sebagian dari jiwa. Menaruhnya di sebuah titik kecil di semesta. Membisikan mantra-mantra, “hidup adalah tanah kami. Mandiri adalah yang kami cari.”
Dan Bon Iver mengembalikan gw ke bumi. Dengan selembar tiket hasil print sendiri, antrian yang semi manusiawi mengular melewati berbagai logo menyaksikan musik sebagai komoditi.
Mengutip Farid Stevy ketika manggung bersama FSTVLST di #limunasxv dan mengatakan bahwa Limunas adalah peristiwa, malam itu di Bale Handap, gw harus menggenapi pernyataannya dengan “pertunjukan sesungguhnya hanya bisa jadi peristiwa, ketika batas antara pembuat, pengisi dan penikmat lebur menjadi satu” dan #senyawadasawarsapertama, juga termasuk peristiwa.
Demi kewarasan jiwa raga, dalam perjalanan pulang ke rumah usai pertunjukan Senyawa, gw sempat menyematkan tanda di linimasa,
Transendental. Pertunjukan @Senyawa1 di @Selasarsunaryo tadi bukan lagi naik kelas tapi naik dimensi. Beruntung sekali jadi bagian dari spesial show @limunas malam ini. 🌹
Selamat menjelajah tanah air, Senyawa. Sebarkan semangat kemandirian untuk dasawarsa ke depan. Terima kasih untuk singgah di Bandung.
[Insan Kamil] Senyawa : Menyaksikan Dasawarsa Pertama di Milenium Ketiga
https://medium.com/@amongjagat/senyawa-menyaksikan-dasawarsa-pertama-di-milenium-ketiga-c20f644ed804
Hitungan waktu dalam rentang 10 tahun biasa kita sebut dengan dekade atau bisa juga disebut dengan sebutan dasawarsa. Satu dasawarsa dimulai pada hitungan tahun yang berakhir dengan angka 0 dan berakhir pada tahun yang berangka 9. Tahun ini, 2020 menjadi sebuah penanda hitungan baru dalam hitungan millennium, kita kini berada di millennium ke tiga sejak tahun 2000.
Memulai dasawarsa yang baru ini saya dihantui oleh ketakutan dan kekhawatiran. Belum genap bulan Januari ini diakhiri saya merasa dipertontonkan banyak hal yang mengerikan setiap harinya. Dimulai Kegaduhan terbunuhnya pejabat militer Iran oleh serangan militer Amerika, meningkatkan permusuhan laten Amerika-Iran yang merembet pada asumsi akan pecahnya perang dunia ke tiga, lalu bencana yang terjadi diberbagai tempat, dari banjir Jakarta yang tak usai-usai sampai kebakaran hebat yang melanda Australia, dan masih banyak orang berjuang mendapatkan haknya yangterenggut oleh rezim oligarki dan kapitalis. Sial, itu baru tiga yang bisa saya tuliskan tentang hal yang mengerikan yang saya lihat. Diluar kejadian-kejadian tersebut tentu banyak dharma atau kebaikan yang terjadi setiap harinya. Cukup disitu, jika terus menerus menuliskan kejadian itu saya akan lupa bahwa akan menulis tentang konser Senyawa dalam tajuk “Dasawarsa Pertama”.
Dalam tulisan pengantar tur ini, bagi Senyawa, Dasawarsa pertama ini bukan hanya menghargai tentang perjalanan yang telah dilewati, tetapi juga untuk memberi tanda apa yang akan dijalani, sepuluh tahun kedepan. Mereka pun berpandangan, ditengah derasnya arus informasi, carut marutnya dunia, hal dan upaya yang dilakukan sekecil apapun untuk bisa mandiri dan punya daya hidup adalah sesuatu yang harus terus menerus dijalani dan dilakukan.
Helatan tur Senyawa di Bandung sendiri diselenggarakan di Selasar Sunaryo Art Space (18/01) setelah sebelumnya dibuka di Gudskul, Jakarta, dan akan berakhir di Jatiwangi Art Factory. Di Bandung, Senyawa didampingi band pembuka yakni AstoneA, sebuah band yang beranggota Muhammad Akbar, Erwin “ewink” Windu Pranata dan Mufti “amenk” Priyanka. AstoneA tampil dengan berbagai instrument, pada track pembuka Ewink memegang sebuah sapu yang Ewink sebut sebagai “Tarkam” (read: gitar kampung) yang telah dia gubah menjadi instrument gitar, lalu amenk berdiri didepan kanvas melakukan eksplorasi bunyi yang dia buat dengan kanvas, sedangkan Akbar duduk berkemeja batik didepan sebuah laptop.
AstoneA membawakan dua komposisi musik malam itu, “Tertidur” dan “Isyarat Kemapanan”, diperform terakhir Ewink sudah berpindah instrument dengan sebuah keryboard yang dikalungkan di lehernya, dan memaikan set drum electric. Amenk melakukan sebuah perform dengan menutupi seluruh badannya menggunakan kain hitam, sepanjak track musik membacakan cerita stensilan karya Enny Arrow. Sungguh memukau nan kontemporer sajian dari pembuka dari AstoneA.
Jika saya boleh mengutip pernyataan Prof Bambang Sugiharto pada sambutan diakhir konser Dasawarsa Pertama, pak Bambang berkata, “geraman primitiif dengan kecanggihan sufistik”. Bagaimana saya tidak setuju dengan pernyataan pak bambang memberikan sebuah pernyataan terhadap penampilan Senyawa malam itu. Sebuah perpaduan yang menciptakan sebuah karya musik yang entitasnya tidak akan bisa dibandingkan.
Senyawa malam itu bermain disebuah Pendapa (read: Pendopo) dibagian Bale Handap, Selasar Sunaryo. Pukul 20.30 Senyawa mulai memainkan nomor lagu “Terberkatilah Tanah Ini”. Wukir memainkan gitar pada nomor lagu ini. Diatas panggung Wukir memainkan empat instrument pada nomor lagu “Air, Hadirilah Suci, dan Pada Siang Hari” dia memainkan Bambu Wukir. Lalu pada nomor lagu “Bekal Ilmu, Putra Ombak, dan Di Kala Sudah” dia menggunakan Solet, dan pada dua nomor lagu “Everything dan Hidup Damai” menggunakan instrumen bernama Mutant. Wukir dan setiap intrumen yang dia mainkan merupakan elemen magis dari Senyawa.
Disisi lain, Rully Shabara membawakan semua nomor lagu dengan prima dengan teknik vocal yang dia kuasai dalam seluruh lagu Senyawa. Dua set mic biasa dia gunakan untuk mengahasilkan beberapa suara, dengan efek looping, desing,dll. Melihat apa yang dipertunjukan oleh Rully dengan suaranya, saya mengamati detail setiap dia menarik nafas, merapalkan lirik, sampai ke detail tatapan mata dan memainkan jari tangannya, saya rasa dia sangat mengagumkan.
Set Senyawa pada konser “Dasawarsa Pertama” malam itu didominasi album Sujud, lalu album Reharsal Session yang baru saja dirilis oleh Orangecliff Records, lalu beberapa lagu di album Menjadi, beberapa lagu dari album Acaraki dan selain itu ada beberapa lagu dari album — album kolaborasi seperti lagu Anak Kijang yang ada dalam album “I Said No Doctors” bikinan Dymaxion Groove sebuah label dari New York.
Dua puluh nomor lagu tuntas dibawakan oleh Rully dan Wukir malam itu, tuntas. Apa yang saya rasakan? Saya atau mungkin orang-orang yang menyaksikan Senyawa malam itu takjub tak terbantahkan. Sebuah sajian musik yang sangat berkualitas. Menyaksikan langsung mereka bisa dibilang sebuah keberuntungan, karena belum sebanyak panggung mereka seperti diluar Indonesia. Semua elemen penampilan dan suasana pendopo di Selasar Sunaryo membuat saya terkesan dan bergidik kagum. Menyaksikan panggung live mereka adalah sebuah keharusan, jika itu sekali dalam seumur hidup.
Diakhir, setelah menyaksikan konser “Dasawarsa Pertama”, saya melakukan refleksi dari pernyataan yang telah Senyawa buat, bagi saya menyaksikan Senyawa di Dasawarsa yang baru, adalah sebuah hal yang baik ditengah hal-hal yang membuat saya tidak nyaman. Dasawarsa Pertama menjadi awal sebuah perjalanan yang baik.
Bandung, Januari 2020
Insan Kamil
DOKUMENTASI FOTO
DOKUMENTASI VIDEO
Video courtesy of Fajar Rahman on Youtube